Opini

Hari Pahlawan: Menjaga Spirit Berbangsa, Waspadai Bentuk Koloni Baru!

bung-harto

Oleh Bung Harto

Salam Satu Bangsa, Salam Bung Tomo!

Kawan-kawan se-Bangsa dan se-Tanah Air…!

****

Hari ini telah mengingatkan kita kepada sejarah bangsa, seolah-olah kita terjaga dari tidur kita karena kita kedatangan sosok pemberani yang tiba-tiba mengetuk pintu nurani kita, kita lalu takjub dan bangsa melihat sosok itu dan kita tak sadar berteriak Merdekaaaa karena yang datang adalah seorang patriot bangsa yang energik, kuat dan lantang dalam meneriakkan kalimat-kalimat Merdeka, yaitu SEMANGAT BUNG TOMO!

Hari ini, para Bung Tomo-Bung Tomo muda itu adalah kita, bukan hanya milik Surabaya, tapi juga milik kita, milik anak-anak Indonesia dari Papua sampai Sabang, karena kita sebagai satu bangsa….!

Hari ini, 10 Nopember 2016 momentum bagi kita semua (terutama saudara-saudara kita di wilayah Surabaya, Jawa Timur), untuk mengenang jasa para syuhada-syuhada bangsa, yang telah menorehkan sejarah perjuangan bagi bangsa ini, sehingga bisa menjadi bangsa yang mandiri, berdaulat dan Merdeka!

Bahwa, tepatnya di kota Surabaya pada momentum 10 Nopember 1948, adalah hari yang menandakan bahwa betapa gigihnya para pendahulu kita, betapa kuatnya para petarung kita, betapa energiknya para revolusioner kita, sedikitpun tak kendur dalam bertempur, sedikitpun tak mundur terus menggempur, meski lelah tetap melangkah, meski darah terus bersimbah, terus maju dan gelorakan semangat perlawanan, baginya, tak cukup jika hanya berkorban waktu, tak rela hanya berkorban tenaga, tak kuasa hanya berkorban raga. Bagi mereka, para pejuang patriot bangsa, jika harus berkorban lebih dari waktu, tenaga dan raga, maka dengan tekad baja di dada, untuk ibu pertiwi maka nyawapun mereka ikhlaskan untuk disumbangkan di medan juang, dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan tanah kita kita. Para patriot-patriot negeri, betapa memiliki komitmen dan tekad yang kuat agar bangsanya tidak kembali terjatuh dalam jurang penjajahan. Karenanya, mereka pun bersatu, bersiasat dan bertempur di medan juang, menghalau, mengusir dan bahkan melumpuhkan hasrat kolonial Belanda pada aksi agresi militer keduanya setelah proklamasi kemerdekaan kita. Agresi kedua tersebut yang merupakan kelanjutan atau turunan dari agresi militer pertama di wilayah Jogjakarta.

Sebagai anak bangsa, tentu kita patut memberikan penghormatan dan penghargaan kepada para pejuang-pejuang tersebut, merefleksikan cita luhur mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita hari ini dan seterusnya. Bahwa, dengan sedikit setback ke belakang berguru pada sejarah bangsa yang paling terdekat dari kita, adalah sesuatu yang penting untuk kita lakukan. Tak cukup hanya untuk mengenang, tak cukup hanya sekedar mendoakan arwah para pahlawan kita, yang paling utama bagi kita adalah menjaga semangat perjuangan mereka, meneruskan cita-cita mulia mereka, agar bangsa yang besar ini yang telah diwariskan kepada kita dapat tetap terjaga keutuhannya, terjaga semangatnya dan tidak tidak perah kendur usahanya untuk membentengi, mengawal dan mengisi kemerdekan demi mewujudkan tujuan berbangsa dan bernegara sebagai sebuah bangsa yang berdaulat, sebagai sebuah negara yang kuat dan sebagai sebuah negara-bangsa yang mendambakan kehidupan nasional yang damai, sejahtera, adil dan makmur, serta berkeadilan. Sebagaimana termaktub dalam lima sila pada azas negara kita, PANCASILA!

Sebagai negara Pancasila, maka tentu para pendahulu kita pun berharap agar, para pewaris peradaban yang dititipkan kepada kita harus senantiasa menjiwai dan mengamalkan falsafah yang terkandung di dalamnya. Tuntutan itu tentu berlaku bagi semua manusia yang bernaung dan bermukim di dalamnya sebagai warga negara. Bahwa tuntutan penjiwaan dan pengamalan itu bukan hanya slogan, bukan pula hanya di tujukan kepada rakyat, tetapi semua warganya, termasuk PEMIMPINNYA!

Bukan hanya Saya, Anda, Kamu, Kita, Kami dan Mereka…!!!! Tapi KITA SEMUA…. SEMUA…. dari Rakyat hingga PRESIDEN. Tidak hanya laki-laki ataupun perempuan, Anak-anak, remaja, pemuda maupun yang Tua, bukan tugasnya kaum urban, bukan hanya tanggungjawabnya kaum pinggiran, bukan hanya tugasnya warga perbatasan. Bangsa ini dititipkan oleh para pahlawan kita kepada seluruh anak-anaknya, segenap tumpah darahnya, tidak penting dia di kota, tidak penting dia tinggal di pedesaan, tidak penting penghuni suku terdalam, suku terluar, di daerah pegunungan hinggga masyarakat pesisir dan kepulauan, semuanya adalah ahli waris yang sah bagi bangsa ini, dan baginya diberikan tugas yang sama, tanggungjawab kebangsaan yang sederajat, bahwa segenap ahli warisnya harus senantiasa menjaga harkat dan martabat bangsanya, mengisi kemerdekaannya, meneruskan cita-cita pejuangnya, mengantar bangsanya menggapai cita-cita mulianya.

Setidaknya, sebagai refleksi di hari pahlawan, mesti kita belajar dari 10 Nopember bahwa kita melawan bentuk koloni yang akan menggempur kita dalam bentuk baru. Bahwa, begitu penting kita memetik hikmah dan memompa spirit kebangsaan kita dari kota pahlawan, Surabaya, sebagai kota yang menjadi medan tempur para pahlawan kita, untuk kita berbenah mawas diri dan menumbuhkembangkan semangat kebangsaan kita, menyemai ulang semangat persatuan kita, sebagaimana keberhasilan Arek-Arek Suroboyo bersama Bung Tomo gelorakan semangat perlawanan, semangat persatuan menghadapi agresor hingga mengenyahkannya dari bum pertiwi.

Karenanya, mari kita tanamkan semangat patriotisme dan semangat nasionalksme BUNG TOMO pada diri kita masing-masing, dan menjadikan momentum 10 Nopember sebagai hari bangkitnya Indonesia sebagai bangsa yang terbebas dari belunggu Asing, dalam bentuk lain.

Membela bangsa, membela negara kita berarti kita siap sedia untuk berkorban membentenginya dari bentuk-bentuk kolonialisasi gaya baru, kita harus membuktikan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang diwariskan oleh para pahlawan-pahlawan bangsa, yang telah bersusah payah merintis, merancang, membangun dan memerdekannya hingga kita bisa berdaulat seperti yang kita lihat dan rasakan hari ini.

Sebagai bangsa yang besar, maka sepantasnyalah kita harus memberikan ruang penghormatan dan penghargaan hang tak terhingga kepada para pejuang-pejuang bangsa. Karena bangsa yang besar adalah “bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Pekik Bung Tomo.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarhanya,maka sebagai bangsa yang besar maka “jangan sekali-kali melupakan sejarah atau JASMERAH” Teriak Bung Karno.

Marilah kita sebagai bangsa yang besar, tunjukkan kepada jagat raya ini, bahwa dengan semangat para pahlawan maka jangan pernah mau dijajah di tanah sendiri “jangan pernah takut bertempur dengan penjajah gaya baru, jangan pernah biarkan koloni-koloni baru merampas, menjarah dan menguras kekayaan kita, siapapun dan darimanapun dia, mari kita LAWAN!

MERDEKA!

Palu 10 Nopember 2016

Penulis: Wakil Ketua Markas Daerah LASKAR MERAH PUTIH (LMP) Sulawesi Selatan dan Ketua Generasi Muda (GM) TRIKORA Kota Makassar

BAGIKAN:
alterntif text
Comments

Terpopuler

To Top