Deng Ical: Kondisi Ekonomi Makassar Tertinggi, Namun Gini Rasio 0,42 Persen | Makassar Today
Connect with us

Sulsel

Deng Ical: Kondisi Ekonomi Makassar Tertinggi, Namun Gini Rasio 0,42 Persen

Published

on

Makassartoday.com – Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Makassar Dr Syams d u Rizal Mi, menghadiri Isra Miraj warga kaccia, di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Sabtu (14/4/2018).

Kehadiran pria yang akrab disapa Deng Ical itu, disambut lantunan sholawat badar oleh puluhan remaja masjid nurul qolby dan juga lantunan ayat kursi al’quran dari ibu-ibu majelis taklim nurul qolby.

Selain isra miraj, acara ini juga dirangkaikan dengan peresmian pondok DDI, pelantikan pengurus dan peletakan bantu pertama pembangunan gedung kampus DDI Nurul Qolby.

Dalam sambutannya, Deng Ical menyampaikan terkait situasi dan kondisi perekonomian di Kota Makassar sekarang ini.

Ia menjelaskan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi Makassar saat ini luar biasa tingginya dibanding kota-kota lainnya di Indonesia.


Namun di balik tingginya tingkat perekonomian Makassar, ada juga permasalahan yang besar, yakni tingkat gini rasio atau kesenjangan sosial yang tingginya mencapai 0,42 persen, dan itu bisa mengakibatkan terjadinya konflik sosial.

Apalagi kata dia, semua faktor pendukung yang bisa menyebabkan terjadinya konflik sosial, mulai dari agama hingga suku semua ada di Makassar.

Tapi dibalik ancaman yang begitu luar biasa berbahayanya itu, tidak banyak yang sadar bila yang membuat ketahanan sosial di Makassar itu bisa kuat dan bertahan dikarenakan syiar islamnya.

“Ketahanan sosial di Makassar itu bisa kuat karena ukuwah islamiyah, hal ini yang membuat kita semua merasa tenang dan damai bekerja di Makassar,” kata Deng Ical. (*)

Advertisement
Comments

Sulsel

Polisi Tak Segan Tindaki Aksi Premanisme Debt Collector

Published

on

By

Makassartoday.com – Mitra Sulawesi menyelenggarakan diskusi publik yang dikemas dalam Bincang Ngopi yang bertajuk “Simalakama Debt Collector,  Dipecat atau Dipenjara” di Warkop 56, Jl Dg Bollo, Kabupaten Gowa, Jumat (20/4/2018).

Terkait maraknya penarikan kendaraan yang dilakukan debt collector, banyak isu negatif tersebar di kalangan masyarakat mulai dari aksi penggunaan ancaman kekerasan bahkan penganiayaan yang dapat mengakibatkan kematian.

Diskusi ini menghadirkan narasumber, Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, praktisi hukum, Dr Asdar Arti, pihak perusahaan finance serta perwakilan dari OJK Sulsel.

Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga mengatakan, tidak segan-segan mengambil ketegasan terhadap aksi premanisme.

“Jika ada ancaman bahkan kekerasan yang dilakukan debt collector saat eksekusi, kami tidak segan-segan melakukan penindakan tegas terhadap aksi premanisme ini,” tegas Shinto.


Selain kreditur, penegakan hukum Polres Gowa juga mengakomodir laporan dari debitur sebagai ekses atau dampak dari cara collector mengeksekusi di lapangan.

Dalam materinya, Kapolres Gowa Akbp Shinto Silitonga SIK,. MSi menjelaskan dua peran Polres Gowa dalam dunia kefidusiaan.

“Sesuai UU No.42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, maka Polres Gowa berperan sebagai penegak hukum sesuai Pasal 35 dan Pasal 36,” jelasnya.

Kreditor atau pihak leasing, sambung Kapolres, bisa membuat laporan tentang adanya dugaan pemalsuan informasi dalam akta fidusia, serta pengalihan dan penggadaian barang fidusia oleh debitur tanpa persetujuan kreditut.

Dalam perkembangannya saat ini, laporan kreditur di atas juga dapat dilapis dengan persangkaan Pasal 372 KUHP dan Pasal 378 KUHP. (*)

Baca Selengkapnya
Advertisement

Terpopuler