Opini

HMI vs Jokowi, “Waspadai Reinkarnasi PKI”!

Oleh Suharto, M.Si.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah sebuah organisasi mahasiswa yang tidak pernah sepi dari dinamika, sejak lahirnya pada 05 Februari 1947. HMI yang dilahirkan oleh sekelompok kecil mahasiswa islam di Jogjakarta, dimotori anak muda yang bernama Lafran Pane itu, terbilang organisasi yang paling dinamis dan sangat mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena, dimensi keummatan, dimensi kebangsaan dan kemahasiswaanlah yang mengharuskan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia ini membawanya ke dalam gerak dinamik yang sarat dengan resiko-resiko rendah maupun besar (low risk and right risk) mengancam, baik kader-kadernya, maupun secara kelembagaan HMI. Geliatnya yang berperan sebagai agent of change  dan moral force tersebut menasbihkan eksistensinya sebagai bagian yang patut diperhitungkan dan bahkan terkadang kerap melakukan aksi reaksi yang sangat kritis terhadap pemerintah dan elite politik.

HMI dan politik begitu sangat dekat, saking dekatnya, organisasi ini memiliki cara pandang sendiri dan karakter khusus dalam menyikapi masalah kebangsaan dan politik. Organisasi ini mempunyai kamus khusus yang digunakannya setiap menginterpretasikan dan atau menginternalisasikan hal-hal yang berhubungan dengan politik kebangsaan dan politik keummatan. Idiologi, politik dan strategi taktik yang menjadi landasan moril kader-kader HMI menempatkannya di satu tempat khusus dalam dimensi ruang ke-Indonesia-an.

Dalam sejarah perjalanan HMI, hampir pasti inhern dengan sejarah perjalanan pergerakan kemahasiswa secara nasional, Hebat kan?. Lantaran, si Hijau-Hitam (branding HMI) itu, senantiasa mampu menjamah dan tanggap terhadap situasi dan kondisi kekinian, baik dalam menyahuti dan bahkan menjemput aspirasi dari bawah, akar rumput (grassroot) maupun menerjemahkan setiap kebijakan negara. HMI begitu telaten, ia begitu agresif dan proaktif dalam menyikapinya, bahkan di setiap sikap atas problematika kebangsaan, HMI tetap memperlihatkan sebuah gelagat proyeksi dari setiap kebijakan negara. HMI begitu visioner dan sangat reaktif dalam memberikan sumbangsi saran dan pikirannya yang konstruktif mengenai politik Indonesia dan masa depannya.

Pun HMI kadang menjadi targetman, atau diposisikan sebagai kekuatan penyeimbang (social of control) yang harus dilumpuhkan dan diamputasi demi menjaga kebijakan negara dan atau jika dinilai meruntuhkan wibawa negara dan elite-elite tertentu. Karenanya, HMI dalam pergolakan kepentingan nasional, sudah terbiasa dimusuhi oleh pihak-pihak tertentu, tetapi juga senantiasa mendapat “perlindungan-perlindungan” tertentu pula dari pihak lainnya. Setidaknya, secara historis situasi sulit dan masa-masa krusial yang tampak mencolok dalam matarantai perjalannya adalah HMI “dipaksa” berseberangan atau berlawanan secara “idiologi dan mainstream” pergerakan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta kroni-kroninya. HMI Melawan?

HMI Vs PKI ( Sekedar Refleksi)

Dalam pandangan subyektifitas, sebagai anggota dan kader HMI, sudah dipastikan dalam menyelami dan memahami sejarah ke-HMI-an otomatis disuguhi melalui forum perkaderan formal sejak Basic Training atau Latihan Kader I, Intermediate Training atau Latihan Kader II dan Advance Training atau Latihan Kader III, baik melalui pemateri hingga cerita hikayat kebesaran dan kejayaan HMI dari masa ke masa oleh senior-senior, termasuk penulis pada medio 1997 – 2005 saya aktif di organisasi ini.

Acapkali, dalam setiap forum perkaderan maupun obrolan lepas dan kultum-kultum di sekretariat HMI tak pernah terlepas dari persoalan sejarah perjuangan HMI. Dari awal, sudah terbaca bahwa benar HMI dan politik itu sangat dekat. Setidaknya, konklusi singkat yang terekam dalam ingatan semua anggotanya, bahwa HMI tidak phobia-politik, tapi tidak menganut atau menjadi organisasi gerakan politik (praktis), karena disadari bahwa organisasi ini adalah organisasi independen dan tidak terikat permufakatan dan kepentingan dengan partai politik atau asosiasi gerakan politik manapun. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa HMI memang telah mengasosiasikan keberadaannya di percaturan pergerakan dengan karakternya sendiri dan secara strategis-taktis kelihatan bahwa HMI memang memahami pentingnya sebuah politik gerakan dalam mendesain sebuah pola pergerakan, baik bentuknya demonstrasi pemikiran maupun sifatnya demonstrasi jalanan, HMI terlihat tampil beda dari yang lainnya. Politik gerakan yang diperankan HMI semata hanya sebuah refleksi atas keresahannya terhadap kondisi kebangsaan yang sangat memprihatinkan, mengharuskannya untuk senantiasa membuat bangun rancang pergerakan, baik tujuannya mengkritik negara karena kebijakannya sangat tidak pro rakyat dan tidak menguntungkan kepentingan nasional, maupun reaksi-aksi yang menyoal dinamika perdinamika yang  tumbuh setiap saat, apakah tercipta dari dalam partai politik maupun intrik politik yang bersumber dari unsur-unsur pekerja dan kelompok kepentingan, dan dalam pembacaannya, ada sebuah keganjalan, terdapat kekeliruan dan bahkan sangat merugikan rakyat. Maka, lahirlah beberapa prakarsa aksi-reaksi yang menjadi panggung perjuangannya. Dan medan perjuangan yang paling “diminati” oleh HMI adalah demonstrasi jalanan.

Singkatnya, HMI berjuang untuk Indonesia dan bangsanya, tidak pernah terhindar dari konsekuensi-konsekuensi logis maupun lainnya, tatkala HMI mengibarkan panji perjuangan maka di saat itu pula disambut dengan ancaman, rintangan dan bahkan perlawanan. Dengam motto “Yakin ausaha sampai”, orgamisasi ini tidak pernah gentar sedikitpun hanya karena tekanan, ancaman dan bahkan resiko hidup.

Kelembagaan HMI dan kesuksesan para kadernya lintas generasi, terbilang cemerlang dan sangat cerdas membawa diri dan organisasinya “bergaul”, berinteraksi dan bersenyawa dengan bangsanya. Terekam di jejak langkahnya, begitu HMI mengalami rintangan pelik di awal masa lahirnya, sulitnya meyakinkan semua pihak untuk mewujudkan tujuan eksistesinya. Bahkan, tak ayal dalam perjalanannya terpaksa jatuh bangun berjuang, demi sebuah ekspektasi ingin mengembalikan situasi kebangsaan yang bermartabat, kondisi kemahasiswaan yang ideal dan koidisi keummatan yang madani.

Sejak 1947, HMI mengawali perjuangannya dengan sangat tertatih-tatih, hingga 1966, tersorot dinamika tajam, terbentang rintangan menjadi penghalang, tersudut di ujung jurang untuk dihentikan langkahnya, dibungkam ketajaman berpikirnya hingga pada resiko mengenyahkannya di ruang politik nasional alias dibubarkan. Riak gelombang perjuangan HMI terus menerus menggulung dan merasuki setiap rencana juangnya, hingga pada medio 1965 – 1966, aksi reaksinya mampu menjadi motor penggerak gerakan kemahasiswaan, gerakan-gerakan moril yang antraktif dan sarat nilai itu membuat partai komunis indonesia (PKI), partai penguasa di era pemerintahan Soekarno kebakaran jenggot atas hentakan daya gedor HMI, kemudian sepertinya PKI kehabisan akal mengatasi HMI tetapi tidak menemukan jalan, dan terus menerus berupaya melakukan politicking terhadap HMI agar HMI di matikan langkahnya sebagai solusi untuk mengakhiri masa HMI bermain di ruang-ruang publik kritis. PKI berusaha keras mempengaruhi pihak istana, meyakinkan presiden agar organisasi ini dibubarkan secepatnya.

Hingga waktu terus berlalu, upaya PKI tidak pernah surut dan terus memutar otak, merancang strategi agar HMI dapat dilumpuhkan. Gerakan PKI beserta antek-anteknya seperti CGMI dan GMNI (maaf kalo salah) semakin bereskalarif karena HMI tentu tidak rela jika dibubarkan, karenanya sesuai dengan philosofi politiknya, bahwa dalam menghadapi lawan maka perlu politik gerakan agar dapat terhindar dari agresi politik PKI. Politik gerakan yang menggeliat itulah membuahkan hasil, berbagai dukungan berdatangan dari berbagai kalangan agar presiden tidak tergoda rayuan PKI yang ingin membubarkannya. Sokongan dukungan tersebut bukan hanya lahir dan datang dari masyarakat dan unsur mahasiswa dan kepemudaan, tetapi bahkan mampu menembus dan merangsek ke dalam pemerintahan dan elit politik serta elite militer. Seperti Jenderal Besar Soedirman, yang lebih duluan mengabarkan kepada PKI jika ingin bubarkan HMI “langkahi dulu mayatku” pekik Sang Jenderal kharismatik tersebut, menyikapi geliat PKI dan perlakuannya ingin membubarkan HMI.

Setelah Pak Dirman, semakin deras dukungan membentengi HMI agar tidak dirobohkan oleh serdadu PKI, bukan hanya dari militer hijau royo-royo (julukan militer yang membela HMI), tapi juga dari partai politik yang berhaluan kanan (islam) seperti Masyumi dan Parmusi. Kader-kader partai ini yang duduk di pemerintahan juga melingkar ke ring istana, dekati Soekarno agar jangan menuruti kemauan politik PKI. Melihat, setuasi demikian, HMI memperoleh dukungan dari berbahai pihak, maka perjuangan untuk membubarkan HMI terpatahkan, terbantahkan dan terhenti, sesaat setelah presiden Sukarno mengeluarkan kalimat GO AHEAD, HMI!”. Alhamdulillah!

Pasca keluarnya tanggapan atau sikap Bung Karno yang tetap mempersilahkan HMI tetap ada, hidup tumbuh berkembang sebagai bagian dari bangsa ini, menjadi antitesa terhadap derasnya desakan dan dorongan PKI untuk memenangkan langkahnya atas duel rivalitasnya dengan HMI. Dalam waktu bersamaan, tentunya yang keluar sebagai pemenang dalam kategori rivalitas itu adalah HMI, bahkan tidak butuh waktu lama, niat PKI bubarkan HMI menjadi senjata makan tuan, setelah tragedi G30S/PKI pada 1965, maka PKI dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia. HMI Selamat!

Selanjutnya, atas sikap Presiden Pertama RI itu, amat sangat menentukan langkah berikutnya dalam meneguhkan eksistensi HMI di panggung pergumulan kehidupan berbangsa, menghadapi rintangan-rintangan berikutnya dan etafe demi etafe problematika yang kemungkinan dan akan dilalui, rezim demi rezim hingga keberadaan HMI hingga kini, yang sudah berusia tua, semakin dewasa dan semakin energik. Karakter yang melekat padanya atau stereotype sebagai organ kritis tetap terjaga, tak hentinya melakukan akselerasi gagasan, letupan-letupan aksi reaksi yang tidak pernah surut, lengah dan terlambat. Itulah, setidaknya yang terlihat hingga kini, dimana situasi di internal HMI tidak pernah berubah meskipun telah tua dan sarat pengalaman pergerakan dan pergolakan, melewati fase orde lama, orde baru dan orde reformasi, bukan sesuatu yang membuat organisasi HMI berpuas diri, dan mengurung diri, membiarkan dinamika dan riuh riak hidup dan politik nasional berlalu begitu saja di hadapannya. Itulah sebabnya, HMI begitu tergugah oleh seruan aksi yang datang dari ulama-ulama dan tokoh-tokoh islam pada rencana Gerakan 4 Nopember 2016 kemarin, HMI tetap ikut dan menjadi bagian terdepan dalam aksi itu. Janji HMI pun ditunai, seluruh kader dan dan segenap organnya pun bergerak, mulai di pusat (PBHMI), hingga ke daerah (Badko-badko, cabang-cabang dan komisariat-komisariat) diperintahkan ikut aksi, dan fakta berbicara bahwa HMI tak hanya gertak sambal, di daerah-daerah gerakan TANGKAP DAN ADILI AHOK pun sangat mencolok warna HMI, sebagai motor dan kreator gerakan. Terlebih di Jakarta, seperti sejarahnya, HMI kerap kali menuai gejolak dan terseret ke dalam pergolakan yang mulanya hanya gerakan moril. Maka, HMI pun tersorot politicking, sering dibuatkan “jebakan politik”. Setidaknya, itu bisa dilihat dalam kasus demo Ahok di depan istana negara tersebut, dimana insiden pembakaran mobil aparat, yang meletus di akhir waktu dalam rangkaian (sekitar pukul 20.00 waktu Jakarta) gerakan ummat islam penuntut hukuman penjara terhadap Gubernur Jakarta Non Aktif yang telah terbukti menistakan islam itu, menjadikan HMI kembali menjadi sasaran tembak, dijadikan kambing hitam, menjadi ladang pengalihan issu. HMI dituding sebagai dalang kerusuhan dan insiden pembakaran mobil dan penjarahan adalah sesuatu yang by design dan patut dipertanyakan. Kini, HMI kembali bergejolak dan “kembali dipaksa” oleh rezim orde terbaru, dan diperlakukan tak ubahnya teroris dan penjahat negara lainnya. HMI Berduka!

HMI vs Jokowi! (Era Mawas Diri)

______Setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya______

Memang bicara zaman atau rezim adalah keywork dalam membuka tabir sejarah HMI pada fase awal di babak baru zaman pemerintahan Joko Widodo sebagai presiden ketujuh Republik Indonesia.

Melukis wajah HMI di masa Jokowi, kurang lebih sama bayangannya di beberapa fase perjuangan HMI melintasi era-era sebelumnya. Bahwa, dalam hitungam mundur, HMI di era Susilo Bambang Yudhoyono, sedikit akseleratif, dalam kurun sepuluh tahun, HMI diberikan ruang lebar untuk berkolaborasi dengan elemen bangsa lainnya, dalam membangun dinamika kebangsaan yang dinamis, diberikan kesempatan untuk mengekspresikan sikap dan aksi politiknya. Menengok lebih ke belakang lagi, saat Megawati Soekarno Putri presiden, melanjutkan tampuk kepemimpinan nasional dan mengambilalih kekuasaan negara, kehidupan HMI juga terlihat agak bebas aktif berekspresi dan berinteraksi di laman kebangsaan, HMI di masa presiden kelima itu, tampak mewarnai aksentuasi laga-laga krusial di pentas politik kebangsaan yang masih berstatus transisional tersebut.

Pandangan sama pun dapat dilihat, tatkala kita sedikit lebih mundur lagi,  tepatnya Tahun 1999-2002 yang presidennya adalah tokoh dan ulama kharismatik dan penggiat pluralisme, KH. Abdurrahman Wahid alias Gusdur, HMI mendapat ruang ekspresi yang terlihat sempit tapi sangat strategis, HMI mengubah gaya bermainnya, yang sebelum-sebelumnya sangat terbuka dan impressif, kemudian meninggalkan sejenak gaya itu, melakukan adaptasi gerakan berdasarkan style kepemimpinan Presiden dari Poros Tengah tersebut, dan mengandalkan countre attack, memainkan peran dalam racikan strateginya bertumpu pada wingbeck atau mengandalkan akselerasi aksi dari kader-kader HMI non struktural lebih dominan, menempatkan gerakan lahir dari lembaga-lembaga formal kampus, tapi satu komando dari HMI dalam berjuang di masa itu.

Mendekati zaman perjuangan krusial, orde baru, sebelum rezim Gusdur, maka HMI tampak sangat bergairah dan bahagia di zaman pemerintahan Presiden Ketiga Prof. Dr. Ing. Baharuddin Jusuf Habibie, bahagia lantaran (sebagai bagian dari elemen pendobrak kekuasaan rezim orde baru) baru saja selesai mengantar bangsa ini terlepas dari suatu masa pemerintahan yang otoriter-diktator dan sentralistik melalui drama aksi people power 1998. Dan bergairah karena HMI begitu “dekat” dengan Habibie, meskipun Habibie bukan kader HMI, tapi sikap dan kebijakan-kebijakan strategis selama pemerintahan dan kekuasaan politiknya senantiasa melibatkan kader-kader HMI dan menempatkan beberapa kader HMI di kabinetnya dan tempat-tempat strategis lainnya, mungkin lebih dari separuh kementerian di era beliau adalah kader HMI. Karenanya HMI begitu leluasa, bergairah dan terstimulus, semangat juangnya berlipat ganda untuk menjadi modal dalam beradaptasi dengan era baru yang bernama REFORMASI DAN DEMOKRATISASI. HMI Survive!

Lika liku hidup HMI tersebut, menuntun kita untuk menyelami kehidupan baru dan kemungkinan-kemungkinan negara menempatkan dan memperlakukan HMI berikut kadernya bagaimana dan dimana dalam medium zaman Joko Widodo saat ini sebagai “pengendali” rezim paling baru? Kemudian, mencoba melakukan sinkronisasi agar dapat menginterkoneksikan proyeksi dan tabiat pemerintah memandang dan memposisikan HMI dari beberapa dekade ke belakang. Hingga, Masa Jokowi adalah masa baru, terbaru dari sudut pandang manapun, termasuk pengharapan terbaru (termasuk HMI pasti) bahwa di masa ini, ada perubahan mendasar dalam kerangka kehidupan berbangsa, dan semua elemen bangsa ini diyakini bahwa sangat besar harapannya terhadap kepemimpinan Jokowi untuk (setidaknya) dapat mengantar Indonesia menuju Indonesia Baru, yang lebih demokratis, bermarabat dan lahirnya good governance and clean government. Tetapi, setelah lebih kurang dua tahun berkuasa, tampaknya harapan-harapan rakyat terhadapnya akan tinggallah sebuah harapan, dengan berbalut skeptis dan apatis melihat situasi saat ini, maka rezim Jokowi hanyalah sebuah fatamorgana.  Bagaimana HMI?

Sepertinya, HMI akan bernasib sama seperti di masa orde lama, yakni era mawas diri. Dimana, sinyalemen itu diperkuat saat membaca peta gerakan yang melibatkan HMI secara kelembagaan pada G4/11 julukan gerakan ummat islam yang terbesar kuantitasnya sepanjang sejarah itu. Bahwa, HMI kembali mendapat lawan tanding di dalam beradu akting di depan “kamera” dalam potret kepolitikan nasional, HMI harus bersiap diri, layaknya sebagai aktor laga sinema yang tengah terpilih sebagai pemeran utama (starring), HMI mau tidak mau, dituntut untuk menguasai skrip dalam rencana “drama-politik” yang akan tayang di layar-layar lebar ke depan, bahwa perlu strategi baru dalam menyikapi sinopsis dan desain skenario negara yang (ketika) harus beroposisi dengannya, maka bersegeralah dalam mempersiapkan segala sesuatunya, sebagai gerak tindak reflektif mawas diri untuk mengantar, mengawal, mengiringi dan atau mengawasi jalannya kehidupan negara-bangsa ini pada masa-masa mendatang, terutama jika harus berada dari arah yang berlawanan. Pertanyaannya, apakah lawan tanding HMI kali ini sebanding atau tidak? Apakah HMI masih memiliki lucky atau tidak? Apakah HMI masih bernyali atau tidak? Apakah HMI masih kritis atau tidak?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol itu, tidak penting!. karena kita kembali lagi bahwa setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Menghindarkan kita untuk tidak penting menjawabnya. Yang patut dinantikan adalah tentu, MAHAKARYA HMI diharapkan lahir di era ini, sebagai pertanda bahwa organisasi yang bercorak islam ke-Indonesia-an tersebut, selalu mempunyai stok strategi dan dituntut untuk terus melakukan rekonstruksi, yang dapat  melintasi zamannya tanpa ragu, tanpa rasa takut, tetap menggigit, siap menggonggong, dan tak terlupakan HMI dalam menjalankan tugas kejuangannya senantiasa atas spirit yang tertulis dalam syair lagunya “jangan kembali pulang HMI kalu tidak ada menang, walau mayat terkapar di medan juang unyuk islam, HMI berjuang”. Yakin usaha sampai!

HMI hari ini, tidaklah penting untuknya untuk memaksa negara, berikut situasi saat ini, negara ingin menempatkannya di posisi mana, terserah!, biarkan negara memperlakukan HMI sesuai seleranya. Karena, HMI akan selalu siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi padanya. Padanya, HMI bukanlah organisasi yang lahir kemarin, dan tidak memiliki pengalaman tanding (sebaliknya, HMI sudah kenyang dengan itu), dan sebagai lumbung kader bangsa dan kader ummat, HMI memiliki stok kader petarung yang multi-position. Bahwa negara mau menempatkannya di pinggir lapangan, di tribun terbuka, bahkan di luar stadion pun, tetap siap dan selalu siap. Why Not?

Ya, Mesti siap, Karena gelagat pemerintahan Jokowi, mulai melirik HMI dengan satu mata, maka HMI harus berbenah, boleh jadi itu isyarat komunikasi yang memandang HMI sebelah mata, sama halnya menempatkan HMI sebagai organ non-esensil dalam dinamika kebangsaan yang (sedang) dibangun pada zamannya. Bagi HMI, belajar dari kasus G4/11 dan menjadikan HMI sebagai tersangka, menangkap Sekretaris Jenderal PBHMI beserta beberapa kadernya, adalah meningkatkan “kewaspadaan nasional”, harus mewaspadai sebuah gerakan terlahirnya kembali (rebond) aksi-aksi yang mengharuskan organisasi ini, mengulang prilaku buruk “elite negara” ingin dibubarkan seperti di era PKI silam. Tentu, cerita ikhwal PKI sudah tamat, sejarah kelam itupun sudah terkubur, tapi tidaklah tertutup kemungkinan, adanya reinkarnasi yang bersifat idiologis dan desain aksi yang meskipun bukan lahir dari keturunan-keturunan idiologis dan politis PKI, tapi akan ada orang atau siapapun yang berpotensi untuk memahami gerakan dan paradigma PKI dan menjadikannya sebagai sebuah mainstrem pergerakan memanfaatkan zaman Jokowi. Awas Opportuniesm!

Mawas diri dari gerakan reinkarnasi akan semangat dan idiologi PKI mesti menjadi fondasi diskusi HMI dalam melakukan bangun-rancang pergerakan apabila HMI benar-benar harus “berada di luar kekuasaan” dalam pergaulannya hari ini hingga esok nanti dalam lingkungan berbangsa dan bernegara. Insiden G4/11 adalah jalan baru yang dibuka untuk “mengkandangkan” HMI, bahwa oleh negara (rezim Jokowi) kemungkinan HMI akan selalu diperhadapkan dengan kekuatan-kekuatan politik dan kelompok-kelompok penekan dalam episode pergumulan politik harian dan rutinitas kelak. HMI harus lebih awal melakukan silent operation untuk mengkonsolidasikan gerakan solidaritas dengan semua elemen atau segenap kekuatan, memangun konsensus dalam sebuah kelompok sosial baru yang dapat mengimbangi perilaku negara kelak. Dan sebagai penekanan dari merambah jalan baru membangun gerakan sosial baru maka jangan pernah jauh dan jangan pernah melupakan MUHAMMADIYAH dan NAHDLATUL ULAMA!!!. Kita Selalu Bersama!

Akhir tulisan adalah kalimat pengharapan beringing permohonan syafaat Semoga HMI senantiasa memperoleh hidayah dan taufiq ilahi dalam melintasi setiap zamannya, dan dalam pencapaian tujuannya HMI senantiasa menjadikan independensi etis dan organisatorisnya sebagai nafas dan semangat dalam bergerak dan bersatu, berjuang bersama untuk satu tujuan INDONESIA BARU.[]wallahu a’lam bissawwab.

Bahagia HMI!

Palu, 8 Nopember 2016

Penulis: Mantan Aktivis HMI dan Dosen IAIN Palu 

alterntif text

BAGIKAN:
alterntif text
loading...
Loading...
Comments

Terpopuler

To Top