Denny Sumargo : Makassar Itu Rumahku | Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Selebritis

Denny Sumargo : Makassar Itu Rumahku

Published

on

Denny Sumargo Makassar

Rambutnya disisir klimis. Terlihat rapi mengenakan kemeja putih dipadu dengan jeans hitam. Ia tersenyum ramah. Terlihat sangat santai. Jika melihatnya, Anda akan menilai kalau ia bukanlah host yang banyak digandrungi anak muda saat ini.

Saya teringat salah satu tayangan My Trip My Adventure pekan lalu. Pria ini bercerita tentang pengalaman hidupnya di Makassar. Di depan kamera ia mengaku pernah makan sebungkus mie instant yang disantapnya ramai-ramai di kota itu. Mie instan begitu berkesan bagi hidup Denny Sumargo.

“Maaf saya sedikit terlambat,” katanya membuyarku.

Tepatnya di sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan, pria yang akrab disapa Densu ini bercerita banyak tentang hidupnya. “Terima kasih untuk interview ini, di sini saya juga mau mengklarifikasi tempat lahir saya, dalam biografi saya di sebuah ensiklopedia dituliskan kalau saya lahir di Luwuk, Banggai, itu salah. Saya lahir di Makassar, 11 Oktober 1981,” Densu menjelaskan.

“Yang lahir di Luwuk itu, ibu saya,” lanjutnya.

Pria 34 tahun ini lalu menuturkan kisah hidupnya yang nomaden. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mulai dari kawasan Panaikang, Batu Putih, dan Jalan Sulawesi. “Masa kecilku di Makassar. Disana saya sempat tinggal di rumah saudara, di tempat penitipan anak, dan pernah juga dititipkan di rumah orangtua angkat,” Densu memulai kisahnya.

Kenapa berpindah-pindah?

“Ibu saya tidak punya rumah. Ibu tidak bisa menampung saya. Dia bekerja di rumah orang, dan saya tidak bisa ikut dengannya, terpaksa saya dititipkan agar ia leluasa bekerja. Ibu dan bapak bercerai sejak saya masih dalam kandungan. Ibu tidak bisa kembali pada keluarganya, karena ibu dikucilkan. Orangtua tidak merestui hubungan bapak dan ibu,” tuturnya.

Aktor berkarakter ini sesaat terdiam. Dan lalu, “Saya terpaksa memulai dan membiasakan hidup sendiri. Jika ibu, tidak bisa memberi nafkah atau uang saku, saya yang harus mencarinya sendiri. Sejak kecil, sekira 6-7 tahun saya sudah bekerja. Saya mencuci piring, saya memotong rumput, kerja di bengkel bahkan sempat jadi kernet mobil,” kenang Densu.

Sejenak dia membuang tatapannya ke luar kaca jendela kafe, “Dulu saya pernah mengutuk diri. Saya merasa hidup dalam kesia-siaan. Hidup tanpa tujuan, tanpa guna. Saya tidak punya fasilitas dalam hidup. Bahkan tak ada orang yang mengenalkan saya dengan Sang Pencipta. Kondisi itu pula yang membuat saya meniadakan Tuhan,” lanjutnya.

Masa kecilnya dilalui dengan bekerja. Bukan bukan untuk uang melainkan untuk makan. Pernah suatu waktu, Densu merasakan lapar luar biasa. Didorong rasa lapar itu, ia mengais sampah, mencari sisa-sisa makanan yang masih bisa ia makan. Namun menciumnya saja, membuat ia muntah. Akhirnya ia tertidur di depan rumah orang.

“Saya ingat orang yang punya rumah itu sangat baik, ia memasak mie untuk saya santap. Seumur hidup saya, itulah mie instant terenak di dunia,” kata Densu.

Pada usia 13 tahun Densu diusir dari tempatnya bernaung. Untuk menghidupi hidupnya, ia bekerja sebagai kernet mobil. “Saya ingat betul upah pertama saya Rp 50, itu berharga sekali. Akhirnya saya bisa makan dengan uang sendiri. Biasanya saya bekerja nyuci piring itu hanya dibayar dengan makan gratis,” kata Densu sembari tersenyum.

Pada saat itu pula, Densu mengakui Tuhan menunjukkan keberadaannya. “Pertama kali saya berterima kasih kepada Tuhan disitu,” lanjut pria yang pernah dikabarkan dekat dengan Agnez Mo ini.

Menginjak usia remaja, tepatnya saat ia SMA, Densu mulai bermain basket. Tahun 2000, Densu memilih untuk mengadu nasib di Jakarta. Keputusan itu diambilnya, setelah mengikuti PON di Surabaya. Kepada pelatihnya, ia mengutarakan niatnya untuk hidup di Jakarta.

“Saya ditanya mau apa di Jakarta? Saya jawab mau kuliah, tapi belum ada uangnya juga. Beruntung, sang pelatih memberi ongkos Rp. 200 ribu untuk ke Jakarta. Sesampai di Jakarta, tepatnya di Stasiun Gambir, saya lama terdiam disana. Saya bingung mau kemana,” kata Densu sembari menertawakan dirinya.

Saat itu, Densu teringat seseorang yang pernah mengajaknya bergabung pada klub basket. “Tiba-tiba waktu itu saya mengingat ada seseorang yang mengajak saya ikut gabung dalam klub basket. Jadilah saya mendatangi alamat klub tersebut. Dengan lugu dan tampilan yang nggak banget, saya beranikan diri kesana,” ujarnya.

Tawa Densu pecah teringat masa itu, “Saya memakai baju pemberian dan celana gombrang. Pada saat itu saya di bully abis-abisan karena tampilan saya yang norak. Lagi-lagi saya berada di tempat yang salah dengan kondisi yang tidak tepat pula,” katanya.

alterntif text

Pada saat mendaftarkan diri di ASPAC Jakarta, Densu ditolak. Karena anggotanya sudah full. Dia pun meminta agar diizinkan untuk menginap sementara. Pihak ASPAC lalu memberinya masa percobaan selama tiga bulan.

“Saya terus berlatih, saya menyemangati diri sendiri di tengah bully-an orang-orang disana,” katanya. “Saya kerap menangis di asrama, saya bahkan menilai diriku cemen, pengecut karena kerap menangisi hidup”.

Setahun kemudian, Densu meraih gelar pemain terbaik. “Percaya, Tuhan menyediakan takdir yang jauh lebih baik ketimbang yang kau bayangkan,” katanya.

Lantas sejak kapan memasuki dunia entertaint?

“Awalnya saya ingin mencari uang tambahan. Saya ikut casting film, sinetron bahkan iklan. Tapi semuanya ditolak. Untuk iklan tangan saja, saya ditolak,” Densu kembali terbahak. “Waktu itu saya menilai kalau saya memang tidak pantas di dunia itu”. Akhirnya, ia kembali fokus di basket. Sampai ia meraih enam kali gelar pemain terbaik.

Tiga tahun kemudian, keberuntungan mulai berpihak. Penawaran dari Rumah Produksi Film dan iklan berdatangan. Barulah ia tergiur untuk menjadi brand ambasador salah satu produk mineral water.

Sukses di dunia basket dan hiburan, Densu lalu mencoba peruntungannya di bidang lain. Ia membuka warung makan di Jakarta. Namanya warung Daeng Situju. Nama itu diambilnya dari sapaan dialek Makassar kepada orang-orang yang dituakan ‘Daeng’. Ia juga mencoba beternak ayam dengan membuka peternakan ayam di Makassar, tepatnya di daerah Daya. Namun kedua usahanya itu tidak dilanjutkan lantaran ia kerepotan mengurusnya.

Di tengah karier yang gemilang. Densu kembali mendapat ujian. Ia sempat dikabarkan melecehkan seorang perempuan. Namun, rumor tersebut ternyata tidak benar. Pihak pelapor bahkan tidak diketahui keberadaanya setelah melakukan pelaporan dan mencabut laporannya. Berbagai pekerjaan yang tadinya diembankan pada Densu tiba-tiba menarik diri.

“Tak ada lagi tawaran film bahkan iklan. Saya bahkan sempat mengambil job yang bukan gue banget. Saya sempat jadi host acara horor,” aku Denny.

densu my trip

 

Sampai akhirnya My Trip My Adventure menawarinya untuk gabung. Awalnya, ia menolak. Ia tak punya nyali untuk itu. “Saya tidak bisa diving, saya tidak mahir memainkan motor. Intinya saya tidak punya apa-apa untuk jadi bekal di My Trip My Adventure,” katanya.

Pada tahun pertama di My Trip My Adventure, Densu beberapa kali mengalami cidera. Pada saat syuting di sebuah Goa, ia terjatuh dan kakinya berlubang. “Ada banyak bekas di kaki saya,” katanya. “Di tahun pertama saya mendapat banyak bully-an karena saya dianggap cemen”.

denny sumargo adventure

Namun, lama kelamaan ia mulai terbiasa. Alam lebih mendekatkannya dengan Tuhan. “Alam itu ciptaan Tuhan terbesar, manusia nggak ada apa-apanya. Jadi jangan pernah merasa pintar dan angkuh atas diri,” Denny menyimpulkan.

Saat ini, Densu dan team My Trip My Adventure tengah trip di pelosok Kupang. Ya, karena My Trip My Adventure lah, Densu kembali memulihkan kariernya. Ia bahkan disebut-sebut sebagai host terbaik di acara televisi yang digandrungi anak muda tersebut.

Meski begitu, Denny Sumargo tak pernah lupa asalnya. Tak melupakan rumahnya. “Satu kata untuk Makassar ialah rumah. Disanalah Tuhan menelurkan saya,” Densu tersenyum. “Saya selalu menyempatkan pulang ke Makassar. Tahun baru kemarin, saya di Makassar,” tutupnya.

Rina Atmasari

BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
Comments

Trending