Terkait Kasus Setya Novanto, KPK Cekal Mantan Kontributor Metro TV | Makassar Today
Connect with us

Nasional

Terkait Kasus Setya Novanto, KPK Cekal Mantan Kontributor Metro TV

Published

on

Makassartoday.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai masuk ke beberapa pihak yang diduga menghalang-halangi penyidikan terhadap Setya Novanto. Terbukti penyidik mencegah empat orang, yakni Fredrich Yunadi, Hilman Mattauch, Reza Pahlevi dan Achmad Rudyansyah.

“Dicegah ke luar negeri selama enam bulan terhitung sejak 8 Desember 2017,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah lewat pesan singkat, Selasa (9/1/2018).

Sebagai informasi, Fredrich Yunadi merupakan mantan kuasa hukum Setya Novanto, Hilman Mattauch selaku mantan kontributor Metro TV, Reza Pahlevi selaku ajudan Setya Novanto dan Achmad Rudyansyah sebagai anak buah dari Fredrich.

Adapun surat pencegahan keduanya telah dilayangkan lembaga antirasuah ke Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM sejak 8 Desember 2017 lalu.

Menurutnya, pencegahan itu diperlukan mengingat sewaktu-waktu penyidik membutuhkan keterangan maka yang bersangkutan bisa memenuhi panggilan di KPK.


“Dalam proses pencegahan mereka berempat dilakukan untuk kepentingan penyelidikan dugaan tindak pidana mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa SN,” tutur Febri.

Adapun penyelidikan tersebut terkait dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sebagai informasi, KPK tengah melakukan penyelidikan dugaan menghalang-halangi pengusutan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang telah menjerat Setya Novanto menjadi terdakwa. Ini ihwal hilangnya Novanto ketika hendak ditangkap penyidik KPK di kediamannya pada 15 November 2017.

Bahkan, saat itu Novanto sempat berstatus sebagai buron. Selang sekira satu hari, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mengalami kecelakaan mobil yang dikemudikan Hilman di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, saat hendak menyerahkan diri ke KPK.

Lalu, Fredrich pun juga turut datang mendampingi Novanto yang dibawa ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta. (Rilis.id)

Advertisement
Comments

Nasional

Suara Demokrat Merosot, AHY: 5 Tahun Kita Pahit

Published

on

By

Makassartoday.com – Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY memotivasi ratusan kader di Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin, (9/4/2018) kemarin.

AHY meminta mereka kembali bangkit untuk menatap pemilu legislatif dan pemilu presiden 2019. “2014, Partai Demokrat merasakan pahit, dan rasa pahit itu harus dirasakan selama lima tahun,” ujarnya.

AHY menuturkan menurunnya suara Partai Demokrat pada pemilu 2014 sangat terasa karena dalam dua periode sebelumnya, yakni 2004-2009 dan 2009-2014, partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu meraih kemenangan gemilang, termasuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Tapi hidup adalah penggalan-penggalan romantika jatuh-bangun. Sekarang, mari bangun semangat agar tahun 2019 Demokrat bangkit lagi dan kita bahagia lima tahun ke depan dan seterusnya,” ucapnya.


Kebahagiaan yang diperoleh jika Demokrat bangkit pada 2019, kata AHY, tentu bukan hanya untuk para kader, tapi juga seluruh rakyat Indonesia. “Apa yang membuat kita bahagia selain melihat kebahagiaan lahir batin rakyat yang diperhatikan pemimpinnya?” tuturnya.

AHY berujar, pada masa kepemimpinan SBY selama 10 tahun telah terjadi peningkatan signifikan hampir di semua aspek pembangunan nasional. Perekonomian meningkat, penghasilan masyarakat, daya beli, dan pendapatan per kapita semuanya meningkat.

“Dan di masa (kepemimpinan SBY) itu, masyarakat bisa bekerja tenang, aman, tentram hatinya, keadilan hadir di negeri ini dan semua warga mendapat perhatian,” ujarnya.

Meski Indonesia merupakan negara majemuk, AHY melanjutkan, saat masa kepemimpinan SBY, Demokrat benar-benar telah menyuarakan pentingnya persatuan, toleransi, dan harmoni di antara perbedaan. (bm)

Baca Selengkapnya
Advertisement

Terpopuler