4 Hal Ini Juga Bisa Cegah Rasa Lapar Saat Puasa | Makassar Today
Connect with us
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text

Artikel

4 Hal Ini Juga Bisa Cegah Rasa Lapar Saat Puasa

Published

on

Ketika sedang berpuasa, pastinya rasa lapar sering melanda. Padahal dengan melaksanakan puasa, Anda memiliki kesempatan untuk mendapat berat badan yang ideal dan juga kesehatan hingga detoksifikasi.

Akan tetapi, menahan lapar bagi orang yang belum terbiasa membuat puasa menjadi tantangan bagi mereka sendiri.

Oleh karena itu, berikut ada beberapa cara agar semakin semangat dalam menjalani ibadah puasa dan terhindar dari rasa lapar yang berat dari seorang ahli nutrisi, Desy Nur Arista.

Ubah kebiasaan pola makan dan gaya hidup

“Frekuensi makan yang tadinya sering menjadi kurang. Makan dalam porsi kecil menjadi porsi besar. Makan yang mudah dicerna menjadi lebih lama dicerna karena tubuh membutuhkan lebih banyak enzim dan waktu untuk mencerna. Variasai makanan juga lebih banyak,” papar Desy.

Melakukan pekerjaan

“Mengurus pekerjaan rumah, misalnya membersihkan rumah, berkebun, membaca buku dan menyelesaikan pekerjaan bisa membantu pikiran lebih fokus pada hal lain selain lapar,” kata dia.

Jalan-jalan

“Jalan santai bisa meningkatkan efek membakar lembak saat puasa. Selain itu bisa meningkatkan kesehatan jantung dan tubuh pada umumnya,” ujarnya.

Melakukan aktivitas fisik atau hobi

“Melakukan aktivitas fisik atau berolahraga dan melakukan hobi kegemaran bisa mengalihkan diri saat berpuasa karena pikiran fokus pada aktivitas tersebut,” jelasnya.

Meditasi

“Perlahan-lahan lawan rasa lapar dan belajar untuk merasa santai juga tenang,” pungkasnya.

BAGIKAN:
Comments

Artikel

Puasa Ternyata Dapat Kendalikan Berbagai Penyakit, Ini Buktinya!

Published

on

By

Makassartoday.com – Saat menjalani ibadah puasa, organ pencernaan beristirahat dari kegiatan rutinnya. Hal ini ternyata membawa impak positif bagi kesehatan tubuh.

Salah satu manfaat puasa bagi kesehatan merupakan mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) bersama enzim & hormon, yang biasanya bekerja buat mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 18 jam.

Dengan berpuasa, sebagaimana dikutip dari NHS.Co.Uk, bahwa saluran pencernaan dapat istirahat selama 14 jam. Jika berpuasa dilakukan secara benar, ternyata berbagai jenis penyakit juga dapat dikendalikan dengan relatif baik.

Pada saat puasa, organ pencernaan dapat beristirahat buat ad interim waktu. Saat sistem pencernaan beristirahat itulah, tenaga tubuh sebagai lebih terarah buat proses perbaikan sel-sel dan sistem jaringan yg rusak.

Beberapa penelitian menyebut, puasa pula dapat berfungsi sebagai detoksifikasi, yakni tubuh mampu menetralisir atau mengeliminasi zat-zat racun pada dalamnya. Proses detoksifikasi tadi terjadi pada usus akbar, hati, ginjal, paru, kelenjar getah bening, serta kulit.

Alhasil, sistem pencernaan pun menjadi lebih bersih dan mendorong penguatan fungsi enzim dan hormon terkait, guna mendukung upaya menjaga metabolisme tubuh permanen dalam syarat terbaiknya.

Tetapi, tetaplah jangan lupa buat mengonsumsi makanan sehat dan bergizi secara relatif di saat sahur dan buka puasa, supaya manfaat baik yg didapat sang tubuh kian maksimal .

Sementara itu, setelah menunda lapar saat menjalani ibadah puasa selama lebih kurang 12 jam. Biasanya banyak menurut kita kerap terobsesi untuk ‘balas dendam’ menggunakan makan banyak saat berbuka.

Jika telah begini, rasa kenyang luar biasa sebagai nir bisa dihindari, sebagai akibatnya memicu imbas jelek, seperti keliru satunya risiko naiknya berat badan.

Agar ibadah puasa berjalan dengan paripurna dan Anda tidak kalap saat berbuka puasa, berikut adalah beberapa solusi jitunya.

1. Dahulukan minum air putih yg relatif

Meminum air putih bisa menetralisir tubuh menurut hasrat rasa lapar yang tinggi. Selain itu, poly penelitian sudah menerangkan bahwa orang yg minum air putih secara cukup setiap hari dapat menjaga berat badan permanen ideal.

2. Menyikat Gigi Setelah Makan

Banyak ahli kesehatan gigi telah membuktikan bahwa pasca-sikat gigi, tubuh akan menggunakan sendirinya bereaksi menolak keinginan buat mengudap kuliner. Ada semacam sugesti yang mendorong otak insan berpikir dua kali ketika akan menyantap kuliner sesudah menyikat gigi.

3. Mengonsumsi protein waktu berbuka

Mengonsumsi kuliner berprotein dievaluasi cukup digdaya buat mengendalikan rasa lapar hiperbola. Protein diyakini dapat menciptakan kenyang lebih usang, karena mengaktifkan hormon ghrelin, yg memberi frekuwensi ke otak bahwa tubuh sudah merasa kenyang.

4. Tidur yg Cukup

Menurut beberapa studi ilmiah, kurang tidur bisa memicu rasa lelah dan memperlambat metabolisme tubuh. Bahkan, kurang tidur menciptakan tubuh terprogram secara. (*)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Artikel

Waspada, Buka Puasa dengan Gorengan Bisa Bahaya

Published

on

By

Ketika buka puasa, orang indonesia selalu saja menyantap gorengan. Ini sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Bahkan, sudah menjadi menjadi menu wajib. Gorengan seperti bakwan, risol, tempe goreng, tahu goreng, dan lainnya semuanya disantap. Sebab, jika tidak ada gorengan di menu buka puasa, rasanya agak aneh.

Namun, siapa sangka, di balik kelezatannya, tersimpan dampak buruk bagi kesehatan jika kita sering buka puasa dengan gorengan. Rupanya kandungan lemak dalam minyak yang ada pada gorengan membuat gorengan sulit dicerna. Utamanya ketika gorengan menjadi makanan pertama yang dimakan usai puasa.

Bayangkan saja, ketika perut kosong setelah puasa seharian, perut harus mencerna lemak yang ada pada gorengan. Tentunya, saluran pencernaan bekerja lebih keras untuk dapat mencerna lemak tersebut. Karena sulit untuk dicerna, proses untuk mencerna gorengan akan memakan waktu lama. Serta dapat mengganggu dan menghambat saluran pencernaan untuk memproses zat gizi lain.

Karena gorengan lebih lama dicerna, perut tidak cepat merasa kenyang. Akibatnya, kita akan menambah makan gorengan lagi dan lagi dan menyebabkan terlalu banyak makan. Kadang mungkin kita tidak sadar sudah memakan gorengan berapa potong. Setelah berhenti makan gorengan, baru merasa perut sudah penuh dan kenyang.

Buka puasa dengan gorengan dapat menimbulkan keluhan yang dirasakan berbeda-beda oleh tiap orang. Mereka yang memiliki saluran pencernaan sensitif, gorengan dapat merangsang asam lambung naik yang dapat menyebabkan heartburn (perasaan panas atau terbakar di sekitar perut bagian atas).

Kandungan lemak jenuh yang ada pada gorengan dapat mengakibatkan asam lambung naik. Selain itu, sulitnya lemak untuk dicerna dan kandungan serat yang sangat sedikit pada gorengan dapat menyebabkan konstipasi atau sembelit.

Beberapa orang mungkin juga merasakan tenggorokan gatal setelah makan gorengan. Hal ini dikarenakan terdapat kandungan akrolein pada gorengan yang menyebabkan rasa gatal. Akrolein ini terbentuk pada minyak yang sudah dipakai berkali-kali. Faktor utama penyebab gorengan tidak sehat sebenarnya ada pada minyak goreng yang dipakai untuk menggorengnya.

Dampak gorengan pada kesehatan tergantung dari jenis minyak atau lemak yang digunakan untuk menggoreng, cara menggoreng (apakah dengan cara deep fried atau pan fried), sudah berapa kali minyak dipakai untuk menggoreng (semakin sedikit dipakai semakin baik), dan berapa banyak garam yang ditambahkan pada makanan gorengan tersebut.

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Artikel

Bulan Ramadan, Saat Yang Tepat Latih Diri Berhenti Merokok

Published

on

By

Kesempatan baik bagi perokok untuk melatih berhenti merokok di bulan Ramadan. Hal tersebut disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, dr. Cut Putri Arianie, MHKes saat temu media Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS).

“Latihan seseorang berhenti merokok. Kalau bisa puasa tahan diri dari pagi sampai buka puasa, kenapa enggak dilanjutkan. Ini sebagai bentuk latihan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

“Memang tidak mudah, apalagi ada efek samping kalau berhenti tiba-tiba. Tapi dengan niat kuat dan latihan bisa menginisiasi (berhenti merokok),” ujarnya menambahkan.

Tepat pada 25 Mei, Kemenkes RI juga menetapkan tema nasional HTTS tahun 2018 Rokok Penyebab Sakit Jantung dan Melukai Hati Keluarga yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2018.

Masalah rokok masih terus saja menjadi perhatian pemerintah hingga kini. Mengingat dampaknya tak hanya pada beban BPJS yang membengkak. Akan tetapi juga dalam tahap yang lebih kecil adalah keluarga.

Berdasarkan survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2016, sekitar 13.8 persen pengeluaran rakyat Indonesia dialokasikan untuk rokok. Sementara untuk padi-padian hampir sama mencapai 14 persen. Selama 10 tahun terakhir Badan Pusat Statistik mencatat, adanya konsistensi pengeluaran masyarakat untuk rokok, mengalahkan jumlah yang dikeluarkan untuk kebutuhan bahan pangan.

“Pengeluaran masyarakat untuk rokok sebanyak Rp1,1 triliun per hari bila dibelikan makanan maka kebutuhan minimal 2.100 kkal seluruh penduduk bisa tercukupi,” katanya.

Hitungan di atas dengan melihat tren pengeluaran rumah tangga termiskin yang lebih mengutamakan rokok ketimbang kebutuhan pokok.
Jumlah perokok sebanyak kurang lebih 90 juta saat ini, jika dihitung lagi ternyata rata-rata rokok yang dihisap per hari 1 hingga 3 batang, dan rata-rata harga rokok per batang Rp.1000.

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya