Adakah Istilah Pacaran Dalam Islam? | Makassar Today
Connect with us

Feature

Adakah Istilah Pacaran Dalam Islam?

Published

on

Hubungan pacaran dalam islam disebut ta’aruf. Dan ini sangat bertentangan dengan pacaran “bebas” yang akhir-akhir ini kita saksikan di tengah-tengah masyarakat yang terpengaruh budaya barat. Jadi, tidak ada istilah pacaran dalam Islam, sehingga perbuatan itu dipandang sebagai perzinaan terselubung.

Karena dari aktivitas pacaran akan menimbulkan zina hati, zina kaki, zina tangan, zina mata dan lain sebagainya dalam upaya mendekati zina. Parahnya lagi sampai melakukan zina sebagai aktivitas wajib dan rutin layaknya pasangan suami istri.

Melakukan zina termasuk dosa besar, jadi mendekatinya saja tidak diperbolehkan. Karena sangat riskan terjadinya tindakan tersebut. Apalagi bagi yang berpuasa, tentunya akan menghilangkan pahalanya. Mereka hanya mendapat rasa lapar dan dahaga saja. Menahan dari godaan makanan dan minuman lezat itu mudah, tapi yang sulit adalah tetap menahan godaan hawa nafsu syahwat.

Dari itu para remaja mestinya paham tentang ilmu agama yang dianutnya. Agar tidak terperosok ke dalam lubang hitam atau menempuh jalan kehidupan yang salah. Bulan ramadhan adalah momentum umat Islam dalam memperbaiki diri akan tidak lagi rajin dalam berbuat maksiat, tapi lebih rajin berbuat kebajikan. Sehingga akan diberikan pahala berlipat bila beribadah dan berlaku kebaikan. Dengan harapan tetap melakukan hal sama selepas bulan ramadhan nantinya.

Umat Islam hendaknya memahami bahawa pacaran sejatinya adalah perbuatan maksiat yang sangat dimurka Allah SWT. Sayang sekali bila, kita telah berniat menjalankan ibadah puasa, tapi masih diselipi perbuatan yang tergolong maksiat. Pahala yang kita harapkan sebagai jerih payah beribadah, akan sirna begitu saja. Kalau kejadian tersebut terus berlangsung samapai akhir hayat, lalu bekal amal ibadah apa yang akan dibawa saat menghadap sang pencipta.

Mumpung di bulan ramadhan kita harus bertobat atas segala perbuatan buruk yang dilakukan. Bagi yang masih melakukan aktivitas pacaran, sudah saatnya dihentikan. Karena lebih banyak mudaratnya daripada manfaat yang bisa diraih. Bila ajaran agama Islam melarang keras untuk melakukan pacaran, kenapa harus menentangnya dengan terus melakukannya. Itu sama saja mengingkari ajaran baik yang diberikan Allah SWT.

Ikutilah cara yang dianjurkan agama Islam, yaitu menikah sebagai cara yang dihalalkan. Dengan segala upaya kebaikan, semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dalam mencapai jalan kebenaran.

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Feature

Kisah Mahasiswi Poltek Menjemput Ajal di Hari Pernikahan

Published

on

By

BAJENG – Laode Muhammad Khalik tak pernah menyangka jika hari pernikahannya akan berkahir duka. Ode, begitu sapaan akrabnya, hanya bisa pasrah karena calon istrinya menjemput ajal sesaat sebelum ijab kabul dimulai.

Sedianya Ode akan menjalani prosesi pernikahan dengan pujaan hatinya, Rosminta Daeng Rannu alias Icha pada Rabu (8/11/2017) sekira pukul 11.00 Wita, di Desa Bontobodo’ Kalamandalle, Kecamatan Bajeng Barat, Kabupaten Gowa.

Namun takdir berkata lain, karena pasangan pengantin ini harus dipisahkan oleh maut. Kepergian Icha memang bukan tanpa alasan.

Mahasiswi Politeknik Ujungpandang asal Kabupaten Maros ini sebelumnya telah divonis menderita tifus dan sempat menjalani perawatan di RSUD Syekh Yusuf selama empat hari.

“Seminggu sebelum hari H (akad nikah) Ica dirawat di ruang ICU RSUD Syekh Yusuf. Dokter vonis sakit tifus, tapi setelah dirongen, dokter bilang almarhumah kondisinya sudah normal,” beber keluarga Icha, Hj Cici ditemui, Kamis (9/11/2017).

Atas dasar itulah Icha kemudian menyatakan siap untuk menjalani prosesi pernikahan. Namun sebelum proses ijab kabul di hari pernikahannya itu, kondisi Icha nampak berbeda. Ia terlihat lemas dan sempat tak sadarkan diri, hingga tak lama dinyatakan meninggal dunia.

“Setelah dari rumah sakit, almarhumah pulang diantar sama suaminya. Waktu di rumah sempatji agak baikan tapi pas jelang ijab kabulnya langsung drop dan tepat pukul 11.00 waktu ijab kabulnya, almarhumah sudah tidak ada (meninggal, red),” ucapnya sedih.

Ode pun hanya bisa memandangi jasad calon istrinya untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan. Ode hanya bisa melihat calon istrinya mengenakan baju pengantin hanya sekejap dan kini hanya mampu melihat Icha dalam kondisi berbeda, yakni dengan kain kafan.

(Rahman sijaya)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Feature

Istilah “Muka Jodoh” Bukan Hal Yang Kebetulan, Baca Selengkapnya!

Published

on

By

Pernahkah Anda mendengar istilah “Muka Jodoh” atau mungkin melihat teman dan kerabat yang sudah lama menikah dan jadi terlihat mirip selayeknya saudara?

Jika Anda merasa penasaran, kenapa pasangan menikah fisiknya jadi mirip seperti saudara, maka Anda tidak sendirian. Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam PLOS Genetics, ketika dua orang yang menikah jadi terlihat mirip, hal ini bukanlah kebetulan semata. Hal ini dikarenakan kecenderungan manusia untuk menikahi seseorang dengan nenek moyang atau ras yang sama.

Tren ini memiliki efek penting terhadap genetik suatu populasi, ujar Dr. Ronnie Sebro dari Universtiy of Pennsylvania dan penulis senior Josee Dupuis dari Boston University School of Public Health dan Neil Risch dari University of California, San Fransisco.

Para peneliti dalam studi ini melihat genom pasangan menikah dari tiga generasi dan 879 pasangan dari Framingham, Massachusetts, yang asalnya adalah bagian dari sebuah studi kesehatan jantung di tahun 1948.

Jadi bagaimana fenomena menarik ini bisa terjadi? Rupanya, ketika sebagian orang yang dipelajari menikah, mereka memilih pasangan dari komunitas mereka sendiri, dan orang-orang ini seringnya memiliki nenek moyang yang sama.

Seiring waktu, ketertarikan pada seseorang yang mirip dengan kita, atau dari komunitas sendiri, menciptakan genetik struktur genetik yang serupa dalam suatu populasi.

Partisipan yang nenek moyangnya berasal dari Utara Eropa, Selatan Eropa, dan Ashkenazi, cenderung memilih pasangan dari asal usul yang sama. Namun generasi penerusnya lebih berkemungkinan kecil untuk melakukan hal yang sama.

Apalagi dengan kondisi global seperti saat ini, kemungkinan seseorang untuk bertemu pasangan yang berasal dari komunitas berbeda atau asal usul berbeda juga jadi lebih besar. (*)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Feature

Sejarah Hari Santri Nasional

Published

on

By

Setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Hari Santri Nasional ditetapkan oleh pemerintah melalui Keppres nomor 22 tahun 2015.

Alasan mengapa tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional merujuk pada peristiwa bersejarah yang membawa bangsa Indoensia meraih kemerdekaan dari para penjajah.

Adalah pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 oktober tahun 1945 di Surabaya yang mencetuskan resolusi jihad untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.

KH. Hasyim Asy’ari kala itu mengatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“.

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945, menewaskan Jenderal Mallaby. Ia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan Inggris saat itu.

Peristiwa tersebut membuat angkatan perang Inggris murka, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Britania Raya.

Pertempuran itu adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Presiden RI Joko Widodo memaparkan besarnya peran santri bagi bangsa. Para tokoh-tokoh besar yang punya andil itulah yang membuat pemerintah menilai hari santri penting ditetapkan.

“Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan,” kata Jokowi di hadapan para santri, ulama, dan tokoh-tokoh agama yang hadir di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Dengan mewarisi semangat itulah, kata Jokowi, para santri masa kini dan masa depan, baik yang di pesantren atau di luar pesantren dapat memperkuat jiwa religius keislaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan. (int)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya