Soeharto di Malam 30 September 1965 - Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Artikel

Soeharto di Malam 30 September 1965

Published

on

Soeharto berada di mana pada malam peristiwa pembunuhan jenderal TNI AD 30 September 1965? Dikutip dalam buku otobiografi Soeharto; Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, malam itu, Soeharto mengaku berada di RSPAD menengok anaknya (Tomy Soeharto) yang ketika itu berumur empat tahun sedang dirawat akibat terkena sop panas.

Saat itu merupakan detik-detik peristiwa G 30 S, dilakukan Kolonel Latief bersama Komandan Batalion Pasukan Kawal Istana Tjakrabirawa, Letkol Untung Samsuri. Dalam peristiwa itu, pada pukul 04.00 WIB, terjadi penculikan disertai pembunuhan, terhadap beberapa perwira tinggi Angkatan Darat (AD), yang dikenal sebagai Dewan Jenderal.

“Tanggal 30 September 1965. Kira-kira pukul 21.00 WIB saya bersama istri saya (Siti Hartinah) berada di Rumah Sakit Gatot Soebroto. Tomy dirawat di sana karena tersiram air sup yang panas. Agak lama juga kami berada di sana. Maklumlah, menjaga anak yang menjadi kesayangan semua,” kata Soeharto dalam buku otobiografinya.

Pada pukul 00.15 WIB malam, Ibu Tien menyuruh Soeharto pulang ke rumahnya di Jalan Agus Salim. “karena ingat kepada Mamik, anak perempuan kami yang bungsu yang baru setahun umurnya. Saya pun meninggalkan Tomy, dan ibunya tetap menunggunya di Rumah Sakit,” kisahnya.

Setiba di rumahnya, Soeharto mengaku malam itu bisa langsung tertidur dan belum mengetahui peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal tersebut. “Saya bisa cepat tidur. Tapi, kira-kira pukul 04.30 WIB tanggal 1 Oktober, saya kedatangan cameraman TVRI, Hamid. Ia baru selesai shooting film. Ia memberi tahu, bahwa ia mendengar tembakan di beberapa tempat,” katanya.

Namun menurut Dr H Soebandrio dalam bukunya yang berjudul: Yang saya alami Peristiwa G 30 S, Soeharto tidak langsung pulang ke rumah, setelah dari RSPAD. Tetapi menuju ke Kostrad menemui pasukannya yang mendukung gerakan G 30 S.

“Yang sebenarnya terjadi, tengah malam itu, dia tidak pulang ke rumah. Setelah melewati Jalan Merdeka Timur, dia melihat persiapan sekumpulan pasukan, lantas menuju markas Kostrad,” ungkap Soebandrio dalam bukunya, halaman 46.

Masih menurut Dr H Soebandrio yang juga mantan Kepala Badan Pusat Intelijen, di Makostrad, Soeharto melakukan rapat kilat dengan pasukan Kostrad yang mendukung gerakan Untung, dalam melakukan penculikan terhadap kelompok Dewan Jenderal.

Namun, apa yang dituturkan Dr H Soebandrio dalam bukunya itu berbanding terbalik dengan fakta sejarah yang diketahui kemudian. Dalam sejarah yang diketahui secara umum, setelah peristiwa G 30 S terjadi, Soeharto bergerak menghancurkan pasukan Untung, dan bisa mengambil alih kepemimpinan AD yang kosong.

Diceritakan Soeharto, pasukan Untung yang pertama kali dilumpuhkan, berada di Jakarta, yakni di gedung RRI dan kantor Telkom. Operasi merebut RRI dan Telkom itu dipimpin oleh Kapten RPKAD dan Kapten Urip. Serangan dilakukan habis magrib.

alterntif text

“Alhamdullilah, tidak sebutir pun peluru harus dilepaskan, dan RRI serta Telkom, sudah bisa kita rebut,” ungkap Soeharto, dalam bukunya, seperti yang dia paparkan kepada G Dwipayana dan Ramadhan KH, halaman 127.

Masih di hari yang sama, tengah malam, Soeharto memerintahkan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, untuk merebut Halim, tempat di mana Presiden Soekarno dan Ketua Central Committee (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit berada.

Menurut Dr H Soebandrio, Soekarno dan Aidit sengaja ditempatkan di Halim, agar keduanya terkesan bersekongkol dan terlibat G 30 S. Saat Sarwo Edhie merebut Halim, Soekarno dan Aidit sudah pergi dari tempat itu.

Dengan direbutnya RRI, Telkom, dan Halim, berarti pasukan Untung di Jakarta berhasil dilumpuhkan. Dengan begitu, menurut Soebandrio, kudeta tahap pertama yang dilakukan Soeharto dan kelompoknya selesai.

Namun, itu baru tahap awal. Sebab, kudeta tahap kedua masih ada. Kali ini, sasaran Soeharto selanjutnya bukan lagi para pemimpin AD, tetapi PKI, dan kekuatan para pendukung Presiden Soekarno, yang saat itu masih terasa kuat.

Masih dalam buku Dr H Soebandrio, langkah Soeharto untuk menghancurkan PKI adalah dengan memanfaatkan mahasiswa. Akhir 1965, Soeharto membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang terkenal dengan slogannya tritura atau tiga tuntutan rakyat.

Tuntutan pertama KAMI adalah bubarkan PKI, kedua bersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI, dan ketiga turunkan harga kebutuhan pokok. Organisasi ini kemudian dibubarkan Presiden Soekarno.

Kemudian, organisasi ini berdiri lagi dengan nama lain, yakni Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI). Sama dengan KAMI, organisasi ini juga didirikan untuk menyerang Presiden Soekarno, dan PKI.

Setelah menjabat Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Keterlibatan (Pangkopkamtib) dan menerima Surat Perintah 11 Maret 1965 lah, Soeharto baru benar-benar menghancurkan PKI. Setahun kemudian, tepatnya 12 Maret 1966, Soeharto membubarkan PKI.

Setelah itu, tiga pemimpin PKI yakni DN Aidit, Nyoto, dan Lukman ditangkap. Ketiga menteri di Kabinet Dwikora ini kemudian diadili, dan ditembak mati.

(Dari Berbagai Sumber)

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending