Aksi 121 di Makassar Digelar di Bawah Fly Over | Makassar Today
Connect with us

Sulsel

Aksi 121 di Makassar Digelar di Bawah Fly Over

Published

on

MAKASSAR – Seratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Makassar menggelar aksi unjukrasa di bawah Fly Over, Kamis (12/1/2017)

Aksi yang diberi istilah 121 ini juga digelar serentak di sejumlah wilayah di tanah air ini yang menuntut sejumlah kebijakan pemerintah pusat. Selain di fly over, para demnstran juga sempat menduduki kantor DPRD Sulsel, Jl Urip Sumoharjo.

Aksi yang melibatkan sejumlah elemen mahasiswa ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Aksi yang berlangsung hingga sore tadi ini sempat membuat arus lalulintas di areal fly over lumpuh. Kemacetan panjang pun terlihat di ruas Jl AP Pettarani dan Jl Urip Sumoharjo.

Para demonstran terlihat membakar ban bekas. Sempat terjadi bersitegang anatara demonstran dengan anggota kepolsian yang berada di garis depan mengawal aksi ini.

Beberapa mahasiwa nyaris diamankan lantaran diduga menjadi provokator, namun bersitegang tidak sampai berlangsung lama. Setelah menyampaikan orasinya, ratusan mahasiswa ini membubarkan diri dengan tertib. (time)


Advertisement
loading...
Comments

Sulsel

Organisasi Difabel Minta IDI Tidak Gunakan Istilah Disabilitas Medis

Published

on

By

Makassartoday.com – Sejumlah perwakilan Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD) atau difabel di Indonesia bersepakat untuk mengajukan merevisi Surat Keputusan (SK) Komisi Pemilihan Umum (KPU) nomor 231 tahun 2017. Menyusul munculnya penggunaan kata atau istilah ‘disabilitas medis’ yang dianggap berpotensi mendeskriminasi difabel dalam setiap event politik di Indonesia.

Istilah ‘disabilitas medis’ disebut pertama kali oleh komisioner KPU Sulawesi Selatan, Misna M Attas saat memberi keterangan kepada sejumlah jurnalis usai pemeriksaan kesehatan bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur Sulawesi Selatan pada Sabtu 13 Januari 2018, di Private Care Centre (PCC) RSUP Wahidin Sudirohusodo, Kota Makassar.

April Kaisar, Manager Officer Pusat Pemilu Umum Akses (PPUA) Disabilitas mengatakan rapat yang digelar di Jakarta, pada Kamis 18 Januari 2018 yang dihadiri 10 perwakilan OPD sepakat mengajukan usulan revisi SK KPU nomor 231 tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis standar kemampuan jasmani dan rohani serta standar pemeriksaan kesehatan jasmani, rohani, dan bebas penyalahgunaan narkotika dalam Pemilihan Gubernur, Pemilihan Bupati dan Pemilihan Walikota.

April yang menjadi notulensi dalam pertemuan koalisi OPD itu mengatakan usulan revisi terhadap penerbitan SK KPU Nomor 231/2017 itu terdapat pada isi lampiran pada Bab III, III dan V.

“Jadi, kita tidak merundingkan semuanya, hanya kata-kata tertentu, seperti disabilitas medik, standar kemampuan untuk menjalankan tugas sehari-hari, itu kan tidak boleh terjadi. ” kata April, dalam siaran pers Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), Sabtu, 20 Januari 2018.

Difabel netra ini mengatakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menjadi lembaga penafsir sehat jasmani dan rohani tidak boleh mengintervensi kewenangan KPU dalam menentukan standar kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas.

“Intinya, IDI hanya memberikan pernyataan atau keterangan mengenai bidang yang dia pegang yakni kesehatan. mereka tidak boleh mengintervensi wewenang KPU. Dan ini masih sementara kami proses, ” jelasnya.

Karena itu, koalisi organisasasi penyandang disabilitas ini akan memberikan masukan kepada IDI, bahwa tidak menggunakan kata-kata disabilitas medik. Apa lagi dalam SK KPU Nomor 231/2017 itu, tegas April, terdapat kata-kata yang sangat tidak enak dicerna dan bisa dikatakan tidak manusiawi, mendiskreditkan para disabilitas.

“Jangan sekali-kali menganggap bahwa disabilitas itu sama dengan orang sakit, apalagi disitu ada beberapa kata yang sangat tidak enak dicerna, seperti disabilitas medis, disabilitas motorik, disabilitas sensorik. itu kan sangat tidak bijak. atau pantas untuk saya bilang tidak manusiawi, karena sangat sangat mendiskreditkan para kaum disabilitas. ” ungkapnya.

Meski demikian, kata dia, koalisi ini belum bisa mengeluarkan usulan revisi SK KPU Nomor 231/2017 secara rinci karena pihaknya memang belum ada persetujuan dan kesepakatan bersama dalam koalisi untuk tidak mempublikasikan, namun bukannya dirahasiakan. “Ini untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, ” ungkap April.

Menurutnya, usulan revisi hingga siang tadi (Sabtu, 20/1) masih terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan redaksi. Yang pastinya, kata April, pihak KPU akan menerima PPUA Disabilitas dan organisasi koalisi disabilitas pada Senin 22 Januari 2018 di Media Center KPU RI. “Itu hasil komunikasi kita melalui telepon saat rapat kamis lalu, ” ujarnya.

“Kita tunggu nanti, apakah KPU akan melakukan konferesni pers atau tidak, ” lanjutnya.

Dia juga berharap revisi SK itu segara dilakukan mengingat tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di 171 di provinsi, kabupaten/kota pada 27 Juni 2018. “Di hal yang lain pada awal Februari sudah dilakukan penyerahan dokumen kandidat, ”

Dalam proses itu ternyata revisi belum selesai, kata dia, pihaknya meminta pada KPU tidak menggunakan standar intervensi yang diberikan oleh IDI. “Dalam hal ini yang disebut ‘standar kemampuan menjalankan tugas’, istilah ‘disabilitas medis’, supaya tidak dipakai. ” kata dia.

Selain itu, koalisi ini akan mencari waktu yang tepat untuk bertemu langsung dengan pihak IDI memberikan masukan agar tidak sekali-kali intervensi kepada KPU. “Yang bisa berindikasi, diskriminasi terhadap para calon pemimpin daerah dari disabilitas, walaupun realitanya sangat tipis ada pemimpin dari disabilitas, tapi paling tidak hak kita bisa diakomodir oleh KPU. ”

Sementara Ketua PerDIK Ishak Salim mengatakan negara ini tidak bisa mengandalkan IDI sebagai satu-satunya penentu dalam memutuskan kemampuan seorang warga negara. Atau pun Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) yang menentukan “waras” atau “gila”-nya seseorang. Menurutnya yang mau diukur kemampuan jasmani dan rohani. Ia menegaskan lagi yakni; kemampuan!

“Jadi jangan cuma ganti istilah tapi ubah juga tim penilainya. Masukkan institusi non-medik sebagai tim penyusun standar kemampuan dan juga tetap masukkan tim non-medik dalam penilaian kemampuan itu. Rezim medik mesti dikurangi perannya dalam hal ini supaya standar kemampuannya tidak diskriminatif, ” tegasnya.

Sebelumnya, komisioner KPU Misna Attas yang pertama kali mempopulerkan di media ini mengakui bila pengunaan kata disabilitas medis itu berasal dari bahasa dari IDI, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Himpsi sebagai lembaga yang melakukan pemeriksaan kesehatan para kandidat kepala daerah.

“Sebenarnya disini penggunaan artian kata saja, kata disabilitas itu kan bahasa dari IDI, BNN dan HIMSI, saya tidak mau permasalahkan (kata disabilitas medis) itu lagi, disini kita liat mampu atau tidaknya seseorang memimpin, biarpun orang cacat kalau dia mampu kenapa tidak, ” kata Misna.

Menurutnya harusnya ada lembaga negara yang bertugas untuk itu. Dicontohkan, seperti depatment of standard-nya Malaysia.

Hal sama berlaku pada Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) yang bisa menentukan orang itu “gila” atau “waras”. Seharusnya untuk menentukan kriteria kemampuan warga negara itu dinilai oleh himpunan ahli dari berbagai bidang dan tidak diserahkan ke dan menjadi monopoli kaum medik. (rls)


Baca Selengkapnya
Advertisement

Trending

Terpopuler

loading...