Opini: Ahok dan Persepsi Komunikasi Politik | Makassar Today
Connect with us

Opini

Opini: Ahok dan Persepsi Komunikasi Politik

Published

on

Suharto, M. Si.

Oleh: Suharto, M. Si.

Basuki Tjahaya Purnama atau yang lebih populer disapa Ahok, secara sepintas dapat diberikan nilai terbaik kepadanya sebagai komunikator politik yang ‘sukses’. Konsistensi akan gaya dan model komunikasi yang tampak dalam desain komunikasi politiknya meneguhkannya sebagai salah satu newsmaker politik yang telah menempati posisi teratas sebagai figur komunikator politik pemimpin opini.

Sikap istiqomah dalam berkomunikasi gubernur DKI Jakarta tersebut, sejak mulai tampil sebagai wakil gubernur terpilih pendamping gubernur terpilih Joko Widodo pada pemilihan gubernur 2012 lalu, hingga kini sikap dan perilaku komunikasi Ahok nyaris tidak pernah berubah. Adalah gaya bahasa yang kerap dinilai tidak santun, tidak sopan dan tidak etis membuat bekas Bupati Belitung Timur itu menuai kritikan, kecaman baik langsung maupun melalui media massa dan media sosial. Berbagai macam kritikan dan beribu macam komentar miring acapkali mengiringi prilaku politik dan gaya kepemimpinannya.

Ahok kemudian perlahan-lahan menjelma sebagai aktor politik yang dinilai di satu sisi sebagai perambah jalan demokrasi dan reformasi birokrasi. Akibat dari akting-akting politik yang diperagakan selama memimpin Jakarta sebagai Gubernur dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program-program pembangunannya menimbulkan efek signifikan terhadap perubahan pola sikap dan prilaku pemerintahan dan layanan birokrasi yang berani memutus mata rantai budaya birokratis yang seremonial belaka, perilaku korup dan bahkan mengamputasi model pemerintahan kongkalikong dengan lembaga legislatif.

Namun, di sisi lainnya, perjalanan Ahok memimpin ibukota oleh sebagian lainnya mempersepsikan gaya kepemimpinan Ahok sedikit Bar-barian, diktator ataupun tidak berprikemanusiaan. Golongan orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai Ahokphobia, musuh Ahok ataupun penantang dan atau politicall inters group yang doyan berposisi sebagai oposisi dalam dan di luar pemerintahan Ahok beranggapan bahwa alumni sekolah politik partai golkar tersebut sangat kasar, tidak beretika dan bahkan kerjanya menggusur warga DKI tanpa ampun dan tanpa berprikemanusiaan.

Pertanyaannya menyusul kemudian, adalah jika ditimbang-timbang baik sepintas maupun secara mendalam, maka ada konklusi sementara yang dapat kita tarik benang merahnya. Yakni, jika Ahok dianggap sebagai pemimpin yang tak ‘manusiawi’, tidak sopan dan sangat reaktif, lalu kenapa warga Jakarta tidak merapatkan barisan untuk menurunkan Ahok sebelum masa tugasnya berakhir?

Dan jika Ahok dinilai sebagai tokoh politik yang tidak layak untuk dijadikan pemimpin, lalu kenapa warga Jakarta malah berlomba-lomba menjadi relawan Ahok untuk mendukung Ahok kembali menjadi gubernur? Kenapa sebagian besar ‘raksasa-raksasa’ partai politik seperti PDI Perjuangan dan Partai Golkar kukuh menjadi garda depan mengusung Ahok bersama dengan partai-partai politik lain seperti parta Nasdem dan Hanura?

Persepsi Komunikasi

Menghadapi, mengamati dan ataupun melawan Ahok baik mediumnya Ahok sebagai gubernur maupun kontennya Ahok sebagai kandidat gubernur, yang dalam hal ini baik perkataan maupun tindakan-tindakan politik Ahok dinilai ‘membahayakan’, meresahkan dan bahkan menghina kaum tertentu adalah sebuah gerak dinamik yang (kemungkinan) di bawah alam sadar kita kemudian bereaksi, berteriak dan bahkan ‘menghukumnya’ sebagai sebuah tindakan yang semakin mengasosiasikan dan mempersonifikasikan Ahok sebagai pemimpin hebat, politisi kawakan dan birokrat terbaik.

Asumsinya sangat sederhana, bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang atau sekelompok orang yang senantiasa menjadi lawan (bicara dan tanding) Ahok di ranah politik adalah sebuah pertanda kesuksesan Ahok dalam melakukan strategi komunikasi politik. Bahwa sebenarnya tindak-tindakan yang berlawanan Ahok merupakan umpan balik dalam istilah komunikasi politik yang lahir akibat adanya efek komunikasi yang telah dilakoni Ahok.

Proses kerja bentuk komunikasi politik Ahok itulah yang melahirkan persepsi-persepsi komunikasi. Werner dan Jamer dalam bukunya tentang Teori Komunikasi (2009) setidaknya mengamini perilaku komunikasi Ahok. Werner dan James mengemukakan bahwa berdasarkan penelitian ilmiah pada persepsilah seseorang bisa memahami kata-kata, suara dan gambar yang mereka tangkap dalam pesan yang terjadi di setiap proses informasi.

Persepsi merupakan salah satu inti dalam kerangka komunikasi politik, dimana komunikator massa lanjut Werner dan James mengharapkan audiensnya untuk memperhatikan pesan-pesan (politik) mereka, mempelajari isi pesan tersebut, dan membuat perubahan pada perilaku atau keyakinan atau menghasilkan respon-respon tingkah laku yang diinginkan.


Sebagai komunikator politik, Ahok saat bertindak sebagai sumber informasi dan atau pengirim pesan dengan gaya dan prilakunya, entah mediumnya media massa ataupun mediumnya di internal pemerintahannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak mesti ada orang keranjingan, kesurupan dan bahkan ingin berprilaku kalap untuk menghantam balik Ahok. Sebab, yang perlu disadari bahwa dinamika proses politik apapun yang dilakukan Ahok adalah sesuatu yang secara subyektif adalah “benar” dan atau dapat di”benar”kan. Dan semua prilaku dan gaya komunikasinya tidak semestinya harus reaktif dan membabi buta karena itu adalah bagian dari strategi dan taktik dalam berpolitik yang sudah terdesain secara matang dan sudah tentu terikut bilangan-bilangan atau hitung-hitungan resikonya. Jelasnya, semua desain komunikasi politik yang diimplementasikan dalam momentum dan proses politik selalu berbarengan dengan pengharapan si pelaksana dan pelaku politik untuk memperoleh dampak politik yang sebesar-besarnya dan sehebat-hebatnya. Meskipun harus gaduh, meskipun harus berskalasi tinggi dan ataupun terpaksa harus berkonflik, maka spektasi politisi dan komunikator politik akan adanya respon atau feedback senantiasa menjiwai dan menafasi setiap gerak langkahnya.

Komunikasi politik yang berdampak itulah yang dapat menguasai medan tempur politik dan dapat menyita perhatian publik. Singkatnya, semakin banyak orang atau kelompok orang yang tergoda untuk menanggapi, berasumsi dan merespons setiap tindakan dari komunikasi politik tersebut, maka akan semakin besar peluang komunikator politik tersebut untuk mewujudkan tujuan-tujuan politiknya. Tidak tertutup kemungkinan, salah satu faktor utama dalam kemenangan Ahok (misalnya jika Ahok terpilih kembali menjadi gubernur mengungguli dua pasangan rivalnya yakni Anies Baswedan – Sandiaga S Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana) adalah akumulasi dari kepiawaian Ahok dan timnya dalam mensiasati setiap dinamika yang menyerang secara personifikasi Ahok.

Bukan pula hal yang muskil terjadi, bahwa persepsi berlebihan terhadap Ahok secara pribadi akan berdampak buruk bagi lawan politiknya (keuntungan politiknya malah ke Ahok). Karena asumsi dan persepsi berlebihan itu bisa menjadi amunisi politik bagi Ahok untuk melakukan redesain komunikasi politik dengan membangun opini publik yang seolah-olah serangan-serangan yang dialamatkan kepadanya adalah bagian dari politicking yang bersumber dari lawan-lawan politiknya, dengan memanfaatkan politicall presseure/inters group dan golongan-golongan yang secara terbuka anti-Ahok, seperti FPI.

Belajar Politik Pada Ahok

Dengan tidak berada di salah satu bagian manapun pada konteks politik dan kepentingan dalam membincang Ahok. Juga dengan tidak bermaksud ingin membela ataupun membelakangi Ahok, tulisan ini pada gilirannya ikut tergoda dengan asumsi-asumsi sebagian kecil dari elemen masyarakat untuk turut mempersepsikan Ahok sebagai tokoh politik yang patut terus memperoleh ruang berimprovisasi secara politik. Lantaran kehadirannya telah membawa dampak perubahan pola sikap dan perilaku kita di dalam berpolitik.

Eksistensi Ahok kemudian menjadi sangat penting untuk tetap di bukakan jalan untuk mewujudkan nawacita politiknya. Sebab, tanpa Ahok dunia politik kita (terkhusus di DKI Jakarta) tidak akan pernah sedinamis ini, baik sebelumnya maupun sesudah Ahok habis masanya di arena politik.

Belajar pada Ahok, saya yakin bukanlah sebuah ungkapan dan pengharapan (apalagi jalan pemaksaan) yang keliru, gila atau tidak waras. Melainkan adalah sebuah jalan intropeksi dan sekaligus mawas diri bagi sebagian orang atau kelompok (mayoritas) yang merasa lebih layak dari Ahok yang notabene berasal dari golongan-golongan minoritas.

Menjadikan Ahok sebagai sekolah demokrasi dan atau sebagai kampus politik adalah sebuah solusi jika ingin Ahok segera mengakhiri “masa berlakunya” di langit politik Indonesia. Bukan sebaliknya, dengan mengambil jalan berbeda apalagi berlawanan, maka yakinlah akan semakin memperpanjang nafas dan gerak langkah Ahok, semakin membiarkan Ahok menggurita dan bermetamorfosis sebagai golongan yang menjadi besar dan kuat.

Akhirnya, menghadapi Ahok tidak diperlukan asumsi metafisis, cukup dengan asumsi matematis saja, agar tidak menjadi bias bagi masa depan demokrasi dan politik nasional.

Harapan kita, persepsi politik yang dominan lahir dari asumsi terhadap Ahok, bukanlah diibaratkan sebagai langkah mundur untuk meninggalkan budaya dan hegemoni mayorits. Jangan sampai persepsi berlebihan, berikut reaksinya yang berdampak untuk semakin mengikis hegemoni itu dan melempangkan jalan bagi tumbuhnya komunitas mayoritas baru. Sehingga dibutuhkan kesadaran individu dan kesolehan sosial kita untuk melewati desas-desus berdemokrasi dan berpolitik yang tidak gamang dan tetap memperlihatkan sikap dan aksi politik yang mencerminkan seseorang dan ataupun segolongan orang layak dihormati sebagai pemilik sah republik ini. []wallahu a’lam bissawwab

Palu, 22 Oktober 2016

*Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Palu dan Penggiat Komunikasi Politik

Advertisement
Comments

Opini

Nurdin Halid Melawan: From Zero to Hero

Published

on

By

Oleh: Risman Pasigai

Sosok Nurdin Halid bukan adalah putra Bugis Sulawesi Selatan yang kerap kali dianggap kontroversial di kalangan media dan publik, di dunia Bisnis beliau sangat dikenal sebagai tokoh Koperasi, di dunia olah raga juga dikenal sebagai Pendekar Sepak Bola, dan di dunia politik dikenal sebagai tokoh yang Fenomenal dan berkarakter tegas, pada hal NH sapaan Akbrab Nurdin Halid terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, lahir dari Ayak yang berlatar belakang Guru bahkan kalau dibandingkan dengan Calon Gubernur yang lain sangat jauh berbeda, dimana mereka berasal dari darah seorang Pejabat bahkan tokoh dizamannya, dan hampir mereka adalah mantan pejabat atau pejabat yang sedang berkuasa, tetapi NH berhasil menempatkan dirinya sejajar bahkan melebihi mereka karena kemampuan dirinya sendiri “ZERO to HERO

NH termasuk sosok unik dan Fenomenal dalam dunia Politik Indonesia, kita sangat sulit menemukan manusia berkarakter seperti NH, banyak terobosan yang di lakoninya baik dalam dunia politik maupun dunia olah raga sepak bola, Menjadikan Indonesia Sebagai tuan Rumah Piala Asia untuk Pertama kalinya sepanjang Indonesia ada, bahka di zaman sebagai ketua PSSI beliau berjuang Untuk Menjadikan Indonesia sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022 yang kemudian gagal karena Pemerintah Indonesia tdk merestuinya yang di karenakan alasan politis dari pemerintah saat itu, NH adalah orang pertama di Indonesia Peraih PIN EMAS dari FIFA, Bahkan dalam dunia politik NH sudah pernah mengalami titik kritis dimana banyak kalangan menprediksi Karir Politiknya Telah Habis bahkan dibully dan dirontokkan oleh media pada saat itu, tetapi sang Petarung ini tidak pernah putus asa, bahkan mampu keluar tekanan politik dan mampu kembali berkiprah di dunia politi Nasional melalui Partai Golkar

Memanfaatkan Momentum adalah salah satu gaya NURDIN HALID
Menelaah perjelanan hidup “SANG NAHKODA” ini seperti kita membaca buku PETARUNG SEJATI. Terlahir dari keluarga pendidik yang sederhana, menjadi organisatoris dengan nilai akademis yang bagus semasa kuliah, disertai latar belakang pendidikan keguruan, seharusnya menjadikan NURDIN HALID memilih hidup menjadi GURU ataupun Dosen sehingga dapat hidup tanpa RIAK dan GELOMBANG yang membuatnya berurusan dengan HUKUM. Tetapi tidaklah demikian, NH adalah Pria yang sangat menikmati tantangan , lulus kuliah dari IKIP Makassar, meninggalkan pilihan hidup sebagai ABDI NEGARA yakni Dosen kemudian menjadi seorang Manager Koperasi Unit Desa (KUD). tentulah merupakan pilihan yang sangat tidak lazim pada saat itu. Namun demikian, Tangan dingin NH memang hebat untuk Koperasi. Unit Desa yang pertama ditanganinya di Kabupaten Gowa tumbuh secara bak dan sehat . Tangan dinginnya juga berhasil menyelamatkan PUSKUD Sulsel yang lemah berubah menjadi lembaga usaha profitable serta menjdi salah satu penggerak ekonomi SULSEL saat itu dengan mengelola sektor PERKULAKAN GORO dan Taksi PUSKUD. Keberhasilannya mengelola PUSKUD menjadikannya dilirik oleh kelompok Cendana menjadi mitra pengelola BPPC yang mengantarnya berjuang di Jakarta


NH adalah lelaki tangguh dalam tangtangan beberapa kali masuk pengadilan , majelis HAKIM menvonisnya dengan putusan bebas murni. Dan meskipun terbelit dengan masalah hukum, NH sukses mengawal PSM Makassar menjadi JUARA NASIONAL serta sukses terpilih menjadi ANGGOTA DPR/MPR dalam usia yang relatif masih muda.

Kesuksesan mengawal PSM Makassar menjadi juara NASIONAL membuatnya dilirik menjadi pengurus PSSI yang kelak kemudian menjadi Ketua Umum PSSI dan membuat program terobosan pembinaan bibit muda berlatih ke Italia serta Program Naturalisasi pemain asing. Prestasi tertingginya adalah menjadi Runner Up piala Asia dan harus lengser dari jabatannya karena negara bersama publik melengserkannya

Kesuksesan mendongkrak PUSKUD menjadikannya dilirik menjadi Pengurus INKUD di Jakarta. Membentuk Koperasi Distribusi Indonesi yang berhasil menstabilkan harga minyak goreng saat pada saat harga meroket tinggi. Namun keberhasilan itu disisi lain membuatnya berurusan dengan hukum yang kemudian divonis oelh majelis hakim dengan 2 tahun kurungan yang dimana semua orang tahu kalau NH di hukum karena situasi politik menjelang Pilpres saat itu

Namun demikian, Menjalani Kehidupan. pesantren sosial bukanlah akhir buang “SANG PETARUNG SEJATI”. Keluar dari kurungan didaulat menjadi ketua “Dewan Koperasi Nasional (DEKOPIN)”, meskipun pada saat itu beliau tidak bersedia, karir politik yang tetap cemerlang dengan menjadi Kerua Harian PARTAI GOLKAR serta didaulat menjadi Vice President of International Co-operation Alliace – Asia Pacific. NURDIN HALID is really “A RISK TAKER” yang tetap bersinar meskipun badai sempat mematikannya tetapi karena ketangguhannya NH berhasil keluar dari tekanan publik dan kembali bersinar dalam dunia politik dan bisnis

Tidak ada Pelaut Ulung yang lahir dari laut yang tenang adalah prinsip Hidup yang dia lakoni, Jaya dalam tantangan adalah gaya hidupnya, sehingga sederas apapun Ombak Kehidupan NH selalu hadapi dengan gaya dan caranya sendiri

Saat ini beliau Mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Sulawesi Selatan dengan mengusung Tema Besar Membangun Kampung, tentunya serangan Serta kampanye hitam akan mewarnai hari hari perjalanan beliau sebagai calon, NH selalu tenang dan cekatan dalam menyikapi serangan yang dialamatkan kepadanya, karena baginya tantangan adalah seni, seni mengelola situasi, bagi dirinya menghadapi Lawan Politik perlu kesabaran dan ketangguhan, haruslah dihadapi bukan bersembunyi

Saya bukanlah yang terbaik tetapi saya hadir untuk berbuat baik itulah kalimat Syaidina Ali Bin Abi Thalib yang selalu menjadi Nafas dari setia langkah pengabdiannya. (*)

(Penulis adalah Juru Bicara NH-AZIZ)

Baca Selengkapnya
Advertisement

Terpopuler