Kapan Hujan Mengguyur Indonesia? Ini Jawabannya | Makassar Today
Connect with us

Sains

Kapan Hujan Mengguyur Indonesia? Ini Jawabannya

Published

on

Kemarau panjang melanda. Terhitung sejak Juli 2015, hujan sepertinya enggan untuk turun. Hal ini tentu saja dikeluhkan banyak orang. Bukan hanya para petani yang gagal panen karena kekeringan. Melainkan masyarakat yang berdomisili di beberapa provinsi yang saat ini tengah dilanda asap.

Ya, Dapartemen Kehutanan bahkan memperkirakan luas areal kebakaran hutan tahun ini 38.000-40.000 hektare. Tidak heran jika sebagian warga masyarakat Indonesia menjerit karena asap.

Lantas, kapan musim hujan tiba? Dilansir Harian Pikiran Rakyat, Selasa 29 September 2015, berikut jawabannya.


Indonesia saat ini mengalami fenomena El Nino. Yang mana menurut BMKG, El Nino merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudara Pasifik yang lebih hangat dari biasanya. Kondisi itu mengakibatkan pembentukan awan dan hujan yang seharusnya terjadi di Indonesia berpindah ke atas Pasifik.

Pada saat yang bersamaan, biasanya terjadi fenomena IOD (Indian Ocean Dipole). Suhu permukaan laut di Samudra Hindia dekat Afrika lebih hangat dibandingkan suhu di dekat Sumatra. Akibatnya, pembentukan awan dan potensi hujan di Indonesia bergerser ke Afrika.

Lantas, kapan El Nino berakhir?

Fenomena El Nino diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2016, puncaknya akan terjadi pada November sampai Desember. Hujan akan menyapa pada awal Desember. Itu pun diperkirakan intensitas hujan di bawah normal.

Advertisement
Comments

Sains

Mesin Kecerdasan Bisa Gantikan Peran Ahli Sejarah

Published

on

By

Kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) ternyata bisa diajari melakukan suatu analisis berita. Sejauh ini manusia mengandalkan kata tertulis untuk mencatat apa yang kita sebut dengan sejarah.

Ketika para peneliti AI menelusuri triliunan kata itu dari beberapa dekade berita melalui analisis otomatis, maka lebih banyak lagi pola dan pengertian yang terungkap.

Suatu tim dari University of Bristol di Inggris menelusuri 35 juta artikel daro 100 koran lokal Inggris dengan rentang waktu 150 tahun menggunakan analisis konten secara sederhana dan proses pembelajaran canggih oleh mesin.

Ketika mesin “membaca” 30 triliun kata, demikian dikutip dari newatlas.com, analisis sederhana memungkinkan para peneliti untuk secara mudah dan tepat mengenali peristiwan-peristiwa besar seperti peperangan dan wabah penyakit.

Sistem yang serupa memungkinkan komputer untuk secara visual belajar tentang seni dan bahkan membantah suatu topik bahasan. Mungkin yang paling menarik adalah bahwa teknik itu juga memungkinkan para peneliti untuk menyaksikan bangkit dan jatuhnya tren-tren berbeda selama masa penelitian, dari 1800 hingga 1950.

Sebagai contoh, para peneliti bisa melacak surutnya mesin uap berbarengan dengan bangkitnya kelistrikan, yang garis sejarah keduanya saling bersilangan pada 1898. Demikian juga mereka bisa melihat bahwa kereta api menggantikan kuda sebagai sarana angkutan populer pada 1902.


Ketika menghubungkan orang terkenal dengan suatu berita berkaitan dengan profesi yang dipilih orang tersebut, tim peneliti mengungkapkan bahwa para politisi dan penulis memiliki kesempatan tertinggi untuk menjadi terkenal semasa hidupnya.

Kesempatan bagi para ilmuwan dan ahli matematika untuk menjadi terkenal tidak cukup besar, tapi, kalau ada yuang kemudian menjadi terkenal, maka ketenarannya bertahan lebih lama.

Dapat diduga, kaum pria lebih banyak mengisi berita pada masanya dibandingkan dengan kaum wanita. Namun demikian, peningkatan perlahan penyebutan perempuan-perempuan semakin terasa sesudah 1900.

Sepertinya kemajuan itu berlanjut secara perlahan, bahkan setelah melewati periode penelitian dan para peneliti mengamati bahwa tingkat bias secara gender dalam berita masa kini tidak terlalu berbeda dengan tingkat bias pada masa sebelumnya.

Walaupun analisa perangkat susunan besar data itu bisa memberikan pengertian tambahan yang menarik tentang sejarah, para peneliti tidak bermaksud merancang kecerdasan buatan (AI) agar segera mengganti peran para ahli sejarah.

Dr. Tom Lasndall-Welfare yang memimpin bagian komputasional untuk penelitian itu mengatakan, hal yang tidak bisa dibuat otomatis adalah pengertian tentang implikasi temuan-temuan itu bagi manusia.

“Yang satu itu masih tetap menjadi ranah ilmu-ilmu kemanusiaan dan sosial, tidak akan pernah menjadi ranah untuk mesin,” kata dia.

Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. (*)

Baca Selengkapnya
Advertisement

Terpopuler