Nilai Utang Pajak Google di Indonesia Bikin Melongo | Makassar Today
Connect with us
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text

Tekno

Nilai Utang Pajak Google di Indonesia Bikin Melongo

Published

on

JAKARTA – Direktorat Jenderal Pajak (DJP) masih berusaha mencari jalan penyelesaian utang-utang pajak Google di Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui DJP pernah menawarkan tax settlement alias “pengampunan pajak” untuk Google. Namun, proses tersebut agak tersendat lantaran nilai tax settlement yang diajukan Google dianggap terlalu kecil.

Berdasarkan hitungan DJP, diprediksi raksasa internet itu memiliki utang pajak sebesar Rp 1 triliun yang belum terbayar sejak 2011. Ditambah dengan denda 4 triliun (400 persen), maka Google berutang pajak sebesar Rp 5 triliun.

Padahal, jika menerima tawaran pemerintah, Google cukup membayar utang pajak asli ditambah denda 150 persen jika menerima tawaran tax settlement dari pemerintah Indonesia.

Dilansir KompasTekno dari Reuters, Sabtu (17/12/2016) keterangan sumber menyebutkan bahwa perkara utang pajak Google ke pemerintah Indonesia diprediksi belum akan kelar hingga akhir 2016.

Sementara itu, sejauh ini pihak Google menolak berkomentar tentang perkembangan terbaru ini dan hanya mengulangi pernyataan bahwa pihaknya telah menjalankan kewajiban sebagai perusahaan yang beroperasi di Indonesia sesuai porsinya.

Diketahui nilai transaksi bisnis periklanan di Indonesia pada tahun 2015 saja mencapai 850 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,6 triliun. Sebanyak 70 persen angka tersebut dikuasai Google dan Facebook.

Pemerintah Indonesia berharap persoalan pajak dengan Google bisa cepat selesai agar lebih mudah menagih pajak ke perusahaan digital asing lain yang beroperasi di Indonesia, seperti Facebook dan Twitter.

Sumber: Kompas.com

BAGIKAN:
Comments

Tekno

Catat, Selfie Berlebihan Masuk Kategori Kelainan Mental

Published

on

By

Makassartoday.com – Tahun 2014, beredar kabar bahwa American Psychiatric Association menetapkan istilah “ selfitis” untuk mengacu pada kelainan mental berupa kegemaran mengambil dan posting selfie secara berlebihan.

Kabar tersebut ternyata cuma hoax belaka. Namun, sekelompok peneliti dari Notthingham Trent University dan Thiagarajar School of Management di India rupanya penasaran. Mereka ingin mengetahui apakah femomena ini benar-benar ada.

Sebuah studi pun dilakukan dengan melibatkan responden 225 mahasiswa dari kedua kampus. Hasilnya? Tim peneliti mengklaim bahwa kelainan mental “selfitis” ternyata memang nyata dan bisa dikategorikan.

“Kami nampaknya bisa mengkonfirmasikan keberadaan (selfitis) dan telah membuat ‘Skala Perilaku Selfitis’ pertama di dunia untuk mengevaluasi kondisi subyek,” tutur Dr. Mark Griffiths dari Departement Psikologi Nottingham Trent University.

Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The Telegraph, Senin (1/1/2018), hasil studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Mental Health and Addiction itu membagi “Selfitis” ke dalam tiga tingkatan, tergantung keparahan.

Pertama adalah “borderline Selfitis” di mana seseorang mengambil selfie setidaknya sebanyak tiga kali sehari, tapi tak mengunggahnya ke media sosial.

Kedua, “Selfitis akut”, yakni menjepret selfie, juga setidaknya sebanyak tiga kali, kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Tahapan ketiga yang paling parah adalah “Selfitis kronis” di mana seseorang memiliki dorongan untuk terus-menerus menjepret selfie sepanjang waktu, lebih dari enam kali tiap hari.

Tim peneliti menyusun 20 pernyataan yang mesti dijawab dengan “setuju” atau “tidak setuju” untuk mengukur tingkat keparahan “selfitis” responden. Contoh-contohnya seperti “Saya merasa lebih populer ketika posting selfie di media sosial” atau “Saat tidak mengambil selfie, saya merasa terasing dari grup”.

Studi menyimpulkan bahwa, dari ke-225 responden, 34 persen memiliki “borderline Selfitis”, 40,5 persen “selfitis akut” dan 25.5 persen “selfitis kronis”. Responden berjenis kelamin pria cenderung lebih rawan menunjukkan selfitis daripada perempuan, yakni 57,5 persen berbanding 42, persen.

“Kami harap akan ada riset lanjutan untuk menggali lebih jauh tentang bagaimana dan kenapa orang-orang mengidap perilaku obsesif ini, dan apa yang bisa dilakukan untuk menolong orang-orang yang menderita paling parah,” sebut Dr. Janarthanan Balakrishnan dari departemen psikologi Nottongham Trent University.

Namun tak semua pihak setuju dengan hasil studi di atas. Dr. Mark Salter, juru bicara The Royal College of Psychiatrists, misalnya, menyuarakan kritik dan mengatakan bahwa fenomena “selfitis” sebenarnya tidak ada dan tidak seharusnya ada.

“Ada kecenderungan untuk melabeli serangkaian perilaku kompleks manusia dengan satu kata. Tapi ini berbahaya karena bisa membuat sesuatu menjadi nyata, padahal sebenarnya tidak,” kata Salter. (Sumber: kompastekno)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Tekno

PUBG Masuk Gim Terpopuler di Dunia Tahun Ini

Published

on

By

Makassartoday.com – Tanpa diragukan lagi, gim PlayerUnknown’s Battlegrounds alias PUBG merupakan salah satu gim terpopuler di dunia tahun ini.

Seberapa populer gim ini? Dikonfirmasi, gim PUBG baru mengantongi 30 juta pemain di PC dan Xbox One. Padahal, gim ini baru lepas dari program Early Access di Steam selama sekitar sembilan bulan.

Nasib baik PUBG tak hanya terjadi baru-baru ini karena semenjak meluncur Maret 2017, gim ini sudah memecahkan rekor.

Gim ini bahkan berhasil tembus angka satu juta pemain saat meluncur di Xbox One hanya dalam waktu 48 jam. PUBG juga telah terjual lebih dari 20 juta kopi di PC.

“Kesuksesan PUBG saat ini membuat kami terpacu untuk menghadirkan gim sebaik mungkin di masa mendatang,” tulis PUBG Corp sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Senin (25/12/2017).

Pengembang pun berjanji untuk selalu memperbaiki dan menyempurnakan pengalaman gim bergenre Battle Royale ini, dengan memperkenalkan konten-konten baru di dalam PUBG secara berkala.

PUBG
Seperti diwartakan sebelumnya, Tencent baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan PUBG Corp untuk meluncurkan Playerunknown’s Battlegrounds (PUBG) di Tiongkok.

Dirilis untuk smartphone, Tencent menjanjikan pengalaman bermain PUBG ini akan serupa dengan gim versi PC. Demikian yang dikutip dari laman Polygon.

Rencananya, gim PUBG mobile ini akan lebih dulu diluncurkan di Tiongkok. Sayang, perusahaan raksasa asal Tiongkok itu belum memberikan tanggal pasti kapan gim ini meluncur di negara-negara lain.

Hadir dalam format mobile, PUBG yang meluncur untuk pangsa pasar Tiongkok ini akan mengalami perubahan beberapa hal di dalam gim. Salah satunya melokalisasi konten dan mengoperasikan gim secara langsung agar sesuai dengan preferensi gamer di Tiongok.

Tak hanya itu, Tencent juga bakal mengubah PUBG agar selaras dengan nilai tradisi, budaya, dan moral penduduk di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Sekadar informasi, PUBG merupakan gim survival di mana kamu dan 99 gamer lainnya diterjunkan ke sebuah pulau. Di sana terdapat senjata, pelindung, dan sejumlah fasilitas untuk melawan gamer lainnya.

Berjalannya waktu, area ‘aman’ di dalam pulau pun akan semakin menyempit. Dengan situasi ini, gamerdipaksa untuk bertarung agar menjadi orang terakhir yang bertahan hidup dan menjadi juara di dalam gim PUBG. (*)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Tekno

Pertumbuhan Distribusi Android Oreo dan Nouget Hampir Serupa

Published

on

By

MAKASSAR – Distribusi sistem operasi (OS) Android kerap mengalami perubahan setiap bulan. Data terbaru yang dirilis oleh Google pun menunjukkan ada sedikit perubahan pada bulan ini.

Distribusi OS Android Oreo (8.0) dan Nougat (7.0 dan 7.1) mengalami peningkatan dibanding bulan lalu.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Google selama tujuh hari yang berakhir pada 11 Desember 2017, kedua versi Android itu mengalami peningkatan distribusi antara 0,2 persen sampai hampir 0,3 persen.

Oreo yang merupakan versi Android terbaru naik dari 0,3 persen pada bulan lalu menjadi 0,5 persen pada bulan ini. Android Nougat juga mengalami pertumbuhan yang hampir serupa yaitu dari 20,6 persen menjadi 23,3 persen.

Di sisi lain, seluruh versi Android yang lain kecuali Ice Cream Sandwich mengalami penurunan. Android Marshmallow turun dari 30,9 persen menjadi 29,7 persen, Lollipop dari 27,2 persen menjadi 26,3 persen dan KitKat dari 13,8 persen menjadi 13,4 persen.

Android Gingerbread turun 0,1 persen dari 0,5 menjadi 0,4, sedangkan Ice Cream Sandwich tetap stabil di 0,5 persen. Data yang dirilis Google ini tidak memperlihatkan distribusi versi Android yang berada di bawah 0,1 persen. (*)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya