Iklan Ambo 'Raih Gelar Magister' Banjir Pujian | Makassar Today
Connect with us

Inspiratif

Iklan Ambo ‘Raih Gelar Magister’ Banjir Pujian

Published

on

MAKASSAR – Memasang sebuah iklan pasca meraih gelar pendidikan di tempat umum bisa jadi hal yang tak lazim bagi kebanyakan mahasiswa.

Tapi inilah yang dilakukan Muh Rijal Djamal alias Ambo. Baru saja meraih gelar magisternya, Ambo nampak PeDe mengiklankan dirinya dalam sebuah reklame center di areal Kampus Unhas Makassar, tempatnya menimba ilmu.

Dalam iklan itu, Ambo menuliskan kalimat yang mengundang keguman banyak orang. Bak seorang politisi yang ingin maju dalam konstestasi politik, Iklan Ambo yang berjudul ‘akhirnya meraih gelar magister’ itu juga menyertakan kalimat motifasi.

‘Membuktikan Adalah Jawaban Dari Semua Keraguan’ serta ‘Buat Apa Bijak Bernalar Kalau Tidak Mengenal Tuhan, Buat apa bertambah gelar kalau tak mampu membuat perubahan’.

fb

Foto yang memuat iklan Ambo pun mulai ramai diperbincangkan di dunia maya. Foto iklan ini populer setelah diunggah oleh pemilik akun facebook bernama Andi Gunawan, Kamis (22/12/2016).

Beragam tanggapan mengisi kolom komentar di bawah foto iklan tersebut, namun kebanyakan nettizen berpandangan positif atas upaya yang dilakukan Ambo.

@Mustakim Muchlis: Sy liat jg tdi ini…smoga sukses ini anak…
@Afandi Mansyur: Ini baru spirit mahasiswa
@Idawaty Salam: barusaja saya lht juga td ini waktu lewat di baruga , saya suka kata-katanya “buat apa bijak bernalar, kalau tidak mengenal Tuhan ”
@Tetta Daeng: ini baru bru orang berilmu mantap
@Hertasning Galesong: Salut….. mudah2an tenaja na salah tareka’ anne.. wkwkwkwkwk (syamsul)

BAGIKAN:
Comments

Inspiratif

Alumni Smansa Makassar Harumkan Indonesia di Oxford Inggris

Published

on

By

Makassartoday.com – Banyak punya potensi sumber manusia yang membawa harum nama Indonesia. Salah satunya Dokter Deby Vinski MScAA PhD. Alumni SMA Negeri 1 (Smansa) Makassar Tahun 1986 adalah dokter kecantikan dan pakar anti-penuaan (anti-aging) asal Indonesia yang kiprahnya diakui dunia.

Pertemuan akhir tahun tahunan Grand Europa Business Assembly, Oxford Summit 2017 di Inggris, Dokter Deby meraih Queen Victoria Medali di Oxford Town Hall Oxford Inggris 20-25 Desember 2017 diberikan langsung Direktur Europa Business Assembly (EBA) Oxford Inggris Professor John didampingi CEO First Sky Limited Eric Kutortse.

Mendapat penghargaan medali Queen Victoria dari ‘Puncak Pemimpin’ Eropa tidak membuat Dokter Deby yang saat ini menjabat sebagai Presiden Badan Akreditasi Anti-aging Dunia (WOCPM) di Paris yang beranggotakaan 74 negara, jumawa.

“Malah ini langkah awal dan bentuk dedikasi profesionalisme kedokteran Indonesia yang Alhamdulillah mendapat apresiasi dunia khususnya Kota Makassar tempat saya dibesarkan,” jelas Dokter Deby.

Pertemuan akhir tahun Tahunan Grand Europa Business Assembly, Oxford Summit 2017 di Inggris merupakan pertemuan tahunan dunia bisnis dan akademik dari 40 anggota negara mitra dari uni akademik, Oxford dan klub Rektor Eropa.

Dokter Natasha Vinski yang mendampingi Dokter Deby pada penerimaan Queen Victoria Medali di Oxford Town Hall Oxford Ingris 20 Desember 2017, mengatakan, Europa Business Assembly merupakan organisasi platform multikultural antara bisnis, ilmu pengetahuan, pendidikan, R & D, pemerintah lokal, dan munisipalitas.

“Semua pemimpin lembaga sosial yang mengejar transformasi sosial positif secara nasional dan secara global hadir memberi kontribusi secara kongkret,” ujar Dokter Natasha yang juga CEO Vinski Tower Indonesia. (Rls)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Inspiratif

Pakaian Basah di Badan Tak Surutkan Misi Kemanusiaan!

Published

on

By

Makassartoday.com – Menjadi seorang relawan memang tak mudah. Dibutuhkan dedikasi tinggi dalam kerja-kerja sosial. Seperti halnya para relawan muda dari berbagai lembaga yang sejak beberapa hari terakhir turun melakukan evakuasi warga korban terdampak banjir di Makassar.

Kurang tidur serta makan tak teratur menjadi risiko setiap kali menjalankan tugas. Mendahulukan keselamatan orang lain dari pada keselamatan diri sendiri terkadang menjadi keputusan mereka saat menghadapi situasi genting di lapangan.

Bekerja untuk kemanusiaan bukan ajang mencari uang bagi mereka. Acap kali para relawan harus meninggalkan keluarga di rumah demi tugas mulia yang mereka emban.

Mereka tetap dituntut bekerja profesional, meski sering diperhadapkan dengan banyak keterbatasan. Mereka adalah “Relawan Makassar” yang terdiri dari latar belakang institusi yang berbeda-beda.

Basarnas, TNI, TRC BPBD Makassar, Tim Medis Dinkes Makassar, PMI Makassar, PMI Sulsel, Relawan Dapur Umum Dinsos Makassar, SAR Bimob Polda Sulsel, KSR dari berbagai kampus serta relawan alumni PMR, adalah orang-orang yang tak asing lagi di mata para warga terdampak bencana banjir di Makassar.

Meninggalkan perbedaan dan memilih bersatu di lapangan, itu semua demi tanggung jawab profesi yang selama ini mereka pahami sebagai bagian dari ibadah. Beberapa hari berjibaku dengan banjir tak menyurutkan semangat para relawan, kendati pakaian basah di badan bercampur dengan keringat.

Musim penghujan belum berakhir dan setiap saat bencana tak terduga bisa terjadi. Tapi, para relawan ini mengaku tetap sigap.

 

Faiz dari TRC BPBD, Iqbal dari SAR Brimob Polda Sulsel, Erwin, Ikhsan dan Magga relawan dari IKA PMR Wira Stemzha hanyalah sebagian kecil dari banyak relawan yang hadir di tengah-tengah masyarakat Makassar.

Bagi mereka penghargaan bukanlah hal yang utama. Berhasil dalam menjalankan misi penyelamatan adalah hal yang selalu mereka impikan. Selamat bertugas buat kalian relawan yang jauh dari kata PPecitraan. Kalianlah “Pahlawan” yang sebenarnya..!!!

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Inspiratif

Makna Hari Pahlawan di Mata Legislator Sulsel Ini!

Published

on

By

MAKASSAR – Peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November 2017 dimaknai oleh Anggota DPRD Sulsel, M Rajab sebagai upaya untuk mengingat kembali api revolusi yang dinyalakan founding fathers yang berjuang mempertahankan kemerdekakan bangsa ini.

M.Rajab menggambarkan bahwa Perlawanan Bangsa Indonesia yang meletus di surabaya pada 10 Nov 1945, merupakan pertempuran bersenjata pertama kali meletus setelah Proklamasi dikumandangkan.

“Itu semua untuk mempertahankan kemerdekaan mereka rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya. Artinya, hikmah mengenang peristiwa itu, mendahulukan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi,” kata Rajab saat dikonfirmasi, Jumat (10/11/2017).

Selain itu, Mantan Ketua Cabang HMI Palopo ini berpesan agar di hari Pahlawan Nasional, masyarakat melakukan penghayatan kembali atas makna Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana akhir-akhir ini persatuan kita sebagai sebuah bangsa mulai terkikis dengan pemahaman agama yang fundamental serta Intoleran atas perbedaan yang terjadi di masyarakat.

“Salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang harus dihayati dan dijalankan yaitu bhinneka tunggal ika. Berbeda dalam persatuan dan kesatuan,” jelasnya.

Pesan lainnya, kata Rajab, politik demokrasi liberal harus dievaluasi ulang kembali. Penerapannya banyak membawa dampak kurang baik dalam masyarakat.

Ia berharap semua orang bisa mengenang para pahlawan bangsa Indonesia dan menjadikan mereka inspirasi dalam membangun bangsa ini. Salah satu nilai yang bisa ditauladani adalah berkorban demi kepentingan orang banyak. (Farel)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya