Kisah Mahasiswi Mualaf Yang Terlahir dari Orangtua Berbeda Keyakinan | Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Inspiratif

Kisah Mahasiswi Mualaf Yang Terlahir dari Orangtua Berbeda Keyakinan

Published

on

Makassartoday.com – Resky Yani Fadillah (Kiky) bisa dikatakan di masa kecilnya ia gadis yang cukup kebingungan jika ditanyai soal keyakinannya memeluk agama apa.

Lahir dari Orangtua yang berbeda keyakinan, Pendidikan agama masa mudanya bisa dikatakan bercampur aduk, hal itu dikarenakan pengajaran agama yang didapatkan dari ayahnya yang beragama Muslim berbeda dengan ajaran dari Ibunya yang non Muslim. Meski demikian, Kiky beserta kedua Orangtuanya tetap hidup rukun.

Singkat cerita, Kiky tumbuh besar dengan pertanyaan pertanyaan seputar agama dan rasa penasarannya yang menjadi titik balik dirinya yakin memeluk agama Islam.

Muallaf

Kiky mengucapkan dua kalimat syahadat tepatnya di bulan Agustus tahun 2015. Wafatnya sang ayah di tahun 2010 diakui menjadi salah satu motivasi perempuan berparas cantik itu mulai mempelajari Islam. Namun, dia juga mengungkapkan jika alasannya memeluk agama Islam karena mendapat ketenangan jiwa selama mempelajarinya. Hal itulah yang membuat dirinya sangat yakin untuk menjadi pengikut ajaran Rasulullah SAW.

Sebelum menjadi seorang muallaf, Kiky yang awalnya berdomisili di Kendari pindah ke Makassar untuk melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi. Tinggal bersama neneknya (Orangtua Almarhum ayahnya). Ia sering melihat nenek dan sepupunya salat berjamaah. Dari situ ia mengakui jika kebiasaan seperti inilah yang membuat dirinya makin penasaran dengan Islam.

“Kalau subuh itu smua orang bangunmi salat. Sibuk nenekku kasih bangun orang salat baru saya tidur ja, tapi tdak lama sadarka, kan ribut jadi ku lihat sepupuku apa salat. Awalnya biasaja, tapi lama kelamaan tidak enak kurasa, karena cuma saya yang tidak salat,” ucapnya saat dihubungi, Kamis Malam (31/5/2018).

Lanjut dia, kebiasaan neneknya menceritakan kisah hidup ayahnya menjadi alasan kuat gadis kelahiran Kota Makassar itu ingin mengenal lebih jauh ajaran Islam.

“Nenekku juga selalu cerita soal bapakku yang buatka sedih dan berfikir ka siapa lagi kasian yang mau doakan bapakku, otomatis ituji caraku brbakti. Jdi itumi masukka,” tambahnya.

Usai hijrah menjadi seorang muallaf, Ia mengakui dirinya mendapat dukungan dari teman, kerabat dan orang orang sekitarnya.
Bahkan Ibunya pun mulai menerima keputusan Kiky yang memilih Islam menjadi agamanya.

Belajar Sholat

Fase awalnya dimulai dengan membaca beberapa buku tuntunan sholat. Buku tuntunan itupun didapatkan dari neneknya. Dirinya mengungkapkan jika ia sempat mengalami kesulitan dalam mempelajari gerakan sholat. Hal itu dibuktikan dengan kebiasaanya lupa gerakan sholat dalam praktek kesehariaannya.

“Kalau sholatnya, nenekku langsung kasihka buku, jadi saya mulaimi baca itu buku. Tidak sholatka dulu smpainya ku hafal bacaanya. Itupun pas ku praktekkan kadang terbalik rukuk sama sujud bacanya, baru kadang ku lupa tahiyat akhir,” ungkapnya.

Namun keinginan besarnya yang ingin belajar tentang islam membuat gadis berusia 20 tahun itu terus belajar hingga bisa terbiasa dengan gerakan sholat.
Merasa sudah cukup mengetahui gerakan sholat, Kiky mulai belajar perlahan membaca ayat suci Alquran.

Dalam proses belajarnya ia mengakui jika dimasa kecil ia cukup familiar dengan lantunan ayat suci tersebut. Berbekal pengalamannya, ia mulai belajar secara bertahap dan ikut melibatkan neneknya dalam prosesi belajarnya.

“Saya dulu ada ji basicku karena pernah ja diajar tapi pas ka lihat lagi tidak kutahu mi apa tanda bacanya. Kayak baca iqro lagi ku rasa terbatah batah . Tapi kulatih trus jadi akhirnya saya sudah bisami baca alquran, ” tegasnya menambahkan.

Mulai berpuasa

Ketika memasuki bulan ramadhan, Kiky mencoba melaksanakan Ibadah puasa seperti kebanyakan muslim pada umumnya.

Ia mengatakan jika semasa hidup ayahnya dirinya pernah belajar berpuasa dibangku Sekolah Dasar (SD). Ia mengakui dirinya sempat mengeluh dengan kondisi ia harus menahan lapar dan haus. Ia pun sempat berpikir untuk membatalkan puasanya. Namun, Kiky merasa malu jika harus membatalkan puasanya dikarenakan teman sekampusnya yang mayoritas Muslim.

“Masa iya mauka kalah sama temanku jadi mengikut teruska,” ucapnya.

Awalnya dia belum menceritakan kepada teman sekelasnya bahwa ia seorang muallaf.

Barulah di semester IV, ia
menceritakan kepada teman-temannya bahwa dirinya baru saja memeluk Islam.

Ia juga menceritakan jika puasa pertamanya ia berlibur ke Kabupaten Toraja bersama seorang temannya. Temannya sendiri tanpa dia ketahui ternyata seorang cucu dari Imam Mesjid. Hal itu yang menjadikan dirinya untuk tetap kuat dan konsisten mempelajari lebih dalam tentang Islam.

“Yang lucu ku rasa saking tidak mauku ditahu, tidak mauka bertanya. Saya shercing semua dulu di google bru pura-pura ma tukar pikiran. Kalau mauka sholat tarwih apa ku lihat dulu niatnya bru sholat ka begitupun witir cuma kadang terbalik,” jelasnya.

Meskipun demikian, dirinya benar benar bersyukur kepada Allah SWT dikarenakan ia diberi kesempatan untuk melaksanakan Ibadah puasa selama sebulan penuh.

“Puasaku bulan itu penuh. Karena halanganka pas hari kedua lebaran bruka dapat. Kayak ku rasa na kasih betulka waktu Allah untuk betul betul ibdah,” pungkasnya.

Menurutnya, Islam adalah agama ketenangan, ia mengatakan jika sholat dan mengaji yang membawa ketenangan dalam dirinya. Selain itu, ia mengungkapkan jika Islam adalah agama yang benar benar diatur karena semuanya sudah ada dalam alquran.

Kini gadis yang berstatus sebagai mahasiswa itu sudah memantapkan diri menggunakan hijab. (*)

Lipsus: Maman

BAGIKAN:
Comments

Trending