alterntif text
Opini

Delinkuensi Pelajar Masih Tinggi

Oleh: : Tarmizi Thalib

Dalam proses sosial seringkali kita berbenturan dengan aturan-aturan yang diikat secara holistik dari berbagai aspek hidup.

Sehingga dalam berinteraksi dengan sesama masyarakat, dibutuhkan cara bersikap dan bertindak yang baik sebagai buah dari pendidikan itu sendiri. Namun, apa jadinya jika masyarakat kemudian tidak merasakan kenyamanan hidup dalam berinteraksi.

Perilaku delinkuensi hadir sebagai bukti nyata masih gagalnya sistem pendidikan membendung kenakalan remaja. Survey yang dilakukan oleh Dr. Ahmad pada siswa sekolah menengah atas di Makassar menunjukkan bahwa delinkuensi menjadi patut diperhatikan dengan sigap.

Perilaku delinkuensi seperti menonton film porno melalui handphone, LGBT, pencurian, pemerasan, perkelahian, pengancaman, penyalahgunaan narkotika, ketidaksopan terhadap guru, bolos dan pacaran menjadi dominan di kalangan remaja.

Bahkan pada tahun 2016 saja, sempatkali jumlah tahanan anak yang menghuni Lapas kelas 1 makassar mencapai 91 orang dengan 49 kasus pencurian, 3 kasus pembunuhan, 11 kasus narkotika, 6 kasus kepemilikan senjata tajam, perjudian dan sisanya kasus perlindungan anak. Pada bulan ini, tahanan dan narapida anak di Lapas kelas 1 Makassar berjumlah 99 orang anak.

Sistem sosial meniscayakan interaksi antara berbagai kalangan. Perbadaan usia, pengalaman, strata sosial dan lain sebagainya menjadi saling berhubungan satu sama lain. Data di atas meparkan kasus delinkuensi pada remaja. Namun, bisa jadi masalah muncul karena diawali dengan kesalahan di awal. Semisal, modeling orang tua yang melenceng, minimya pengaruh agama sebagai norma paling tinggi, sikap acuh masyarakat atau kebijakan publik yang tidak tajam pada permasalahan.

Ini juga termasuk delinkuensi yang menjadi masalah pokok muncul perilaku menyimpang di masyarakat. Mereka saling terkait satu sama lain. Pendidikan hadir untuk memberi ketentraman, sedangkan delinkuensi hadir memberi ketidaknyamanan masyarakat. Angka 3 orang remaja saja menjadi sangat mengerikan jikalau 3 kasus pembunuhan dilakukan dengan menikam, memutilasi korban dan itu dilakukan oleh bocah patah hati.

Dampak psikis yang dialami keluarga dan amarah masyarakat lainnya menjadi sangat sulit terkendali jika tidak dibendung di awal. Tidakkah menjadi keresahan dan kepusingan yang mendalam bagi masyarakat dan pemerintah, jika tiap harinya masyarakat makassar disuguhkan dengan pengeroyokan begal dan diakhiri dengan kematian. Apalagi yang disuguhkan tidak memberi pelajaran berharga bagi calon begal.
Bagaimana bisa guru kemudian menjadi sangat tahan jika yang dilihatnya adalah perkelahian, narkotika, bolos dan ketidaksopanan yang dididik tiap harinya? Tidakkah masyarakat bermasalah jika mereka hidup dibawah bayang-bayang pencuri dengan senjata tajam? Tidakkah masalah delinkuensi menjadi patut diperhatikan kalua seperti itu?.

Ada yang bilang, kalau sebagian masalah delinkuensi itu lahir dari faktor ekonomi. Kekurangan pendapatan dan kenaikan kebutuhan pokok serta pelengkapnya menjadi kesenjangan antara realitas dan harapan. Ataukah delinkuensi itu hadir sebab sistem sosial memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk berperilaku menyimpang.

Itu jika kita terlalu materialistik dan berhenti untuk berusaha mengubah. Padahal tidak akan diubah tatanan masyarakat kalau bukan mereka yang ingin mengubah. Tentulah kalau sekedar ingin juga pastilah tidak berwujud. Semoga menjadi refleksi kita di hari pendidikan nasional ini.

*Penulis adalah Ketua Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia Regional Sulawesi dan Kalimatan. 

alterntif text

BAGIKAN:
alterntif text
loading...
Loading...
Comments

Terpopuler

loading...
To Top