Pemuda Kaya Cinta | Makassar Today
Connect with us

Opini

Pemuda Kaya Cinta

Published

on

Oleh Arman Mannahawu, SH

Jika sekiranya ketika lahir ada pilihan untuk jadi kaya ataukah miskin, maka saya dan termasuk kebanyakan manusia akan memilih untuk lahir sebagai orang kaya. Segala kebutuhan dan keinginan dapat terjawab, tinggal ke “kasir”. Dapatkan kesempatan bersekolah di sekolah-sekolah unggulan dari sejak SD (Sekolah Dasar) hingga PT (Perguruan Tinggi), ataukah saat sakit mampu mengakses rumah sakit ternama. Keliling luar negeri, berkendara dengan mesin eropa, ataukah miliki rumah tinggal dengan fasilitas kolam renang dan lapangan golf mini. Sebuah gambaran kehidupan yang menjadi dambaan kebanyakan manusia.

Kaya yang demikian amat menyenangkan tentunya disertai dengan berbagi pada sesama yang dalam keadaan membutuhkan. Hubungan dengan Tuhan (dalam bentuk ragam Ibadah) yang lebih intens membentuk kesadaran betapa perjalanan hidup ini masih akan berlanjut (setelah duniawi) dan kematianpun hanyalah media menghantar kita pada alam yang berbeda. Lahir sebagai pemuda yang secara ekonomi berkategori mudah hadirkan berbagai kebutuhan dan penuhi keinginan merupakan kondisi idaman bagi kebanyakan pemuda.

Masa muda adalah masa produktif manusia, masa puncak perjalanan hidup di dunia. Namun tidak semua pemuda bernasib bahagia dalam suasana kaya materi, tetapi toh pada akhirnya berjuang untuk salami kebahagiaan. Jika demikian, selain kaya materi pertanyaan besar dalam hidup adalah adakah kaya yang dapat membuat hidup juga bernasib bahagia. Interpretasi kaya itu sendiri miliki banyak choice misalkan mengumpul harta sebanyak-banyaknya, belanja asset hingga menggunung. Dan ternyata, pada faktanya jika kaya harta menawarkan rasa senang maka gemar memberi tanpa pertimbangan jumlah, senang liat kesenangan, termasuk gemar berpikir positif disertai tindakan yang baik juga pada ternyata hadirkan kesenangan yang justru malah menampilkan nilai-nilai ibadah. Kalau begitu, kaya adalah jiwa-jiwa yang kerja keras mendapatkan sesuatu dan dengan penuh rasa senang berbagi dengan orang lain.

Pemuda amat penting “kaya” karena sungguh dialah generasi yang penulis istilahkan sebagai kaki-kaki peradaban Bangsa, kelas masyarakat (pemuda) yang senantiasa harus selalu hadir menemani bangsanya dalam segala kondisi yang ada, tidak hanya ketika bangsa dalam kondisi terjajah, merdeka, termasuk ketika bangsa harus melayani, membangun dan berkembang seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Pemuda yang kaya menggambarkan betapa mapan dan mandirinya sebuah keadaan. Kemapanan dan kemandirian itu bukan diartikan secara sempit bahwa pemuda itu lepas dari tanggung jawab pemerintah atukah sebaliknya pemuda itu melepaskan diri dari belenggu tanggung jawab terhadap negaranya.


Pemuda pada keadaan mapan dan mandiri adalah dimana ia (pemuda) berpikir dan bertindak tidak lagi menunggu negaranya meminta dan tidak lagi menuntut balas jasa dari apa yang telah ia (pemuda) berikan pada bangsanya. Pemuda senantiasa hadir dalam segala kondisi kebangsaan, menjadi pemikir dan sekaligus eksekutor handal dalam pembangunan, juga bertanggung jawab terhadap lahiornya calon-calon generasi pemuda. Di sektor manapun berada (sosial, politik, hukum, budaya) ia (pemuda) mampu membangun spirit kebangsaan dan selalu menjaga kearifan-kearifan yang lahir dan tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Kita mengimpikan sekaligus harapkan menjadi nyata, terbentang kekayaan yang di dalamnya mutlak berada kedaulatan yang utuh dalam mengelolah kekayaan tersebut. Kedaulatan yang utuh menunjuk sebuah keadaan dimana kepentingan bangsa dan Negara berjalan di atas segala-galanya, solid dan kompak dalam mengemban amanah. Menilai perilaku paling benar hanya menghalangi jumlah kebenaran, saling menyalahkan hanya menghadirkan kebenaran onani, sandera menyandera kepentingan hanya hadirkan dendam dan dendam inilah yang menjadi salah satu harta warisan yang merusak generasi dan akan lahirkan trauma peradaban, trauma peradaban biasanya membuat langkah kaki peradaban itu terhenti. Ini tidak boleh terjadi !!!

“Cinta tidak pernah menuntut, cinta selalu memberi. Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap, tanpa pernah mendendam”. Demikian Mahatma Gandhi mengukir tafsiran cintanya, dan penulis (sebagai pemuda) pernah membangun sebuah kesadarannya “dirimu bukanlah penjahat bagi dirimu sendiri ketika engkau harus melupakan cara menyenangkan dirimu sendiri untuk kebahagiaan orang lain, karena ketika orang lain bahagia karenamu engkau akan rasakan sesuatu yang lebih indah dari bahagia”. Indonesia butuh pemuda kaya dan mengerti hakikat arti mencintai. Menjadi hebat itu bisa sekejap, yang bikin keringat dan menangis itu adalah proses.

*Penulis adalah Ketua KNPI Makassar Periode 2014-2017, Ketua Granat Makassar serta Advodat Peradi.

Advertisement
Comments

Opini

Selamat Milad HMI ke-71

Published

on

By

Oleh: Henny Handayani

HMI itu sekolah alternatif, kampus kedua mahasiswa Islam. Mereka yang pernah mengecap dengan sungguh-sungguh ruang kaderisasi di HMI, hari ini pasti merasakan dampaknya.

Militansi dan nilai kejuangan senantiasa menjadi spirit bagi kadernya kapan dan dimanapun ia berperan. Ibarat ikan yang berenang di lautan bebas, ia tak ikut asin. Idealnya, HMI berdiri di kakinya sendiri, punya prinsip.

71 tahun tentu bukan usia yang muda lagi, sama tuanya dengan negara kita. Hal ini menjadi penanda bahwa perjalanan panjang HMI turut memberi warna pada jejak-jejak perlawanan bangsa mengahadapi gejolak dan tantangan zaman. Setidaknya, konstribusi HMI selalu dinantikan oleh bangsa dan negara ini. HMI sebagai kontrol sosial, sebagai kontrol moral mestinya masih menggema di setiap waktu.

Ribuan bahkan jutaan kader telah dilahirkan oleh organisasi ini. Dari lintas profesi mulai dari pengusaha, pedagang, dokter, guru, dosen, politisi, hingga pejabat bupati, gubernur atau walikota dulunya pernah sekolah di HMI.

Namun kita tidak bisa menafikkan, kuantitas kader dan kebesaran nama HMI mulai tergerus. Kadang hal itu tak berbanding lurus dengan kenyataan. Bukan tanpa cacat, toh beberapa kader HMI juga sempat tekena kasus korupsi, kasus moral dan lainnya. Dan kita rasakan hari ini kader tak lagi lantang bersuara soal rakyat, tak lagi keras melawan tirani kekuasaan dan tegas menolak penindasan.


HMI zaman now justru sebagian mulai sangat labil dan manja. Tak ada lagi ruang ruang otokritik sesama kader. Jangan-jangan kadernya tengah asyik beronani dengan pikirannya masing-masing. Cukup buat status di sosmednya, upload lalu komen dikiranya sudah revolusi, hehehe. Temannya kini adalah gadget. Gerakannya sangat mekanik. Rang-ruang kultural, kelompok-kelompok diskusi yang kini mulai berkurang.

Sungguh, tantangan HMI hari ini adalah gelombang modernisasi yang kian tak terbendung. Akses informasi yang begitu cepat seharusnya mampu difilter dan dikanalisasi secara cerdas oleh kader HMI. Tidak mudah terlena. Jangan mudah diprovokasi oleh isu sempalan. Bergeraklah karena nalar bukan karena emosi yang dibakar oleh hoax.

Indonesia kedepan membutuhkan generasi pelanjut yang kokoh. Yang mampu mengawal dan menjaga perjalanan bangsa agar tetap “on the track”. Indonesia yang bhinneka. Tidak tercerai berai. Dan itu menjadi tugas geberasi muda. HMI sebagai kawah candradimuka mestinya menyiapkan mesin yang baik buat itu.

71 tahun, HMI harus berani menarik garis tegas pro terhadap rakyat kecil. Kembali ke jalan menyuarakan misi keummatan kebangsaan. Ayo bangun dari tidur. Angkat benderamu anak muda! Panjang umur perjuangan. Dirgahayu HMI!

(Penulis adalah Eks Ketua Umum Badko HMI SulSelBar dan Jubir IYL-Cakka)

Baca Selengkapnya
Advertisement

Terpopuler