Pria Ini Pernah Melayani 9 Walikota di Makassar - Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Inspiratif

Pria Ini Pernah Melayani 9 Walikota di Makassar

Published

on

Namanya Petrus Pulu. Hampir semua pegawai di Gedung Balaikota Makassar mengenalnya. Jika anda pernah bertamu ke ruang kerja Walikota Makassar, maka sangat mungkin anda pun juga pernah berinteraksi dengan Petrus, minimal pernah menikmati suguhan kopi Toraja hasil racikannya.

Sehari-harinya, Petrus bekerja di dapur khusus yang berdekatan dengan ruang kerja walikota Makassar. Lelaki kelahiran Pinrang ini bertanggungjawab menyiapkan sekaligus menyuguhkan minuman kepada tamu walikota, termasuk membuatkan kopi sekaligus makan siang untuk Pak Wali.

“Saya sudah dua puluh sembilan tahun bekerja disini, dan sudah melayani sembilan walikota,” ujarnya.

Pengalamannya melayani sembilan walikota tentunya menjadi prestasi sendiri yang tidak dimiliki oleh pegawai manapun yang pernah berkarier di gedung Balaikota Makassar. Petrus mulai menapakkan kakinya di gedung Balaikota Makassar sejak eranya Jancy Raib pada tahun 1985, hingga walikota sekarang, Danny Pomanto. Baginya, setiap walikota yang dilayani memiliki cerita dan karakter unik yang akan terus tersimpan di memorinya.

“Pak Jancy Raib itu senang main domino. Biasanya, setiap usai memimpin rapat malam, Pak Jancy kerap mengajak kepala dinas atau camat untuk main domino. Kalau sudah begitu, artinya saya harus cepat ke jalan sungai carekang untuk beli ubi goreng dan sarabba. Menu ini wajib setiap acara domino berlangsung,” ujar petrus tertawa.

Lain lagi cerita Suwahyo, walikota yang yang menggantikan Jancy Raib pada tahun 1988. “Pak Suwahyo suka dengan gado-gado. Tapi yang paling favorit itu rujak cingor. Itu rujak jawa yang dulu hanya di jual di jalan ranggong. Tapi beliau juga sama dengan Pak jancy, suka main domino kalau malam hari,” lanjut ayah tiga orang anak ini.

Setelah enam tahun memimpin Makassar, Suwahyo selanjutnya digantikan Andi Malik Baso Masry pada tahun 1994. Pemimpin yang terkenal tegas dan penuh disiplin tinggi ini ternyata memiliki cukup banyak cerita yang tersimpan di benak Petrus.

“Pak Masry kesenangannya sarapan soto banjar plus leher ayam. Jadi tidak boleh kalau tidak pakai leher ayam. Makanya saya sudah pesan ke penjualnya untuk tidak dulu membuka warungnya sebelum saya datang. Takutnya leher ayam nya habis terjual sebelum saya tiba” ujarnya terkekeh.

Tugas Petrus ternyata bukan hanya soal isi perut. Setiap Malik keluar kota, petrus kerap dijadikan sebagai mata-mata yang bertugas mengawasi para pejabat di Balaikota Makassar.

“Pernah beliau tengah berkunjung di Amerika dan tiba-tiba menelpon di kantor. Perintahnya begini: Petrus, kamu coba cek dibawa, perhatikan siapa pejabat yang tidak hadir apel pagi kemudian laporkan kesaya. Saat saya turun kebawah, ternyata banyak pejabat yang tidak hadir. Tapi karena waktu itu saya merasa kasihan, akhirnya saya laporkan semua pejabat hadir dan mengikuti apel pagi,” ujar nya tertawa.

Malik B Masrie juga dikenal kerap menghukum pegawainya yang kedapatan tidak disiplin dalam bekerja. “Hukumannya lari keliling kantor, tidak peduli pejabat atau bukan. Jadi kalau ada pegawai yang terlambat datang, langsung disuruh lari keliling kantor. Hanya saja, saat menghukum pegawainya, Pak Malik ikut lari mendampingi. Makanya sejak itu muncul tradisi, setiap pegawai menggunakan pakaian dalam, persiapan jika sewaktu-waktu kena hukuman,” ujarnya dengan mimik sumringah.

alterntif text

Lain lagi cerita tentang Andi Galib. Wakil Gubernur Sulsel di era Zaenal Basri Palaguna ini ditunjuk sebagai pelaksana tugas Walikota Makassar pada tahun 1993 menggantikan Malik B Masri yang telah selesai masa tugasnya.

“Pak Andi Galib itu paling suka bagi-bagi uang. Pernah waktu itu, sore-sore beliau sudah di mobil hendak pulang ke rumahnya. Baru beberapa meter jalan, tiba-tiba mobilnya kembali. Ternyata dia kembali karena lupa kalau saya belum di berinya uang,” cerita Petrus sambil tersenyum.

Pada tahuh 1998, Walikota Makassar dijabat Alwy Rum sebagai pelaksana tugas. “Yang masih saya ingat tentang Pak Alwy, pernah suatu ketika, sekelompok mahasiswa tiba-tiba datang dan menerobos masuk keruangan walikota. Awalnya Pak Alwy berusaha sabar dan terus menenangkan mahasiswa yang waktu itu sedang marah-marah sambil menunjuk-menunjuk muka Pak Alwy. Mungkin kesabarannya sudah habis, Pak Alwy tiba-tiba mencabut pisau kecil yang tersimpan di balik kaos kakinya. Para mahasiswa itu kaget dan dan langsung berlarian keluar dari ruangan karena ketakutan,” ujar Petrus terkekeh.

Selanjutnya Baso Amiruddin Maula menakhodai kota Makassar pada tahun 1999 hingga tahun 2004. Dari cerita Petrus, Maula diketahui sangat menyukai ikan bakar baronang. “Tapi pernah suatu hari saya merasa sangat bersalah. Kebetulan waktu itu makanan kesukaan Pak Maula sudah saya siapkan di meja makan. Namun hingga sore Pak Malik belum juga balik ke kantor, waktu itu banyak acara di luar yang di hadiri. Pikirku, Pak Maula langsung pulang ke rumah, makanya biar tidak mubazir, makanannya saya makan. Baru berselang beberapa menit, tiba-tiba muncul ajudan diikuti Pak Maula dari belakang. Rupanya beliau belum sempat makan di luar. Dengan perasaan bersalah, saya ceritakan kalau makanannya sudah habis saya makan, dan segera bergegas ke penjual nasi terdekat,” paparnya.

Pada tahun 2004, melalui pemilihan walikota dengan sistem suara terbanyak di DPRD kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin berhasil mengungguli Amiruddin Maula dan didapuk sebagai walikota untuk masa jabatan selama lima tahun.

“Pak Ilham itu tidak pilih-pilih, hampir semua makanan di sukai. Termasuk mie gerobak disamping Balaikota. Dari semua walikota yang saya layani, Pak Ilham paling banyak menerima tamu. Saking banyaknya, kadang menerima tamu hingga subuh. Tamunya pun macam-macam, mulai dari pengusaha hingga orang yang berbaju kumal. Bahkan orang gila juga dilayani. Beberapa kali itu datang orang gila ke kantor mau ketemu Pak wali. Sering kita tahan, tapi Pak wali bilang, biarkan dia masuk ketemu saya,” ujarnya.

Pada tahun 2008, Ilham mengundurkan diri sebagai walikota. Andi Herry Iskandar yang waktu itu menjadi wakilnya ditunjuk sebagai pelaksana tugas hingga Ilham kembali terpilih sebagai walikota periode 2009 – 2014 melalui pemilihan walikota secara langsung oleh rakyat.

“Pak Andi Herry itu sangat disiplin. Kalau terima tamu tidak boleh lama-lama. Cukup bahas yang penting-penting, setelah itu di susul tamu lainnya. Pak Andi juga punya tradisi, setiap jumat pertama diawal bulan, beliau selalu membawa amplop berisi uang dari rumahnya kemudian di bagi-bagikan kepada staf diruangannya,” ujarnya.

Mohammad Ramdhan Pomanto yang berpasangan dengan Syamsu Rizal berhasil terpilih sebagai walikota dan wakil Makassar untuk periode 2014 – 2019. Pasangan DIA mengalahkan sembilan pasangan calon lainnya hanya dengan satu putaran pada Pilwali yang berlangsung pada tanggal 18 september 2013. Pasangan ini dilantik di anjungan Pantai Losari pada tanggal 8 Mei 2014.

“Pak Danny hobi nya gado-gado. Beliau juga setiap hari selalu kebanjiran tamu. Namun satu hal yang tidak terkalahkan oleh beliau, yakni jumlah acara. Dari semua walikota, Pak Danny paling banyak acara yang dihadiri, mulai pagi hingga malam hari. Sampai-sampai lupa makan. Sering saya ingatkan, namun beliau kadang bilang: waduh, tidak sempatmi ini Petrus, orang sudah menunggu ditempat acara,” lanjut Petrus.

PenulisHamzah Muhammad

Sumber: updatemakassar.blogspot.co.id

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending