Agar Lebih Cepat, OJK Sederhanakan Proses Perizinan Penjualan Reksa Dana Melalui Bank | Makassar Today
Connect with us

BISNIS

Agar Lebih Cepat, OJK Sederhanakan Proses Perizinan Penjualan Reksa Dana Melalui Bank

Published

on

JAKARTA – OJK meluncurkan Sistem Informasi Perizinan dan Registrasi Terintegrasi (SPRINT) Penjualan Reksa Dana Melalui Bank Selaku APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana) dan Pendaftaran Akuntan Publik sebagai upaya mempercepat dan menyederhanakan proses perijinan.

Sistem ini mampu mengintegrasikan seluruh proses perizinan serta registrasi dari berbagai kompartemen di OJK yaitu pengawas pasar modal, perbankan dan industri keuangan non bank.

Melalui SPRINT, proses perijinan penjualan reksa dana melalui bank selaku APERD dipersingkat dari 105 hari menjadi 19 hari kerja saja.

Sementara proses pendaftaran Akuntan Publik yang sebelumnya diajukan ke masing-masing kompartemen di OJK dengan waktu pemrosesan yang berbeda-beda, namun dengan SPRINT bisa diselesaikan dalam waktu 20 hari kerja.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Moda OJK Nurhaida dalam sambutannya pada peluncuran SPRINT Penjualan Reksa Dana Melalui Bank selaku APERD dan Pendaftaran Akuntan Publik menyatakan bahwa, proses pengintegrasian perizinan dan pendaftaran melalui SPRINT tidak hanya memadukan proses perizinan menjadi satu pintu, namun merupakan suatu usaha nyata OJK untuk melakukan perubahan paradigma perizinan melalui penyederhanaan dokumen permohonan, serta perubahan dan harmonisasi regulasi sektoral.

Dengan langkah ini OJK dapat memotong waktu pemrosesan permohonan secara signifikan namun tetap mempertimbangkan aspek prudensial terhadap permohonan yang diajukan.

“Salah satu langkah kongkrit OJK dalam melakukan reformasi secara struktural terhadap proses perizinan adalah dengan membangun SPRINT sebagai virtual single window bagi Industri Jasa Keuangan untuk melakukan proses perizinan. Melalui aplikasi SPRINT, kami berharap untuk dapat mewujudkan perizinan yang TUNTAS (Transparan, TerpadU, AkuNTabel, CepAt, dan Sederhana),” kata Nurhaida.

Melalui sistem ini, selain mengurangi risiko perbedaan kebijakan yang dikeluarkan oleh masing-masing kompartemen, juga mengurangi duplikasi dokumen permohonan yang harus diajukan oleh pemohon.

Sebelumnya, pada Juli 2016, OJK telah meluncurkan SPRINT untuk perizinan bancassurance bagi Industri Perbankan dan Industri Asuransi dan telah diimplementasikan sepenuhnya pada bulan September 2016.(rls)

Jika Pemilihan Gubernur Sulsel digelar hari ini, siapa pilihan Anda?

Jika Pilwalkot Makassar digelar hari ini, siapa pilihan Anda?

Advertisement

Comments

BISNIS

Berkah Pedagang Burung Pipit di Hari Imlek

Published

on

By

Makassartoday.com – Beberapa orang memanfaatkan Hari Raya Imlek yang jatuh pada Jumat (16/2/2018) dengan berjuallan burung pipit.

Seperti yang terdapat di wilayah Jl Sulawesi, Makassar, Sulsel. Mereka tampak menjajakan burung-burung tersebut di sekitar kelenteng.

Said, salah satu dari pedagang burung Pipit mencoba peruntungan di Hari Raya Imlek tahun ini. Ia mengaku berdagang burung Pipit dalam kondisi hidup selama sehari. Dalam sehari itu, Said mengaku mengantongi uang hasil jualan sebesar Rp300 hingga Rp400 ribu.

“Imlek mebawa berkah tersendiri untuk saya dan keluarga. Walau saya tidak merayakannya tapi saya juga merasakan suka citanya,” Ungkapnya senang.

Said menjelaskan, memperoleh burung pipit tersebut dari kiriman salah satu daerah di Pulau Jawa. Adapun harga belinya Rp1.500 perekor. Setiap imlek Said menjual 300-400 ekor burung Pipit.

Pria yang sehari-hari bekerja serabutan ini mengaku menabung jauh hari untuk dijadikan modal dagangannya. Saat modalnya di rasa cukup, Said menemui rekannya untuk dibelikan burung Pipit, kemudian dijual ke dekat klenteng di Jl Sulawesi.

“Menjadi pedagang burung Pipit sehari lumayan untuk keluarga dirumah. Tiap tahun saya melakukan hal ini berjuallan burung Pipit,” kata bapak tiga anak ini.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa membebaskan burung Pipit di Hari Imlek diyakini mendatangkan berkah dan rezki. Kebudayaan membebaskan burung Pipit kebalam bebas ini sudah membudaya sejak 2.000 tahun lalu.

Salah satunya Arifin seorang warga Makassar keturunan Tionghoa yang menjadi langganan dagangan burung Pipit Said .

“Kepercayaan seperti ini sering kita lakukan terutama untuk memperoleh kesehatan, berkah dan rezky. Jumlah burung yang dilepaskan sesuai jumla usia kita,” jelasnya.

Melepaskan burung Pipit ke alam bebas tradisi yang dilakukan usai melakukan sembahyang.

Laporan: Hajji Taruna

Jika Pemilihan Gubernur Sulsel digelar hari ini, siapa pilihan Anda?

Jika Pilwalkot Makassar digelar hari ini, siapa pilihan Anda?

Baca Selengkapnya
Advertisement

Terpopuler