Opini

Opini: Komunikasi Gesture Jokowi Sikapi G4/11

foto-prescon-jokowi

attoc-suharto

 

 

 

 

Oleh: Suharto, M. Si.

Gerakan 4 Nopember 2016, (kemungkinan) akan menambah deretan panjang sejarah pergerakan di Indonesia. Dalam cuplikan historis, G4/11 boleh jadi akan menyamai (secara kuantitas) pengerahan massa di era 66, di era 98 dan 2000, dimana era tersebut adalah rentetan sejarah pergerakan yang sangat massif, dan tidak hanya bersumber dari satu elemen bangsa.

G4/11 pun demikian, bahwa aksi yang secara spesifik menjadi mediumnya para ummat islam itu, sumbernya bukan hanya dari front-front pembela islam saja, tetapi hampir semua steakholders turut ambil bagian dalam barisan, seperti organisasi kepemudaan islam, organisasi massa berbasis islam, tokoh-tokoh islam dan lainnya bahkan menjadi motor penggerak dengan mengeluarkan himbauan aksi solidaritas di seluruh wilayah/daerah, terurama Jakarta dan sekitarnya. Ikhtiar para ulama dan tokoh-tokoh islam tersebut sangat memperoleh respon positif di mana-mana sehingga bukan hanya di jakarta, tetapi hampir semua kota-kota besar di semua provinsi melakukan aksi solidaritas seperti Surabaya, Makassar, Palu, Kalimantan, Sumatera dan lainnya.

Gerakan yang sangat terencana dengan baik ini, memantik perhatian masyarakat dunia dan menuai pujian karena aksi yang tercipta selepas shalat jum’at tersebut dengan memulai titik star dari masjid istiqlal Jakarta, dengan stimasi massa jutaan orang bergerak menyemut menuju istana negara dengan tertib, daman dan terkendali. Aksi Ahimsa tersebut diklaim oleh sebagian besar kalangan (termasuk komnas HAM) menilai G4/11 sebagai aksi paling termartabat sepanjang sejarah pergerakan di Indonesia.

Gerakan ini lahir dengan satu tekad bersama ingin menegakkan wibawa dan martabat dinul-islam yang tengah dinistakan oleh gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, terkait surat almaidah ayat 51.  Dalam sebuah kesempatan, Ahok sebagai komunikator politik yang tengah melakukan sosialisasi kepada masyarakat atas pencalonannya kembali menjadi calon gubernur periode kedua, telah melakukan “kesalahan fatal” dengan mengungkapkan kalimat “jangan mau dibohongi pakai surah almaidah ayat 51” untuk menepis issu-issu dan opini miring terkait dirinya yang satu-satunya dari kelompok minoritas “ummat kristiani dan keturunan Thionghoa” yang bertarung memperebutkan DKI-01. Kalimat itulah yang mengundang tsunami politik dahsyat bagi Ahok dan harus menerima resiko kebencian, dan perlawanan dari golongan mayoritas (ummat islam) di Indonesia.

Almaidahgate inilah yang menyebabkan ummat islam murka dan menggalang solidaritas agar Ahok mempertanggungjawabkan kata-katanya dan menuntut pemerintah dalam hal ini kepolisian agar menangkap dan memproses kasus hukum terhadapnya karena telah melanggar UU tentang penistaan agama.

Penjarakan Ahok!

Pada ikhtiar massa ummat islam dalam G4/11 tentang penegakan hukum terhadap oknum penista agama(terpusat di depan istana negara jakarta)dapat diacungkan jempol dan layak kita berucap syukur dan terima kasih karena ikhtisar dari gerakan dari siang hingga sore berlangsung penuh simpatik. Dengan lantunan takbir, dan pekikan Allahu Akbar mengiringi Tuntutan para “mujahid-mujahid” tersebut yakni mendesak negara (pemerintah) supayapenegakan hukum harus dilakukan sesegera mungkin dan mengadili dan menyeret ke pesakitan Ahok secepatnya.

Penjarakan Ahok Sekarang Juga, menjadi common issueyang menggema di tengah-tengah lautan manusia yang “menyerbu” jalan medan merdeka yang ingin menemui dan mendesak presiden Joko Widodo untuk menyampaikan sikap resmi mereka kepada pemerintah.

Dapat diyakini bahwa, jika tuntutan mereka tidak terpenuhi maka kemungkinan akan berlanjutnya aksi terus menerus akan terjadi. Hingga benar-benar para pendemo tersebut memperoleh kepastian hukum kasus Ahok tersebut. Terutama sikap yang ditunggu-tunggu adalah pernyataan resmi Presiden Joko Widodo agar memerintahkan kepolisian untuk mengadili mantan wakilnya saat menjadi gubernur di Jakarta, tanpa pandang bulu. Jika tidak, atau hingga beberapa saat atau beberapa hari kemudian, presiden asal Solo itu belum juga memberikan tanggapan dan belum mengambil keputusan terkait tuntutan mereka, maka kemungkinan massa akan semakin bertambah dan kemungkinan semakin tidak terkendali.Terlebih lagi, jika memungkinkan maka para demonstran akan mengarahkan sasaran tembaknya kepada joko widodo untuk mundur dari jabatannya jika terkesan melindungi Ahok.

Gesture Jokowi

Ekspektasi para demonstran yang ingin mencari keadilan terhadap pemerintahnya (presiden), tampaknya telah terjadi derau dalam istilah komunikasi. Yaitu proses komunikasi tidak dapat tercipta diakibatkan terjadi gangguan-gangguan teknis, baik yang disengaja maupun tidak sengaja di tengah prosesnya.

Signal kekecewan dari dalam istana negara atau istana kepresidenan telah dikirim oleh pihak istana, setelah para perwakilan aksi meminta bertemu Jokowi, yang ternyata mendapat tanggapan bahwa presiden telah meninggalkan istana sejak pagi tadi, sehingga niatnya ingin mengadu ke presiden tidak sampai secara langsung.

Sikap Jokowi yang pergi meninggalkan kediamannya, sebelum jadwal kunjungan “tamu kehormatannya” atau rakyatnya yang sudah melapor jauh-jauh hari ingin bertamu di istana, adalah sebuah isyarat komunikasi yang melambangkan ketidaksepahaman presiden terhadap rencana aksi tersebut. Dengan memilih jalan komunikasi non-verbal,menurutBarata bahwa: “Komunikasi non verbal yaitu komunikasi yang diungkapkan melalui pakaian dan setiap kategori benda lainnya (the object language), komunikasi dengan gerak (gesture) sebagai sinyal (sign language), dan komunikasi dengan tindakan atau gerakan tubuh (action language). Jokowi telah menyalakan morse pertanda bahwa mantan gubernur DKI itu dengan sengaja menjalankan fungsi komunikasi non-verbal jika ditarik pada pendekatan teori fungsi seperti pendapat Mark L Klopp yakni Jokowi menyikapi G4/11 dengan meninggalkan istana dan enggan bertemu rakyatnya sebagai pertama, bentukRepetisi ataumengulangi makna komunikasinya yang dilakukan sebelumnya melalui safari politik dan mengumpulkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan dua organisasi massa terbesar di Indonesia yakni Nadhlatul Ulama (NU) dan Muahammadiyah, mengonsolidasikan penanganan aksi G4/11 dengan mengedepankan semangat kebangsaan.kedua, Jokowi melakukan sebuah Subtitusi yaitu menggantikan dirinya dalam bentuk verbal untuk menyatakan penolakan terhadap G4/11. ketiga, Kontradiksi, yaitu sikap Jokowi yang memilih berlawanan dengan tuntutan demonstran, dan dapat disinyalir bahwa Jokowi sesungguhnya lebih berpihak dan ingin melindungi Ahok. keempat, Complementingyaitu Jokowi merasa sangat kecewa dan memperlihatkan sikap ambigu terhadap situasi sulit saat itu, sehingga melakukan bypass untuk pergi mengekspresikan Gegananya alias gelisah galau merananya. Dan kelima, adalah Jokowi memilih jalan Accenting atau penekanan bahwa Jokowi sungguh-sungguh sangat marah dan jengkel terhadap G4/11 sehingga memutuskan tidak akan pernah mau menemui mereka yang mengganggu kepentingan politik dan mempertegas keberpihakannya. Serta yang terakhir bahwa Jokowi lebih mendahulukan kepentingan politiknya di atas kepentingan bangsa dan negara, dengan menugaskan kepada Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Wiranto dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno untuk menerima para laskar penegak wibawa dan martabat islam itu di istana.

Proxemik Jokowi!

Sikap presiden membelakangi ummat islam dalam G4/11, merupakan stereotype  yang tidak menggambarkan jatidiri seorang Jokowi sesungguhnya, bahwa sikap tersebut sangat bertentangan dengan model komunikasi yang dianutnya, sikap ramah tamah dan inklusifitasnya dalam berinteraksi, budaya blusukan yang menjadi ciri khasnya sangat kontradiktif dan kontraproduktif hari itu. Jokowi, tampak seperti sangat (maaf) paranoid dan kelihatan merasa sangat terpukul dengan situasi tersebut.

Berbagai spekulasi, persepsi dan analisa atas sikapnya tersebut secara spontan berasumsi bahwa Jokowi sepertinya tidak memeiliki sense of belonging  sebagai seorang muslim dan terkesan anti islam, Jokowi pergi tatkala “saudara seimannya” mendatanginya pertanda bahwa Jokowi hanya ingin berkomunikasi proxemik dengan tokok-tokoh G4/11.

Proxemik atau bahasa ruang dari salah satu bagian dari komunikasi non-verbal, yaitu jarak temasuk lokasi dan tempat yang digunakan Jokowi ketika harus berkomunikasidengan dengan massa ummat islam. Jokowi, dalam perspektif pengaturan jarak adalah upaya untuk memperlihatkan kepada publik bahwa sejatinya Jokowi lebih dekat ke Ahok daripada yang lainnya, termasuk sikap penghargaan Jokowi lebih besar nilainya kepada Ahok daripada massa pendemo. Dengan proxemik aksentuasi komunikasi Jokowi mengalihkan perasaan tidak suka dan tidak perhatian pada massa G4/11, juga menunjukkan simbol sosial yang memberi pesan kepada publik bahwa Jokowi masih mengharakan Ahok memperoleh ruang politik di masyarakat. Dalam ruang personal, Jokowi dan Ahok memilik jarak intim yang sangat dekat, sehingga wajarlah jika saling melindungi dan saling menjaga.

*****

Akhirnya, bahwa gerakan 4 nopember 2016 kemarin di satu sisi menjadi momentum rentetan sejarah dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang memiliki hikayat tersendiri, dan menjadi aksi paling terencana dengan, santun, damai dan bermartabat. Tapi, menyisakan “skrip misteri” di lain pihak, sebuah aksentuasi yang dilakoni Presiden Jokowi tampaknya di luar skenario “sutradara aksi”, yang telah memuat sebuah alur cerita yang konon akan diperankan oleh Mas Joko (sapaan penulis terhadap pak presiden ketujuh RI), namun Mas Joko lebih memilih membuat narasi dan menentukan action sendiri yang sangat bertentangan dengan cerita fiksi yang kerap diperankannya.

Jalan baru Jokowi dalam berlaga di serial dramaturgi politik malah mampu mengdeleting sebagian file-file tuntutan terhadap kasus Ahok, dan menjadikan dirinya sebagai salah satu bagian yang pasal turunan yang harus dituntaskan dalam gelaran perkara berbangsa dan bernegara di negara pluralis, bercorak demokrasi dan negara hukum, negara pancasila yang dipimpinnya hari ini, seolah sikapnya membelakangi massa ummat islam sama kadarnya menghilangkan makna-makna dan simbol serta semangat diproklamirkannya negara ini, Indonesia! []wallahu a’lam bissawwab.

Palu, 06 Nopember 2016

Penulis Adalah Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Palu dan Alumni Lemhannas RI (unsur kepemudaan) Angk. V Tahun 2013

==BAGIKAN==
SPONSORED CONTENT
loading...
Loading...
loading...
Comments

Terpopuler

To Top