"Koalisi Yang Memaksa" | Makassar Today
Connect with us

Opini

“Koalisi Yang Memaksa”

Published

on

Oleh : Saifuddin Mughniy

Benar politik itu adalah ketidakpastian, bahkan Hilkary Clinton pernah berucap bahwa dalam politik itu dikenal dengan “teori kemungkinan”, tidak ada yang tidak mungkin terjadi sepanjang politik itu dipahami sebagai “art” atau seni. Yakni seni memainkan peran. Seni memainkan perang, merebut kekuasaan.

Dalam pemahaman David Easton dalam pemikiran politiknya, menyebutkan bahwa “oposisi” sangat dibutuhkan untuk memberi kontrol politik. Dalam demokrasi modern sebutan “koalisi” begitu menjadi magnet sekaligus atmosfer politik.

Koalisi muncul karena adanya the political will untuk memberi kontrol yang kuat bagi pemerintah. Walau di beberapa negara koalisi mengalami pelemahan karena transaksional politik yang kuat dari rivalitas tertentu. Bahkan koalisi kadang dibentuk untuk memagari “penguasa” yang menang dari yang kalah, bahkan koalisi dibentuk karena “egosentrisme partai politik”.

Di negara dunia ketiga termasuk Indonesia, tidak ada koalisi permanen, terbukti koalisi pecah karena bargaining position, dan inilah yang kemudian disebut distribution of power (bagi-bagi kekuasaan).

Indonesia di Pemilu 2014 nyaris koalisi terbelah menjadi dua yajni, koalisi Indonesia hebat (koalisi pemerintah), serta koalisi merah putih yang di back up oleh Prabowo Subiyanto. Awalnya koalisi ini bergesekan, namun seiring perjalanan pemerintahan koalisi mengalami “kegelisahan” sehingga terpecah. Bisa dikatakan Gerindra, PKS masih bertahan di koalisi ini (KMP).

Satu frase yang perlu di diskusikan makna “koalisi memaksa” dengan “memaksa koalisi”. Koalisi memaksa lebih pada consensus politik partai-partai yang ada dalam koalisi. Senentara memaksa koalisi adalah karena kekuatan tertentu yang menginginkan kekuatan koalisi, misalnya kekuatan presiden untuk menekan koalisi untuk alasan tertentu.

Dan memaksa koalisi itu begitu terasa dalam proses politik di daerah, ada yang secara tiba-tiba ketua partai diwikayah tertentu rekomendasinya ditarik untuk menentukan calonnya didaerah.

Ada juga fenomena seseorang tak punya partai tapi dapat sokongan dari pimpinan koalisi, yang berakibat pada “bongkar pasang” dalam penetapan pasangan. Nyaris kemudian karena hegemoni koalisi ada juga calon atau kandidat tersandera, bahkan nyaris tak bisa dapat partai.

Sebuah realitas empirik yang sulit dibantah, koalisi pemerintah begitu kust kontrol politik diparlemen nyaris tak berfungsi karena terjebak pada kepentingan kekuasaan yang dominan. Kalau begitu adanya maka koalisi dibentuk bukan kepentingan rakyat namun untuk mempertegas keinginan penguasa.

Politik kehilangan trahnya sebagai medium perjuangan, sebab ini bukti “partycracy” dalam demokrasi dan itu sudah dianggap gagal dinegara skandinavia termasuk Spanyol ditahun 1950-an. Karenanya, koalisi ada sisi baiknya dan ada sisi tidak baiknya, tetapi yang pasti demokrasi butuh kontrol politik yang kuat tanpa harus menafikkan kekuatan civil society. (*)

Penulis adalah pendiri OGIE Institute Research and Political Development

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Opini

Jaga Makassaar, Jangan Terprovokasi

Published

on

By

Oleh : Syamsul Bahri Sirajuddin

Sejatinya, kita semua warga Makassar harus menjaga persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara, NKRI harga mati..!

Terlebih lagi sebagai suku Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang telah lama menjadi tuan rumah di Kota Makassar, kita semua harus tampil menjaga persaudaraan dan kerukunan serta kebersamaan yang telah lama Kita bina.

Saudarakau…, jangan oleh karena kepentingan pribadi seseorang, terlebih lagi orang tersebut terbelit banyak masalah, malah kita semua yang diadu domba dengan alasan dizalimi oleh Si Ini dan Si Itu.

Ingatki…, Negara Kita adalah negara hukum. Panglima tertingginya juga hukum.

Jangan hanya karena kalah dalam proses hukum, penegak hukum dan orang besar dari tanah Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar ikut disalahkan, bahkan dihina melalui celoteh murahan, baik yang dilakukan langsung maupun dengan memperalat orang-orang dengan dalih juru bicara dan lain-lain.

Saudaraku…, yang bermasalah itu si DIA, kalau bukan DIA kenapa harus mencari perlindungan ke sana ke mari.

Kalau DIA benar, seharusnya patuh terhadap hukum yang berlaku, bukan menghindari proses hukum dengan berbagai dalih dan alasan.

Bukan sebaliknya, berujung kucing-kucingan, ibarat pemadam kebakaran menyiram disaat ada kebakaran, selebihnya tidur, bermimpi dan berkhayal.

Setelah bangun, DIA berkoar seolah tidak memiliki kesalahan, pada hal DIA lah lebih banyak kesalahannya, termasuk ingin mengadudomba.

Selanjutnya, tentu akan merusak kebersamaan, kerukunan dan persaudaraan Kita semua.

Jaga Makassar,
Jangan terprovokasi….!

Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota adalah salah satu bagian dari pesta rakyat dalam berdemokrasi. Untuk itu, sejatinya seluruh warga Makassar yang memiliki hak pilih bersiap ke TPS untuk memilih pemimpin. Bukan kotak kosong atau kolom kosong.

Selanjutnya, tentu Kita semua harus bergembira menyambut pemimpin baru. Bukan saling gontok-gontokan, yang pada akhirnya merusak silaturrahmi diantara warga kota Makassar yang kita cintai dan banggakan sepanjang masa.

Bersatu, berprestasi, berkesinambungan…, itulah harapan Kita semua kepada siapa pun yang akan menjadi pemimpin pembangunan dan pemerintahan di kota Makassar. 

(Penulis adalah politisi NasDsm dan Presiden Batu Putih Sindicate)

Related Posts
RMS Hadiri Open House di Kediaman Cicu
Makassartoday.com - Ketua DPW Partai NasDem Sulsel, Rusdi Masse, secara khusus menghadiri open house di kediaman Calon Wakil Walikota Makassaar, Andi Rachmatika Dewi (Cicu) di Jl Domba, Sabtu (16/6/2018) malam. Tak ...
READ MORE
Appi-Cicu Ajukan Keberatan, Begini Tanggapan Panwaslu
Makassartoday.com - Panwaslu Kota Makassar menanggapi dingin laporan tim kuasa hukum Appi-cicu ke aparat berwenang. "Yang ditujukan kepada pimpinan kami (Nursari, Ketua KPU, red), tentu kami menghargai hak setiap orang untuk ...
READ MORE
Legislator Hanura: Jangan Terpengaruh Koko, Coblos Appi-Cicu
Makassartoday.com - Pemilihan Wali Kota Makassar dipastikan hanya diikuti satu pasang calon, yakni, Munafri 'Appi' Arifuddin- drg Andi Rachmatika 'Cicu' Dewi. Meski demikian, partai pengusung Appi-Cicu tetap intens bersosialisasi hingga ...
READ MORE
Ini Yang Dilakukan Cicu di Hari ke-10 Ramadan
Makassartoday.com - Memasuki hari ke-10 calon Wakil Walikota Makassar nomor urut 1, Andi Rachmatika Dewi berbagi takjil dengan pengguna Jalan Bonto Lempangan, Sabtu (26/5/2018). Politisi yang juga Ketua NasDem Makassar ...
READ MORE
Besok, Melinda Aksa dan Cicu Launching Program Ruang Bahagia
Makassartoday.com – Duet perempuan aktivis sosial, Melinda Aksa dan drg A Rachmatika Dewi (Cicu) rencananya akan meluncurkan program bertajuk “Ruang Bahagia”, di atrium Mal Ratu Indah Makassar, Selasa (26/12/2017) besok, ...
READ MORE
Erick Horas: Visi-Misi Appi-Cicu Paling Jelas, Tak Perlu Pilih Kolom Kosong
Makassartoday.com - Calon Wakil Walikota Makassar,  Andi Rachmatika Dewi semakin gencar mensosialisasikan program dan visi-misinya. Pemilihan Walikl Kota Makassar memang semakin dekat, tak terasa tinggal menghitung hari. Seluruh tim yang ...
READ MORE
Sejumlah Tokoh Hadiri Acara Buka Puasa Keluarga Besar Sirajuddin
Makassartoday.com - Keluarga besar almarhum, M. Arief Sirajuddin menggelar acara buka puasa bersama, Minggu (20/5/2018). Acara yang berlangsung di Jalan Maipa, kediaman mantan bupati Gowa tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh. Hadir ...
READ MORE
15 PAC PAN se-Makassar Tegaskan Dukung Appi-Cicu
Makassartoday.com - 15 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Partai Amanat Nasional (PAN) se-Makassar meyatakan sikap solid memenangkan pasangan Munafri 'Appi' Arifudddin dan Rachmatika 'Cicu' Dewi dalam Pilwali Makassar 2018 mendatang. Hal itu ...
READ MORE
Cicu Sowan Sekaligus Minta Restu “Tomas” Ujung Tanah
Makassartoday.com - masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri, calon Wakil Walikota Makassar, Andi Rachmatika Dewi masih sibuk berkeliling bersilaturahmi. Beberapa waktu lalu, politisi cantik ini menyempatkan diri untuk mengunjungi ...
READ MORE
Garnita NasDem Makassar Turun Ke Jalan Sosialisasikan Appi-Cicu
Makassartoday.com - Pesta Demokrasi Pemilihan Wali kota dan Wakil Wali Kota (Pilwali) Makassar tinggal menghitung hari. Berbagai aksi dilakukan tim Munafri Arifuddin dan Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) untuk memenangkan pasangan ...
READ MORE
RMS Hadiri Open House di Kediaman Cicu
Appi-Cicu Ajukan Keberatan, Begini Tanggapan Panwaslu
Legislator Hanura: Jangan Terpengaruh Koko, Coblos Appi-Cicu
Ini Yang Dilakukan Cicu di Hari ke-10 Ramadan
Besok, Melinda Aksa dan Cicu Launching Program Ruang
Erick Horas: Visi-Misi Appi-Cicu Paling Jelas, Tak Perlu
Sejumlah Tokoh Hadiri Acara Buka Puasa Keluarga Besar
15 PAC PAN se-Makassar Tegaskan Dukung Appi-Cicu
Cicu Sowan Sekaligus Minta Restu “Tomas” Ujung Tanah
Garnita NasDem Makassar Turun Ke Jalan Sosialisasikan Appi-Cicu
BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Opini

Munaslub Golkar, Jangan Aklamasi

Published

on

By

Oleh: Notrida Mandica

Perlehatan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) DPP Partai Golkar (PG) tak terhindarkan. Meski masih ada tarik menarik soal jadwal apakah dilakukan sebelum atau sesudah praperadilan kedua Setya Novanto.

Ketum DPP PG, yang saat ini menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Terlepas dari jadwal, nama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (AH) mencuat sebagai salah satu calon kuat.

Bahkan beredar kabar akan diambil langkah aklamasi menetapkan AH pada Munaslub nanti. Langkah aklamasi ini dianggap sebagai cara yang cepat dalam masa sulit.

Selain alasan pragmatis lainnya bahwa mekanisme ini baik untuk mengeliminasi proses pemilihan yang bersifat transaksional.

Dalam pandangan saya, metode aklamasi bukan pilihan yang tepat. Alasan waktu dan kekhawatiran tentang proses transaksional terlalu berlebihan.
Sebaiknya praktek penunjukan langsung atau aklamasi tidak diterapkan lagi dalam sistem demokrasi.

Oleh karena mekanisme ini cenderung bersifat otoritarian dan subyektif, serta elitis. Selain itu, cara aklamasi ini sarat kepentingan dan menutup peluang bagi kader lain yang punya kualitas sama atau lebih baik utk bersaing terbuka.

Seharusnya DPP PG membuka ruang kontestasi yang egaliter, terbuka untuk semua kader yang berkualitas dan berintegritas.

Sebagaimana diketahui DPP PG memiliki sejumlah nama kuat untuk bertarung untuk kursi Ketum DPP PG. Antara lain Idrus Marham, Titiek Suharto, Azis Syamsudin, Bambang Soesatyo, Indra Bambang Oetoyo, Agus Gumiwang, dan tokoh Daerah Syahrul Yasin Limpo.

Karena itu, menuju Munaslub DPP PG, pilihan kontestasi harus dikedepankan. Para kader yang kompeten diberi ruang untuk bersaing secara terbuka dan transparan.

Dan bagi kader dan tokoh PG seharusnya pada Munaslub nanti tidak mengakomodir praktek barter suara dengan uang. Sehingga Ketum yang terpilih nanti bersih dari proses transaksional.

Ini berarti pula para kader dan tokoh membantu membersihkan PG dari hulu yang nanti berpengaruh kuat ke hilir. Karena proses transaksional terbukti telah menghancurkan PG. (*)

(Penulis adalah Anggota Dewan Pakar DPP PG)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Opini

Utak Atik Peta Pilgub

Published

on

By

Oleh: Nurmal Idrus

Setelah sekian lama dalam polemik, dinamisasi dukungan partai politik di Pilgub Sulsel 2018, mulai mencair.

Koalisi terlihat sudah terbangun dengan NH Aziz yang dipastikan merengkuh Partai Golkar, PPP Djan Faridz, NasDem, PKPI dan kemungkinan besar Hanura. Koalisi PAN, Gerindra, PKS dan PDIP yang menjagokan pasangan NA-Ass.

Pasangan IYL Cakka untuk sementara didukung Demokrat dan PPP. Pasangan AAN AM sementara memburu kekurangan parpol karena baru didukung PKB dan PBB.

Dengan komposisi seperti itu, sebenarnya tak mudah untuk menebak bagaimana pemetaan basis dukungan mereka. Dengan memperhitungkan data terakhir dari beberapa survey yang saya analisa dan kedekatan geopolitik serta memperhitungkan infrastruktur politik dan birokrasi di daerah itu.

Pasangan IYL-Cakka diprediksi akan menang telak di Gowa, Luwu dan Takalar. Keunggulannya bisa mencapai lebih dari 50 persen. Itu merujuk pada kedekatan geopolitik keduanya.

Di Gowa dan Takalar IYL-Cakka bakal mendulang lebih dari 250 ribu suara dengan tingkat partisipasi rata-rata 65 persen. IYL-Cakka juga diprediksi mendulang suara di Luwu, Toraja, Toraja Utara, Jeneponto, dan Makassar.

Pasangan NA-Ass bakal berkuasa di Bantaeng, Makassar, sebagian Soppeng, sebagian Bone, Bulukumba dan kemungkinan bisa mengimbangi IYL di Jeneponto. Suara Toraja juga akan terbagi ke NA begitupula sebagian Sidrap dan Pinrang.

Kemenangan besar NA-Ass kemungkinan akan terjadi di Bantaeng dan Makassar plus Soppeng. Dengan partisipasi hingga rata-rata 65 persen maka potensi raihan NA di tiga daerah itu mencapai 450 ribu.

Pasangan NH-Aziz bakal mendulang suara di wilayah Bone, Wajo dan sebagian Soppeng. Sebagian besar wilayah Luwu Raya akan berada di genggaman NH Aziz. Kecuali Luwu, keduanya bakal mendulang suara besar di Lutim, Lutra dan Palopo.

Dengan partisipasi pemilih rata-rata 70 persen, wilayah Luwu Raya bakal menyumbang 350 ribu suara. Sokongan Bone, Wajo dan Soppeng juga akan menyumbang besar bagi NH Aziz. Dengan rata-rata partisipasi pemilih di atas 70 persen diperkirakan pasangan ini akan menarik suara tak kurang dari 450 ribu.

Pasangan AAN-AM meski masih terlihat keteteran dalam perburuan parpol jika akhirnya maju akan mendulang suara di Sidrap, Makassar dan Luwu Raya plus Toraja.

Potensi dukungan keduanya mencapai 230 ribu di Makassar dan akan bertembah besar jika mampu memaksimalkan dukungan dibeberapa basis.

Jika keduanya tak jadi maju kemungkinan limpahan suara akan tersebar merata keseluruh calon.

Bagaimanapun pemetaan di atas hanyalah prediksi dengan berbagai pertimbangan. Faktor figuritas, penguasaan infrastruktur politik dan birokrasi serta kemampuan finansial akan menjadi kuncinya. Siapa yang akan menjadi pemenang?

Penulis adalah Direktur Nurani Strategic

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya