alterntif text
Opini

Mualaf Berbangsa

Oleh: Saifuddin Almughniy

Mungkin kata tersebut diatas bukanlah kata yang baru saja kita dengar, kata “mualaf” seringkali dilekatkan dengan seseorang yang baru sejak “memeluk Islam” setelah ia berpindah dari agama sebelumnya.

Diksi ini tentu bukanlah hal yang baru dari sebuah proses berkeyakinan. Karenanya, kata muallaf dalam tafsir sosial seperti halnya

“sebelumnya” lalu kemudian “menjadi baik”, bukan berarti sebelumnya tidak baik, tetapi ketika dikaitkan dalam persepsi “teologi” atau pendeknya dalam gagasan beragama , dari yang tifak baik kembali ke yang baik.

Tetapi, dalam perspektif ini tentu (penulis) mencoba melekatkan pada konsep berbangsa baik itu secara etimilogis maupun secara terminologis.

Karenanya, ketika kata “mualaf”, mengawali kata berbangsa, tentu sudah bisa ditebak bahwa kita sebagai masyarakat berbangsa terindikasi pernah keluar dari proses keyakinan kebangsaan, atau lebih estrimnya kata “murtad”.

Kalau demikian adanya, beberapa kalinat seperti saya cinta NKRI, kalimat ini tentu mengundang makna bahwa ini satu penegasan terhadap kehidupan berbangsa, bahkan ini juga bisa menjadi penanda bahwa kita begitu keluar dari nohtah kebangsaan.

Sehingga terkesan bahwa kecintaan berbangsa adalah satu proses “kemuallafan” untuk kembali menjadu satu bangsa. Dengan demikian, proses pemuallafan ini haruslah dipahami sebagai perwujudan proses menjadi bangsa yang berkeyakinan kuat.

Bukankah sosok muallaf itu adalah sebuah prooses yang suci yang dijalani seseorang. Oleh sebab itu, banyaknya problematik kebangsaan mengindikasikan bahwa bangsa ini sedang “murtad” karenanya perlu sebuah proses “pemuallafan” agar kita kembali menemukan kesucian dalam berbangsa.

Atau mungkin juga dalam proses berideologi dalam negara. Wallahu ‘A’lam

*Penulis adalah dosen UPRI Makassar 

alterntif text

BAGIKAN:
alterntif text
loading...
Loading...
Comments

Terpopuler

loading...
To Top