Dari Mana Sumber Rp4 Miliar yang Dikembalikan Irsan? | Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Hukum & Kriminal

Dari Mana Sumber Rp4 Miliar yang Dikembalikan Irsan?

Published

on

Ilustrasi/Int
alterntif text

MAKASSAR – Uang pengembalian kerugian negara sebesar Rp4 miliar oleh tersangka, Irsan Syarifuddin dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batara Guru, Beloppa, Kabupaten Luwu terindikasi rekayasa.

Berdasarkan Informasi yang diperoleh menyebutkan, uang tersebut diduga bersumber dari pengusaha ternama di Kabupaten Gowa yang tak lain adalah orang dekat dari Irsan Syarifuddin.

Informasi ini dikuatkan dengan adanya hasil temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bahwa ada uang sebesar Rp8 miliar yang sumbernya tidak jelas, mengalir ke rekening istri pengusaha tersebut.

Uang tersebut diduga, untuk menutupi peran pengusaha itu dalam kasus ini. Adapun indikasi rekayasa itu dengan cara pengembalian kerugian negara, seolah-olah uang tersebut dari tersangka Irsan Syarifuddin, yang dalam proyek itu bertindak sebagai rekanan.

Kepala Kejari Belopa, Zet Tadung Allo tak menampik terkait dana tak jelas mengalir di rekening istri kontraktor besar di Gowa itu.

“Kami akan telusuri dulu apa ada kaitannya dengan kasus itu,” kata Zet dengan nada terbata-bata saat dihubungi, Rabu (30/3).

Menurut Zet, pihaknya akan menelusuri lebih jauh rekening Hamsina, istri Irsan, yang mewakili pengembalian kerugian tersebut. Dia mengaku telah mendapatkan kuasa dari Hamsina untuk mengecek sumber uang di rekeningnya.

alterntif text

“Tapi kami harus koordinasikan dulu dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujar mantan penyidik KPK ini.

Proyek pengadaan Alkes RSUD Batara Guru, Beloppa, Kabupaten Luwu bersumber dari APBD dan APBN tahun 2012-2013 Rp33,2 miliar. Proyek Alkes diduga terindikasi mark up, sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp8 miliar, berdasarkan hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sulsel.

Selain Irsan Syarifuddin, penyidik juga telah menetapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Kasmar sebagai tersangka dalam kasus ini.

Diketahui pada tahun 2012, proyek pengadaan Alkes dilakukan dua kali dengan nilai masing-masing Rp 6,9 miliar dan Rp4,9 miliar yang dikerjakan oleh PT. Elang Perkasa.

Sedangkan di tahun 2013, pengadaan juga dilakukan dua kali penganggaran dengan nilai anggaran Rp2 miliar dan Rp19,2 miliar, yang dimenangkan oleh PT Seven Brothers.

Alat yang diadakan pada proyek pengadaan tersebut mencapai ratusan unit, di antaranya, CT Scan, ranjang pasien, tabung oksigen, alat anestesi, meja operasi, kursi, dan jental kit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik ditemukan adanya dugaan penggelembungan harga dalam proyek tersebut. Indikasi mark up harga dari distributor, ditemukan ada mark up hingga 400 persen.

alterntif text
BAGIKAN:
Comments

Trending