Belum Tayang, Tiket Film Maipa Deapati & Datu Museng Sudah Laris Terjual | Makassar Today
Connect with us

Film

Belum Tayang, Tiket Film Maipa Deapati & Datu Museng Sudah Laris Terjual

Published

on

Makassartoday.com – Film kolosal Maipa Deapati Datu Museng karya Paramedia Indonesia, akan tayang perdana di seluruh bioskop tanah air pada 11 Januari 2018.

Film besutan sutradara Rere Art2Tonic tersebut, belum lama ini merampungkan syuting di sejumlah tempat di Sulawesi Selatan. Seperti Bulukumba, Gowa, Maros dan Takalar.

“Antusiasme presale hari pertama.
mall belum buka yang nunggu presale sudah banyak,” tulis Rere di akun fb resminya.

Tiket perdana MDDM ludes terjual di bioskop Makassar dengan harga presale Rp35 ribu, pada tanggal, Kamis (4/1/2018). Sejumlah warga pun telah memiliki tiket pemutaran perdana film tersebut di seluruh bioskop tanah air pada 11 Januari 2018.

“Banyak orang yang tunggu ini film dan saya salut apresiasi orangulawesi dengan film ini, Karena selama ini kebanyakan yang tau kalau maipa deapati dan datu museng itu sebatas nama jalan masih banyak yang belum tau tentang sejarah dan kisahnya” ujar Atol Art2tonic via WhatsApp.

Film sejarah ini juga melibatkan 200 lebih talent. Kisah film ini disebut lebih dalam dan tragis dibanding kisah film Romeo & Juliet.

Film ini juga dibintangi oleh aktor tampan Bollywood, Shaheer Syeikh dan Firzah Burhan, asal Makassar. (Wiwi)


Advertisement
loading...
Comments

Film

Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” Tayang Perdana 18 Januari

Published

on

By

Makassartoday.com – Film Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” bakal tayang di layar lebar mulai 18 Januari. Jadwal penayangan perdana disampaikan langsung produser Film Silariang, Ichwan Persada, saat menggelar press conference di Mall Ratu Indah Makassar, Sabtu (13/1/2018).

Film ini mengangkat isu yang tak lekang jaman di kalangan Bugis Makassar, berkisah tentang cinta dua insan yang tak direstui. Sebuah kisah cinta yang timeless dan selalu relevan untuk diangkat menjadi sebuah cerita menarik, terutama di kalangan anak muda.

Film Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” hadir di dunia perfileman tanah air untuk menggambarkan sebuah kisah percintaan yang selalu happening dari masa ke masa. Ichwan mengatakan, Silariang sendiri merupakan sebuah isu yang tak lekang oleh zaman di kalangan Bugis Makassar.

“Dalam beberapa tahun belakangan, ada kegairahan untuk mengangkat isu-isu local. Bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa. Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Sebagai putra daerah, tentu saja saya juga ingin mengangkat nilai-nilai budaya dari kampung halaman saya, Makassar. Dan saya percaya kerarifan lokal bakal menjadi kekuatan baru di perfileman Indonesia,” ujar Ichwan Persada di dampingi sejumlah talent film tersebut.

“Tema ‘silariang’ bukanlah hal baru di industri kreatif tanah air. Di tahun 70-an, sastrawan terkenal Makassar sekaligus peraih piala Citra, Rahman Arge (almarhum) sudah mengangkatnya dalam sebuah cerita pendek. Lalu, ditahun 1990-an, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga memproduksi film berjudul “Jangan Renggut Cintaku” Dan film ini (Silariang) menjadi menarik dan segar dari kisah-kisah tentang silariang sebelumnya karena mengambil perspektif dari pelakunya,” sambung Ichwan.

Film Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” merupakan film perdana dari rumah produksi asal Makassar, Inipasti Commmunica bekerja sama dengan Indonesia Sinema Prsada, dengan melibatkan sineas-sineas muda Indonesia hasil kolaborasi Makassar dan Jakarta. Sebut saja Wisnu Adi sebagai sutradara, Kunun Nugroho sebagai co-sutradara, penulis skenario Oka Aurora, Luna Vidya sebagai pengarah peran dan banyak lagi.

Sesuai dengan targetnya, yaitu anak muda, dan konsep film yang mengangkat budaya Bugis, Film Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” pun tak lepas menggandeng sederet aktor muda Indonesia, seperti Bisma Karisma, Anandia Suri, peraih 2 piala Citra Dewi Irawan, serta aktor lokal berbakat Makassar, seperti Nurlela M. ipa, Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, Fhail Firmansyah dan didukung sejumlah pemain-pemain berbakat Makassar lainnya.

Mempercayakan penyutradaraan film ini kepada Wisnu Adi bukanlah hal yang sulit bagi Ichwan karena sebelumnya Wisnu sudah menyutradarai film Miracle: Jatuh dari Surga yang diproduseri oleh Ichwan Persada.

Buat Wisnu Adi sendiri, awal ditawarkan menyutradarai film ini cukup menarik hatinya. “Kesederhanaan cerita ini menjadi daya tarik tersendiri. Film ini mengangkat realita yang sering terjadi di kehidupan kita. Cerita tentang keluarga, sosok ibu, perkawinan siri, bibit-bebet-bobot,” jelas Wisnu.

Proses produksi film Silariang pertama kali diriset, penulisan, hunting lokasi, proses latihan dialek Makassar serta syuting film ini hingga post produksi menghabiskan waktu yang cukup panjang. Meski tak menyebutkan lokasi spesifik di adegan film, sebagian besar gambar di rekam di lokasi wisata eksotis, Rammang-Rammang, yang tengah dibidik menjadi primadona pariwisata. Rammang rammang berjarak sekitar sejam perjalanan dari Makassar.

Untuk karakter Zulaikha yang diperankan Anandia Suri juga ada treatment khusus karena perannya sebagai bangsawan Bugis.

“Dalam mendalami peran dan latihan dialek Makassar, saya butuh waktu tiga bulan. Awalnya Sulit luar biasa karena belum terbiasa. Tapi beberapa waktu tinggal di sana, lama kelamaan jadi terbiasa. Bahkan, setelah syuting selesai pun masih terbawa logat Makassar-nya,” cerita Anandia Suri, pemeran Zulaikha

Sementara bagi Bisma sendiri, proses pendalaman karakter Yusuf yang ia perankan tidaklah terlalu suit. “Menjadi Yusuf dalam film ini proses pendalamannya cukup singkat, kok. Cukup dua minggu untuk observasi di Makassar dan proses reading di Jakarta. Justru, kondisi di lapangan saat syuting yang berat karena kondisi cuaca di Rammang Rammang yang drastis perubahannya, sebentar hujan, sebentar panas. Sehingga membuat kondisi badan saya cukup kewalahan,” ungkap Bisma, buka rahasia. (Hajji Taruna-Wiwi)


Baca Selengkapnya
Advertisement

Trending

Terpopuler

loading...