Difusi Inovasi dan Komunikasi Politik | Makassar Today
Connect with us

Opini

Difusi Inovasi dan Komunikasi Politik

Published

on

Oleh: Suharto, M. Si.

Catatan Ringan Jelang Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Sulawesi Selatan

Momentum politik lima tahunan di sulawesi selatan untuk menghelat pemilihan langsung gubernur dan wakil gubernur (pilgub) dipastikan akan berlangsung seru dan diprediksi berdinamika tinggi. Seru, lantaran pesta demokrasi tersebut akan memunculkan pasangan kontestan tanpa petahana. Dan kemungkinan untuk berdinamika tajam atau bereskalasi tinggi disebabkan para kandidat dan juga tim-tim pemenangannya diibaratkan akan bertarung bebas di atas ring atau arena politik. Dengan asumsi bahwa semua pasangan calon memiliki peluang sama, memiliki kesempatan sama. Sehingga, menentukan berbagai varian teori dan taktik strategi dalam mendesain bentuk-bentuk komunikasi politik menjadi sebuah keharusan jika ingin keluar sebagai pemenang.

Kompetitor yang berhasil menjuarai momentum pilgub untuk menggantikan gubernur Syahrul Yasin Limpo (SYL), tentunya adalah kompetitor yang memiliki desain komunikasi politik lebih matang dan lebih dinamis. Mampu memainkan perannya sebagai komunikator politik yang handal dan berkepribadian tinggi menyebabkan pemilik desain komunikasi politik tersebut memperoleh tempat di tengah masyarakat.

Bahkan bukan hanya tempat, tetapi lebih jauh kemampuan berinteraksi secara politik oleh retor-retor politik yang merupakan hasil dari desain politik tersebut tak hanya mampu mewujudkan tujuan komunikasi sebagai pembawa informasi (to inform), namun mereka juga mampu menjadi penghibur (to entertaint) dan menjadi pembujuk (to persuaded) yang sekaligus dapat merubah sikap dan prilaku masyarakat.

Desain Komunikasi Politik

Dalam konteks politik, termasuk pertarungan politik pemilihan umum kepala daerah (pemilukada), tingkat kesuksesannya sangat ditentukan oleh sejauhmana seorang kandidat dan ataupun tim sukses pemenangannya mampu membangun kerangka dan desain komunikasi politik yang efektif.

Bahwa komunikasi politik menjadi elan vital di dalam ranah politik praktis. Komunikasi politik yang berlangsung baik dan terdesain secara sistematis akan sangat berpengaruh positif kepada kinerja-kinerja politik. Sebaliknya, komunikasi politik yang tidak terdesain dengan bagus, juga memungkinkan akan mendekatkan kontestan politik kepada jurang kekalahan.

Almont (2009) berpendapat…

Prev1 of 3

Jika Pemilihan Gubernur Sulsel digelar hari ini, siapa pilihan Anda?

Jika Pilwalkot Makassar digelar hari ini, siapa pilihan Anda?

Advertisement

Comments

Opini

Selamat Milad HMI ke-71

Published

on

By

Oleh: Henny Handayani

HMI itu sekolah alternatif, kampus kedua mahasiswa Islam. Mereka yang pernah mengecap dengan sungguh-sungguh ruang kaderisasi di HMI, hari ini pasti merasakan dampaknya.

Militansi dan nilai kejuangan senantiasa menjadi spirit bagi kadernya kapan dan dimanapun ia berperan. Ibarat ikan yang berenang di lautan bebas, ia tak ikut asin. Idealnya, HMI berdiri di kakinya sendiri, punya prinsip.

71 tahun tentu bukan usia yang muda lagi, sama tuanya dengan negara kita. Hal ini menjadi penanda bahwa perjalanan panjang HMI turut memberi warna pada jejak-jejak perlawanan bangsa mengahadapi gejolak dan tantangan zaman. Setidaknya, konstribusi HMI selalu dinantikan oleh bangsa dan negara ini. HMI sebagai kontrol sosial, sebagai kontrol moral mestinya masih menggema di setiap waktu.

Ribuan bahkan jutaan kader telah dilahirkan oleh organisasi ini. Dari lintas profesi mulai dari pengusaha, pedagang, dokter, guru, dosen, politisi, hingga pejabat bupati, gubernur atau walikota dulunya pernah sekolah di HMI.

Namun kita tidak bisa menafikkan, kuantitas kader dan kebesaran nama HMI mulai tergerus. Kadang hal itu tak berbanding lurus dengan kenyataan. Bukan tanpa cacat, toh beberapa kader HMI juga sempat tekena kasus korupsi, kasus moral dan lainnya. Dan kita rasakan hari ini kader tak lagi lantang bersuara soal rakyat, tak lagi keras melawan tirani kekuasaan dan tegas menolak penindasan.

HMI zaman now justru sebagian mulai sangat labil dan manja. Tak ada lagi ruang ruang otokritik sesama kader. Jangan-jangan kadernya tengah asyik beronani dengan pikirannya masing-masing. Cukup buat status di sosmednya, upload lalu komen dikiranya sudah revolusi, hehehe. Temannya kini adalah gadget. Gerakannya sangat mekanik. Rang-ruang kultural, kelompok-kelompok diskusi yang kini mulai berkurang.

Sungguh, tantangan HMI hari ini adalah gelombang modernisasi yang kian tak terbendung. Akses informasi yang begitu cepat seharusnya mampu difilter dan dikanalisasi secara cerdas oleh kader HMI. Tidak mudah terlena. Jangan mudah diprovokasi oleh isu sempalan. Bergeraklah karena nalar bukan karena emosi yang dibakar oleh hoax.

Indonesia kedepan membutuhkan generasi pelanjut yang kokoh. Yang mampu mengawal dan menjaga perjalanan bangsa agar tetap “on the track”. Indonesia yang bhinneka. Tidak tercerai berai. Dan itu menjadi tugas geberasi muda. HMI sebagai kawah candradimuka mestinya menyiapkan mesin yang baik buat itu.

71 tahun, HMI harus berani menarik garis tegas pro terhadap rakyat kecil. Kembali ke jalan menyuarakan misi keummatan kebangsaan. Ayo bangun dari tidur. Angkat benderamu anak muda! Panjang umur perjuangan. Dirgahayu HMI!

(Penulis adalah Eks Ketua Umum Badko HMI SulSelBar dan Jubir IYL-Cakka)

Jika Pemilihan Gubernur Sulsel digelar hari ini, siapa pilihan Anda?

Jika Pilwalkot Makassar digelar hari ini, siapa pilihan Anda?

Baca Selengkapnya
Advertisement

Terpopuler