Tekno

Mahasiswa ITS Rancang Sandal Untuk Tunanetra

SURABAYA – Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan sandal untuk tunanetra yang diberi nama ‘Santun’, dengan

Sandal tunanetra yang menggunakan teknologi aplikasi Android itu dirancang sebagai alat pengganti tongkat dalam membantu penyandang tunanetra berjalan atau melakukan aktivitas.

Karya mahasiswa ITS itu termasuk dalam program kreativitas mahasiswa (PKM) yang dibiayai oleh Kemeristek Dikti.

Menurut Ketua Tim, Ade Hasanah, sandal tersebut untuk membantu penyandang tunanetra agar bisa beraktivitas tanpa bantuan orang lain.

Sandal untuk tunanetra itu merupakan rancangan sandal yang mengadopsi sandal serupa di Inda, namun yang membedakan adalah alasnya terbuat dari bahan karet dan berhak tinggi yang bertujuan agar bagian bawah sandal bisa dilubangi untuk memuat sensor dan mikrokontroler.

“Kami memang tidak membuat sandal sendiri, tapi kami beli sandal yang sudah ada di pasaran, lalu kami lubangi untuk meletakkan sensor dan mikrokontroler sekaligus bluetooth, serta baterai berukuran kecil sebagai pemasok energy,” katanya seperti dikutip dalam siaran pers, belum lama ini.

Pada bagian kiri dan kanan sandal tersebut di letakkan sensor jarak tipe HC-SR04 yang bisa mendeteksi rintangan hingga jarak 5 meter. Sensor ini akan memberi tahu pengguna lewat suara untuk berhati-hati jika di kiri atau kanan terdapat rintangan.

Bunyi tersebut bisa didengar pengguna melalui handsfree di telinga yang telah terhubung dengan bluetooth pada smartphone berbasisi Andrioid.

Melalui suara itulah pengguna akan mengatahui ada tidaknya rintangan baik di kiri, kanan, dan depan. Jika ada rintangan di kanan atau dikiri, misalnya, sandal melalui sensor akan berbunyi ‘awas kanan’ atau ‘awas kiri’. Biaya yang dibutuhkan untuk sepasang sandal itu kurang dari Rp1 juta.

“Rancangan awal ini masih harus terus dikembangkan, sehingga jika diproduksi dalam skala industri atau pabrikasi bisa lebih murah dan terjangkau. Fitur suara lainnya juga bisa ditambah dalam data base yang tersimpan dalam mikrokontoler,” imbuh Ade.

Ade Ria mengakui, idenya ini bukan sesuatu yang baru, tapi mengembangkan apa yang sudah ada seperti di India. Hanya saja, rancangan yang di India hanya mampu mendeteksi jarak dalam ukuran sentimeter, sementara rancangan timnya maksimal hingga lima meter. (int) 

alterntif text

BAGIKAN:
alterntif text
loading...
Loading...
Comments

Terpopuler

To Top