Kadispora Sulsel Ramaikan Gala Premiere Film MDDM | Makassar Today
Connect with us

Film

Kadispora Sulsel Ramaikan Gala Premiere Film MDDM

Published

on

Makassartoday.com – Tayang perdana Film kolosal Maipa Deapati & Datu Museng (MDDM) yang mengangkat kisah cinta dalam sejarah kerajaan di Makassar, Sulawesi Selatan, mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pemuda Dan olahraga (Kadispora) Provinsi Sulsel, Sri Endang Sukarsih

Endang sangat mengapresiasi film MDDM, “Saya mengapresiasi film MDDM, film yang bercerita tentang sejarah makassar, saya juga bangga sama karya-karya anak muda Makassar yang membuat film ini,” ujar Kadispora Sulsel, Sri Endang sukarsih usai menonton Gala Premiere Film Maipa Deapati dan Datu Museng di XXI MAll Panakkukang, Kamis (11/1/2018)

“Kedua, anak-anak kita belum tahu sejarah seperti apa Maipa dan Datu Museng, dengan hadirnya film ini bisa membantu mereka mengetahui sejarah makassar, di film ini juga saya melihat kisah cinta kasih yang begitu dalam dan luar biasa, saat ini sulit ada cinta yang seperti itu. saya minta semua orang khususnya Makassar dan Sulawesi Selatan harus nonton fim ini,” tambahnya.

Kisah cinta Maipa Deapati dan Datu Museng tak kalah tragis dan romantis dari cerita “Romeo and Juliet” dan cerita timur “Laila Majenun”

Film MDDM mengandung sejarah bagaimana dulu Datu Museng membela Makassar di tanah kelahirannya, Datu Museng sangat mencintai istrinya Maipa dan sebaliknya Maipa juga sangat mencintai suaminya, sedikit kutipan kata Maipa “Kanda, dari pada aku diperistrikan orang lain mending bunuh saja aku, aku tidak sudi dan tidak mau!”

Sutradara juga penulis Skenario film ini, Syahrir Arsyad atau yang lebih kenal dengan sapaan akrabnya Rere Art2tonic mengaku mendapatkan tantangan berat saat menggarap film ini

Ia mengaku sulit dalam proses penggarapan film ini “sulit, figtingnya harus natural, lokasinya juga berbeda-beda, ada 8-9 lokasi syuting, proses syuting memakan waktu kurang lebih 4 bulan, mulai februari sampai juni, tingkat kesulitannya di wilayah dan jumlah pemain, dan suhu waktu juga, dimana harus ada figting siang dengan cuaca panas habis itu pindah lagi ketempat dingin, suhunya sangat mempengaruhi,”

Seperti biasa, Produser juga penulis ini tidak pernah memberi target penonton dalam filmnya, ia cuman berharap semoga mendapatkan respon yang baik dari masyarakat

“Kita lihat antusias, selama saya bikin film sy tidak mau ditarget kalau saya di target saya cut itu produser, tidak ada target” ujar Rere dengan santai

Film Maipa Deapati dan Datu Museng syuting berpusat dibeberapa tempat di Sulawesi Selatan seperti Bulukumba, Gowa, Maros dan Takalar.

Diadaptasi dari kisah legenda yang sudah terkenal di kalangan orang-orang Makassar, Kisah Maipa Deapati dan Datu Museng awalnya dalam bentuk sinrilik (kesenian lisan dari Sulawesi Selatan, khususnya daerah Gowa dan Maros).

Sedikit Sinopsis Film ini bercerita tentang Datu Museng yang merupakan seorang pemuda pemberani yang gagah perkasa dari Gowa, ia jatuh cinta pada wanita cantik jelita, kembang Kesultanan Sumbawa bernama Maipa Deapati. Kisahnya berlatar pada tahun 1957 dan 1959, dimana kala itu bumi Sulawesi dijajah oleh Belanda.

Datu Museng pantang menyerah demi cintanya pada Maipa Deapati, tak ada kekuatan yang bisa memisahkan mereka, termasuk kolonial Belanda dengan kekuatan besar. Begitu juga Maipa Deapati yang rela mempertaruhkan nyawanya demi sang suami, Lalu keduanya memilih mati demi cinta sejati.

Soundtrack film ini berjudul “Telah Terjadi”, lagu yang membuat Shaheer menitikkan air mata saat mendengarnya.

Film Maipa Deapati & Datu Museng di produksi oleh Art2tonic, Paramedia Indonesia dan Sai Rama Entertainment, dengan melibatkan artis Internasional Shaheer Sheikh yang berperan sebagai Datu Museng. Dengan tujuan untuk lebih banyak merangkul penonton dari berbagai negara karena film MDDM berencana go internasional.

Dan Finalis Putri Indonesia asal Sulawesi Selatan, Fildzah Burhan yang berperan sebagai Maipa Deapati serta menghadirkan pemain lain seperti
Hans de Kraker, Ikram Noer, Syahriar, dan Zulkifli Gani Ottoh, Cahya Aryanagara. (Wiwi)


Advertisement
loading...
Comments

Film

Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” Tayang Perdana 18 Januari

Published

on

By

Makassartoday.com – Film Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” bakal tayang di layar lebar mulai 18 Januari. Jadwal penayangan perdana disampaikan langsung produser Film Silariang, Ichwan Persada, saat menggelar press conference di Mall Ratu Indah Makassar, Sabtu (13/1/2018).

Film ini mengangkat isu yang tak lekang jaman di kalangan Bugis Makassar, berkisah tentang cinta dua insan yang tak direstui. Sebuah kisah cinta yang timeless dan selalu relevan untuk diangkat menjadi sebuah cerita menarik, terutama di kalangan anak muda.

Film Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” hadir di dunia perfileman tanah air untuk menggambarkan sebuah kisah percintaan yang selalu happening dari masa ke masa. Ichwan mengatakan, Silariang sendiri merupakan sebuah isu yang tak lekang oleh zaman di kalangan Bugis Makassar.

“Dalam beberapa tahun belakangan, ada kegairahan untuk mengangkat isu-isu local. Bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa. Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Sebagai putra daerah, tentu saja saya juga ingin mengangkat nilai-nilai budaya dari kampung halaman saya, Makassar. Dan saya percaya kerarifan lokal bakal menjadi kekuatan baru di perfileman Indonesia,” ujar Ichwan Persada di dampingi sejumlah talent film tersebut.

“Tema ‘silariang’ bukanlah hal baru di industri kreatif tanah air. Di tahun 70-an, sastrawan terkenal Makassar sekaligus peraih piala Citra, Rahman Arge (almarhum) sudah mengangkatnya dalam sebuah cerita pendek. Lalu, ditahun 1990-an, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga memproduksi film berjudul “Jangan Renggut Cintaku” Dan film ini (Silariang) menjadi menarik dan segar dari kisah-kisah tentang silariang sebelumnya karena mengambil perspektif dari pelakunya,” sambung Ichwan.

Film Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” merupakan film perdana dari rumah produksi asal Makassar, Inipasti Commmunica bekerja sama dengan Indonesia Sinema Prsada, dengan melibatkan sineas-sineas muda Indonesia hasil kolaborasi Makassar dan Jakarta. Sebut saja Wisnu Adi sebagai sutradara, Kunun Nugroho sebagai co-sutradara, penulis skenario Oka Aurora, Luna Vidya sebagai pengarah peran dan banyak lagi.

Sesuai dengan targetnya, yaitu anak muda, dan konsep film yang mengangkat budaya Bugis, Film Silariang “Cinta Yang (Tak) Direstui” pun tak lepas menggandeng sederet aktor muda Indonesia, seperti Bisma Karisma, Anandia Suri, peraih 2 piala Citra Dewi Irawan, serta aktor lokal berbakat Makassar, seperti Nurlela M. ipa, Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, Fhail Firmansyah dan didukung sejumlah pemain-pemain berbakat Makassar lainnya.

Mempercayakan penyutradaraan film ini kepada Wisnu Adi bukanlah hal yang sulit bagi Ichwan karena sebelumnya Wisnu sudah menyutradarai film Miracle: Jatuh dari Surga yang diproduseri oleh Ichwan Persada.

Buat Wisnu Adi sendiri, awal ditawarkan menyutradarai film ini cukup menarik hatinya. “Kesederhanaan cerita ini menjadi daya tarik tersendiri. Film ini mengangkat realita yang sering terjadi di kehidupan kita. Cerita tentang keluarga, sosok ibu, perkawinan siri, bibit-bebet-bobot,” jelas Wisnu.

Proses produksi film Silariang pertama kali diriset, penulisan, hunting lokasi, proses latihan dialek Makassar serta syuting film ini hingga post produksi menghabiskan waktu yang cukup panjang. Meski tak menyebutkan lokasi spesifik di adegan film, sebagian besar gambar di rekam di lokasi wisata eksotis, Rammang-Rammang, yang tengah dibidik menjadi primadona pariwisata. Rammang rammang berjarak sekitar sejam perjalanan dari Makassar.

Untuk karakter Zulaikha yang diperankan Anandia Suri juga ada treatment khusus karena perannya sebagai bangsawan Bugis.

“Dalam mendalami peran dan latihan dialek Makassar, saya butuh waktu tiga bulan. Awalnya Sulit luar biasa karena belum terbiasa. Tapi beberapa waktu tinggal di sana, lama kelamaan jadi terbiasa. Bahkan, setelah syuting selesai pun masih terbawa logat Makassar-nya,” cerita Anandia Suri, pemeran Zulaikha

Sementara bagi Bisma sendiri, proses pendalaman karakter Yusuf yang ia perankan tidaklah terlalu suit. “Menjadi Yusuf dalam film ini proses pendalamannya cukup singkat, kok. Cukup dua minggu untuk observasi di Makassar dan proses reading di Jakarta. Justru, kondisi di lapangan saat syuting yang berat karena kondisi cuaca di Rammang Rammang yang drastis perubahannya, sebentar hujan, sebentar panas. Sehingga membuat kondisi badan saya cukup kewalahan,” ungkap Bisma, buka rahasia. (Hajji Taruna-Wiwi)


Baca Selengkapnya
Advertisement

Trending

Terpopuler

loading...