alterntif text
Opini

Opini: Selamat Datang Almuhtaram Raja Jazirah

Oleh Suharto, M. Si.

Indonesia salah satu negara yang menjadi tujuan utama atas kunjungan kenegaraan dari Kerajaan Arab Saudi, yang dipimpin langsung Raja Salman Bin Abdul Azis al Saud, dalam kunjungan resminya yang berlangsung selama tiga hari (1-3) di Jakarta, akan dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral kedua Negara di Istana Bogor, akan menyampaikan pidato sebagai tamu kehormatan di DPR RI, melakukan pertemuan dengan wakil presiden Jusuf Kalla dan mengunjungi Masjid Istiqlal Jakarta.

Selain kunjungan resminya, Raja Jazirah Arab bersama rombongannya yang berjumlah 1500 orang, 10 menteri dan 25 pangerannya, selanjutnya akan menikmati indahnya panorama wisata dan sebagaimana turis-turis mancanegara lainnya, Raja Salman pun menjadikan Bali sebagai kota destinasi wisata bersama pengikutnya, selama lima atau enam hari (4-9), Raja yang naik tahta pada 2015 lalu itu akan menghabiskan waktu untuk berwisata (liburan) sebelum meninggalkan Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa rencana kunjungan kenegaraan dari Sang Amir membuat bangsa ini sedang berbenah agar dapat menjadi tuan rumah yang dapat memuliakan tamunya, pemerintah Indonesia berikut media-media nasional pun menjadi rencana kunjungan itu sebagai headline setiap hari.

Dan yang menajdikan kehadiran Raja Salman lebih terkesan sangat istimewa itu lantaran berbagai komentar, pandangan dan harapan serta ada hikmah yang dapat menjadi maslahat bagi bangsa dan negara. Oleh sebab itu, Masyarakat Indonesia dipastikan akan menaruh perhatian besar atas rencana kedatangan tamu yang terakhir kali mengunjungi negaranya pada era 1970. Antusiasme warga Indonesia yang mengapresiasi secara positif agenda negara yang menjadwalkan Raja Salman sangatlah dimaklumi, pasalnya populasi Indonesia yang mencapai lebih kurang dari 90% penduduknya yang beragama islam adalah salah satu alasan.

Untuk itu, Kehadiran sang raja kaya raya itu bukan hanya pemerintah Indonesia saja yang ingin memanfaatkan kesempatan itu, tetapi juga masyarakat pun menaruh harapan yang sama dengan pemerintah, setidaknya rakyat Indonesia menitipkan asa agar Raja Salman bisa melihat langsung kondisi masyarakat sebagai Negara dengan presentase populasi muslim terbesar di dunia itu untuk meningkatkan hubungan dan kerjasamanya yang lebih bermanfaat pada masyarakat pada umumnya.

Harapan agar rombongan penguasa al-haramain itu sungguh-sungguh dapat memberikan faedah bagi bangsa Indonesia, terutama investasi multi-sektor seperti pariwisata, budaya, pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, infrastruktur dan proferti serta terkhusus bagaimana Raja Salman dapat merubah kebijakannya terkait kuota haji bagi Indonesia. Sedikitnya ada empat poin penting dari beberapa hal terkait investasi yang menggiurkan di Indonesia, yang dapat menjadi topik dalam pertemuan kedua Negara “Islam” beda sifat tersebut dapat menjadi focus utama yakni, Investasi dan Ekonomi, Pendidikan dan Kesehatan, Haji dan TKI serta Qaryat al-Arabia.

Investasi dan Ekonomi

Sebuah kebanggaan sekaligus berkah bagi Indonesia, jika kedatangan Raja Salman dapat mewujudkan dan menanam investasi sekitar 25 milyar dollar AS. Ini adalah suatu yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mendorong bagi peningkatan pendapatan masyarakat Indonesia.

Pertemuan kedua Negara sahabat itu diharapkan dapat menjadi wahana untuk membahas secara matang terkait keinginan Raja Salman berinvestasi triliunan rupiah itu, setidaknya Presiden Joko Widodo bisa meyakinkan Raja Salman bahwa negaranya adalah syurga terindah bagi siapa saja yang ingin berinvestasi, Pemerintah Indonesia menjamin penuh keamanan bagi keberlangsungan kehidupan investasi yang kondusif bagi investor asing.

Untuk lebih meyakinkan Raja Salman, maka Jokowi harus dapat mengkomunikasikan potensi-potensi investasi yang ada, baik yang sudah dieksplor maupun yang belum, bagaimana memberikan contoh atas beberapa Negara-negara yang lebih duluan menjalin kerjasama dengan Indonesia di semenanjung Sumatera, Kalimantan dan Papua, agar perusahaan minyak Saudi Aramco bisa berpartisipasi dalam mengelola perminyakan di Cilacap atau di daerah yang lebih berpotensi lainnya.

Pendidikan dan Kesehatan

Meskipun tamu Negara yang akan melaksanakan serangkaian acara-acara resmi dan wisata akan bertemu dengan organ-organ Negara yang merefresentasikan rakyat dan bangsa Indonesia, yang akan banyak membangun komunikasi dan mencari persamaan-persamaan kepentingan yang bisa bersimbiosis mutualisme, tetapi tidaklah berlebihan jika rakyat Indonesia menitip harapan kepada kedua pemimpin Negara yang memiliki banyak persamaan budaya dan agama agar bisa melebarkan sayap investasinya kepada hal-hal yang sangat spesifik dan menyangkut hak-hak azasi manusia.

Walaupun, kemungkinan untuk menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai bagian yang akan dibicarakan, maka selayaknya kedua bidang primer itu bisa lebih khusus dan lebih menyentuh manfaatnya secara langsung bagi rakyat Indonesia. Yakni, peningkatan infrastruktur pendidikan islam dan mempermudah bagi rakyat untuk memperoleh beasiswa pendidikan tinggi.

Haji dan TKI

Dua hal yang paling menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia yang harus dikerjakan dengan cermat, tuntas dan tegas jika menjamu tamu dari Tanah Haram tersebut, yakni persoalan kuota haji dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi.

Pemerintah berkepentingan untuk mengarahkan pertemuan itu memperdalam dan meningkatkan kesepakatan mengenai penyelenggaraan ibadah haji. Dimana pemerintah harus mampu berdiplomasi agar bagaimana Raja Salman bisa memperoleh informasi yang esensil tentang kondisi situasi yang dialami rakyatnya yang telah berniat ingin mengunjungi Baitullah tetapi harus menunggu hingga 25 tahun kemudian. Sebagai Negara yang setiap tahun memberangkatkan jamaah calon haji terbesar di dunia itu, harus menjadi pertimbangan khusus bagi Raja Salman agar kuota haji untuk Indonesia lebih dimaksimalkan lagi.

Mungkin, inilah momentum terbaik yang diperoleh Inodonesia dalam memperjuangkan kuota haji, karena kunjungan-kunjungan resmi Raja Arab tersebut sangat jarang dilakukan, Indonesia saja terakhir kali dikunjungi Raja Abdullah pada 1970 lalu, itu sebuah indikator bahwa kurang lebih sperti itu pulalah gambarannya ke depan Negara ini akan kembali didatangi pemerintah Arab Saudi.

Selain persoalan haji, hal yang selalu menjadi problem kita (meskipun Indonesia dan Arab Saudi tidak pernah terlibat masalah serius) adalah penempatan TKI atauTKW di Arab selalu menimbulkan nestapa. Warga Indonesia yang telah menjadi korban perlakuan tidak semena-mena dan tidak adil kerap dijumpai dan bahkan menghantui mereka jika mereka akan mendapat penempatan di wilayah semenanjung jazirah itu.

Olehnya itu, menjadi momentum terbaik pula kiranya pemerintah Indonesia juga bisa mengarahkan pertemuannya dengan Raja Salman untuk membahas perlindungan dan kenyamanan serta keamanan para warganya yang bekerja di Negara mereka. Pemerintah harus berani melakukan pembicaraan serius yang dapat membuat kedua Negara saling menjaga dan saling menghargai sebagai bangsa yang sama-sama berpenduduk muslim mayoritas itu. Negara harus mampu memperbaharui kebijakan mengenai perlindungan tenaga kerja untuk menjadi bagian penting dalam lawatan Raja Salman ke tanah air.

Qaryat al-Arabia

Kunjungan kenegaraan Pemerintah Arab Saudi dengan Negara Indonesia, seyogyanya tidak cukup berkesan sesaat saja, kehadiran Raja Arab dan “pasukannya” yang ribuan orang itu mestinya harus meninggalkan kesan yang dapat dikenang bagi kedua Negara dan bermanfaat jangka panjang.

Yakni Kerajaan Arab Saudi dapat menjadikan momentum kehadirannya ke Indonesia untuk lebih mendekatkan kultur dan budaya Arab agar bisa saling berinteraksi dan menjalin hubungan kekerabatan yang lebih dekat dan dalam. Karenanya, kunjungannya kali ini tidak hanya menjadi kunjungan bilateral yang bertemu dalam system G to G atau government to government saja, tetapi ke depan Raja Arab ataupun kerabat dan rakyatnya bisa mengunjungi bangsa ini bukan dalam kapasitas sebagai tamu Negara, melainkan sebagai bagian dari kerabat dekatnya yang sudah saling mengenal dan sangat bersahabat.

Dengan jumlah yang sangat banyak menyertai perjalanan panjang Raja Salman, bisa menjadi embrio bagi terjalinnya hubungan lebih erat lagi dengan Saudi Arabia, sehingga kesempatan itu mesti diabadikan dalam bentuk QARYAT AL-ARABIA atau KAMPUNG ARAB, yaitu kampong atau wilayah tertentu yang bisa dijadikan sebagai KAMPUNG BINAAN pemerintah Arab Saudi. Raja Salman diharapkan berkenan mendeklarasikan Kampung Arab itu di Indonesia, sebagai tonggak dimulainya babak baru dalam hubungan diplomatic kemanusiaan kedua belah pihak.

Bali sebenarnya dapat menjadi proposal yang bisa ditawarkan kepada Raja Arab agar Kampung Arab bisa dihadirkan di satu distenasi utama Indonesia itu. Mengapa Bali? Ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan mengapa Bali yang menjadi sasaran, pertama kedatangan Raja Salman dan rombongannya sebuah pertanda bahwa Raja Salman yang dulunya dikenal konservatif kini telah berubah dan lebih membuka diri untuk berinteraksi dengan lingkungan global.

Mengunjungi Bali pun bisa menjadi alasan bahwa ia tidak lagi tertutup dengan lingkungan yang lebih modern dan terbuka. Kedua, Bali adalah wilayah bukan hanya tempat wisata, tetapi lebih dari itu Bali merupakan salah satu wahana budaya Indonesia yang patut dielaborasi untuk dapat melakukan interkoneksi dengan budaya Arab dengan Bali yang mayoritas beragama Hindu. Juga bisa menjadi pertanda untuk kedua Negara bisa bekerjasama dalam hal budaya dan peradaban manusia.

Sekiranya kampong Arab itu bisa terwujud, maka secara tidak langsung ataupun langsung akan menjadi kesan positif yang bisa menjadi cinderamata bagi kedua Negara yang ingin menjaga hubungan yang sangat baik dan panjang tersebut. Sebab, kampong Arab yang kelak akan menjadi tempat untuk membangun peradaban manusia yang berkolaborasi dengan budaya Indonesia, baik dalam dimensi pendekatan kemanusiaan, pendidikan dan budaya adalah hal mutlak yang akan menjadi nafas dari bangunan keadaban manusia modern ala Arab-Indonesia. Semoga.

Akhirnya, jangan menjadikan pertemuan kedua Negara antara Indonesia – Arab Saudi sebagai pertemuan yang biasa-biasa saja, lazimnya pertemuan bilateral dengan Negara sebelumnya yang pernah mendatangi Indonesia. Tetapi baik pemerintah maupun seluruh bangsa Indonesia semestinya menjadikan momentum itu sebagai sebagai pertemuan yang luar biasa dan dan sangat bersejarah bagi keduanya. Sebab, kedua Negara yang akan berhadapan dalam sebuah jamuan yang berlangsung bersahabat itu sangat tidak afdhol kiranya tidak menghasilkan kesepakatan yang luar biasa dahsyatnya bagi kehidupan masa depan Negara dan bangsa Indonesia.

Nurahhib fi Indonesia (selamat datang di Indonesia), semoga kehadiran Raja Haramain mendapat perlindungan dan syafaat Allah SWT, sehingga segala urusannya dimudahkan dan bisa membawa berkah bagi bangsa Indonesia serta dapat kembali ke Tanah Suci dengan Selamat. Mudah-mudahan, Raja Salman menjadikan perjalanan kali ini ke Indonesia bukan akhir tetapi adalah awal untuk lebih memberi perhatian penuh untuk Indonesia sebagai Negara yang dapat dijadikan sebagai sahabat dan “sekutu abadi” dalam percaturan global.

Al-tamattaie bijamali biladinaa Indonesia, wafatanaa wusul marratan ‘ukhra’, lianna nahnu sawfi naftaqidukum (Nikmatilah Indahnya Negara Kami, Indonesia, dan kami harapkan kedatanganmu berikutnya, karena kami merindukanmu).

*Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Palu dan Penggiat Komunikasi Politik 

alterntif text

BAGIKAN:
alterntif text
loading...
Loading...
Comments

Terpopuler

loading...
To Top