Arief Saenong Bukukan Budaya Ara | Makassar Today
Connect with us

Inspiratif

Arief Saenong Bukukan Budaya Ara

Published

on

BULUKUMBA – Budayawan asal Bulukumba, Sulsel, Muh Arief Saenong kembali meluncurkan buku terbaru. Kali ini, alumnus Universitas Negeri Makassar (UNM) itu mempublikasikan buku mengenai kampung halamannya yang diber judul ‘Ragam Budaya Ara’.

Buku yang menandung unsur sejarah, tradisi dan profesi’ ini diluncurkan di Gedung Masyarakat Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bukumba, Rabu, (28/6/2017).

Adapun acara peluncuran buku digelar Kerukunan Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Ara-Lembanna dan Ikatan Keluarga Panrita Lopi Ara-Bulukumba ini dihadiri langsung oleh Bupati Bulukumba, AM Sukri Sappewali berserta jajarannya dari berbagai dinas.

Sukri dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Arief Saenong yang telah meluncurkan bukunya yang ke-4. Dimana semua bukunya membahas mengenai Butta Parita Lopi Bulukumba.

“Penerbitan buku Ragam Budaya Ara ini perlu diapresiasi dan disambut baik, sebab buku ini merupakan usaha untuk melestarikan budaya setempat. Diharapkan buku ini akan menjadi sumber pengetahuan yang patut dibaca,” ujar Sukri.

Kata Sukri, buku Arief Saenong ini bisa menjadi referensi terbaru utamanya bagi generasi muda sebagai pewaris dan pelanjut pembangunan. Disamping itu buku Ragam Budaya Ara dapat menginspirasi dan memotivasi pihak lain untuk mendokumentasikan budaya daerah sebgai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

“Saya selaku Bupati Bulukumba atas nama pemerintah menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada bapak Arief Saenong atas karyanya ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat dan dijadikan referensi bagi kalangan ilmuan untuk penelitian selanjutnya,” harap Sukri.

Sementara Arief Saenong menyampaikan buku ‘Ragam Budaya Ara’ ia tulis dengan tujuan untuk meluruskan budaya Ara yang selama ini banyak mengalami perubahan.

“Budaya Ara saat ini sudah banyak yang berubah dari yang sesungguhnya. Banyak yang tergerus, mudah-mudahan buku ini bisa memberikan pencerahan bagi masyarakat terutama generasi muda sebagai pelanjut,” jelas putra kelahiran, Ara 14 Juni 1942 ini.


Menurutnya, dewasa ini minat generasi muda untuk mempelajari dan memahami tradisi dan budaya sendiri dirasakan sangat kurang. Hal ini disebabkan derasnya arus pengaruh kebudayaan asing melalui berbagai media khususnya media elektronik.

Penyebab lain, lanjut Arief Saenong karena kurangnya informasi mengenai peranan kebudayaan bagi pembangunan karakter, jati diri, dan martabat komunitas atau bangsa.

“Buku ini ditulis untuk merekam berbagai aspek tentang kebanggaan kita Ara, baik sejarah adat istiadat atau tradisi maupun seni budaya serta profesinya. Tujuan penulisan buku ini ialah agar masyarakat termasuk generasi muda dapat mengetahui latar belakang budayanya, sebab bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai sejarah dan budayanya,” jelas Arief Saenong.

Diketahui, Arief Saenong sebelumya telah menerbitkan tiga buku dengan judul, ‘Pinisi : Perahu Khas Sulawesi Selatan’, ‘Pinisi : Perahu Tradisonal Bugis Makassar’ dan ‘Pinisi : Paduan Teknologi dan Budaya’.

Sementara Ketua Ikatan Keluarga Panrita Lopi Ara – Bulukumba, Amiruddin Rasyid yang memandu acara menyapaikan Buku Ragam Budaya Ara dapat menjadi motivasi mahasiswa, pelajar dan para tenaga pendidij untuk bisa mengikuti jejak bapak Arief Saenong untuk berkarnya dan menulis buku.

“Buku ini dapat memacu bagaimana pihak lain untuk bisa menggalai potensi daerahnya baik sumberdaya alam dan budayanya untuk kemudian dipublikasikan. Saya juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada bupati Bulukumba yang hadir langsung dalam peluncuran buku. Hal ini menandakan bupati menghargai inovasi dan kreativitas masyarakatnya,” jelas legislator Golkar DPRD Bulukumba itu.

Hadir dalam peluncuran ini, beberapa pimpinan SKPD Kabupaten Bulukumba, Camat Bontobahari, Kepala Desa Ara dan Desa Lembanna, tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan Bulukumba, Kerukunan Keluarga Ara Bulukumba, tokoh pemuda, Ketua IPMAH Bontobahari, Pengurus KNPI Bulukumba, pengurus KEPMA Ara-Lembanna, perwakilan PB Ikami Sulsel, pengurus DPP HMPI, pengurus pusat BEM PTMI, serta ratusan masyarakat. (rls)

Advertisement
Comments

Inspiratif

Kakek Penghuni Gubuk “Derita” Terima Bantuan Rumah dari Polres Gowa

Published

on

By

Makassartoday.com – Raut wajah bahagia terpancar jelas dari wajah Marica Dg. Bunga saat dikunjungi oleh Kapolres Gowa, AKB Shinto Silitonga, Kamis (29/3/2018).

Kedatangan perwira polisi berpangkat dua bunga melati di pundak itu tak lain untuk memberikan harapan baru terhadap
kakek berusia 79 tahun tersebut.

Shinto didampingi istri Ketua Bhayangkari Gowa secara simbolis menyerahkan rumah hasil program Bedah Rumah oleh jajaran Polsek Pallangga.

Bersama kakek Sultan Dg. Bani (69), Marica sebelumnya hidup dalam kondisi memprihatinkan. Di gubuk “derita” yang berdiri di sebidang tanah di Dusun Paku, Desa Julubori, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulsel, keduanya lama mereka tempati.

Gubuk itu jelas jauh dari kata layek. Pasaknya hanya terbuat dari bambu, sementara dindingnya sebagaimana besar hanya ditutupi pakai kain dan tarpal.

Tak jarang kakek Marica harus tidur dalam kondisi basah tiap kali hujan turun. Melihat kondisi tersebut, pihak kepolisian setempat pun berinisiatif menyalurkan bantuan.

Tak butuh waktu yang cukup lama, sang kakek kini bisa meninggalkan gubuk reot itu dan kini telah dapat bernaung di rumah barunya.


Kapolres dalam sambutannya dihadapan warga setempat yang sempat hadir mengatakan, bahwa dengan adanya program bedah rumah ini menjadikan suatu momen yang sangat berarti dalam hal kemanusiaan agar tertanam jiwa yang santun dan peduli terhadap sesama.

Ia juga menjadikan momen ini sebagai bentuk pelajaran bagi semua pihak agar lebih peduli kepada sesama tanpa memandang suku, ras, dan agama.

“Untuk masalah kemanusiaan tak ada batasan itu, karena yang dibutuhkan disini adalah keikhlasan dalam berbuat sesuatu,” tutur Kapolres.

Sebelum diresmikan dan menyerahkan rumah tersebut, Kapolres dan istri melakukan pengguntingan pita untuk selanjutnya masuk ke dalam rumah guna melihat hasil renovasi.

Sebelum meninggalkan lokasi, Kapolres menyempatkan diri untuk melihat langsung tempat tinggal yang dihuni kedua kakek sebelumnya.

“Menyedihkan bila melihat gubuk derita sang kakek namun sekarang kembali senang melihat tawa kakek Dg.Bunga di rumah barunya,” tutup AKBP Shinto Silitonga. (Hajji Taruna)

Baca Selengkapnya
Advertisement

Terpopuler