alterntif text
Opini

Ibadah atau Politik

Oleh: Saifuddin Almughniy

Kalimat tersebut diatas tentu bukanlah kalimat perintah, tetapi lebih pada kalimat pernyataan sekaligus pertanyaan. Bahasa begitu penting dalam interaksi terhadap sesama manusia, bahasa pun sejatinya menjadi saluran berkomunikasi antar sesama. Karenanya, bahasa demikian pentingnya sebagai medium transformasi sekaligus sarana edukasi.

Bisa dibayangkan, sekiranya ulama berdakwah tanpa bahasa, tentu ummat akan kekeringan, demikian pula para pendeta tanpa bahasa bisa ummat juga mengalami kekeringan. Ulama dan para tokoh agama pun adalah simbol kemasan bahasanya bernuansa ajakan moral yang berisi seruan, ajakan dan larangan.

Yah, mungkin ada fakta yang sedikit berbeda, dibeberapa moment tertentu seperti bulan puasa ramadhan sebagai bulan kebaikan, ada banyak cara seseorang berbuat kebaikan, riuhnya kebaikan demikian kita temukan, baik itu dengan cara berbuka puasa bersama, membagikan takjil, menyumbang di mesjid, menyantuni anak yatim dan panti asuhan, tentu semua itu adalah dorongan kebaikan.

Karenanya, kebaikan tentu motifnya adalah keikhlasan, sementara keikhlasan adalah perbuatan tanpa pamrih. Perbuatan tanpa dasar keikhlasan pada prinsipnya mengandung makna apa yang diberikan tentu mengharapkan sesuatu untuk diberikan pula sebagaimana apa yang diberikannya. Kalau begitu, ini namanya keikhlasan dengan motif kepentingan.

Ramadhan sesungguhnya mengisyaratkan kepada kita bahwa segala perbuatan lepas dari pengaruh “thumos” yakni hasrat kekuasaan, yah,, hasrat politik sejatinya diketakkan diatas ketulusan dan keikhlasan. Oleh sebab, tidak sedikit orang yang menjadikan ramadhan sebagai arena “kampanye gratis”, tapi itu.tidak bersoal sepanjang muatan niatnya adalah ibadah bukan semata karena mengejar popularitas dalam fragmentasi politik.

Sebab, politik juga ibadah bila politik dan kebijakannya berpihak kepada kepentingan rakyat, sehingga perlu dipahami secara konfrehensip sehingga keduanya tidak melebur menjadi warna “abu-abu”. Hitam putih adalah narasi akhir untuk melihat ibadah atau politik, ataukah politik atau ibadah.

*Penulis adalah Dosen di UPRI Makassar
 

alterntif text

BAGIKAN:
alterntif text
loading...
Loading...
Comments

Terpopuler

loading...
To Top