Kepsek dan 2 Guru Terjaring OTT Pungli Penerimaan Siswa Baru | Makassar Today
Connect with us
alterntif text
alterntif text
alterntif text
alterntif text

Hukum & Kriminal

Kepsek dan 2 Guru Terjaring OTT Pungli Penerimaan Siswa Baru

Published

on

Makassartoday.com – Dunia pendidikan di Sulsel kembali tercoreng, lantaran ulah oknum Kepala Sekolah (Kepsek) dan dua guru di SMPN 1 Bua, Kabupaten Luwu yang diduga melakukan praktik pungli pada
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2018.

Sang Kepsek, Drs Nurhasan yang merupakan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia ‎(PGRI) Kabupaten Luwu bersama dua orang guru wanita bernama Hj Masita dan Herna terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Polres Luwu, Selasa (10/7/2018).

Dua guru tersebut, yakni Hj Masita adalah bendahara sekolah. Sedangkan Herna berstatus ketua penerimaan siswa baru. Ketiganya dituding melakukan praktik pungli dengan modus meminta uang sumbangan senilai Rp300 ribu per siswa.

Selain mengamankan ketiganya, polisi juga menyita barang bukti berupa satu rangkap buku pembayaran beserta uang pembayaran senilai Rp11,4 juta berasal dari siswa laki laki, sedangkan peserta didik perempuan Rp9,7 juta, serta dua rangkap kwitansi pembayaran.

“Operasi Tangkap Tangan (OTT)‎ di SMPN 1 Bua kita gelar setelah kami menerima aduan dari orang tua siswa. Yang kami jaring saat itu, kepsek, bendahara dan ketua penerima siswa baru di sekolah tersebut. Aduannya hingga ketiganya kami amankan lantaran melakukan pungutan liar setiap siswa sebesar Rp300 ribu. Modusnya adalah minta sumbangan,” jelas Kepala Unit Reksrim Polres Luwu AKP Faizal Syam.

Sumbangan sebesar Rp300 ribu itu, lanjut Faiz harus dibayar oleh orang tua siswa. Namun dihadapan petugas ketiganya menyangkal dan mengaku jika uang senilai Rp300 ribu yang mereka pungut merupakan biaya kebutuhan siswa, seperti baju sekolah, baju batik sekolah uang koperasi dan kartu siswa.

“Mereka mengaku kalau uang itu dipungut untuk pembelian baju batik sekolah Rp65 ribu, buju sekolah Rp95 ribu, dasi, topi dan lambang Rp70 ribu, juga uang koperasi dan kartu siswa sebesar Rp70, dengan jumlah total keseluruhan Rp300 ribu.‎ Tapi itu keterangan pelaku, dan kita masih dalami kasusnya,” pungkasnya. (Askay Khan)

BAGIKAN:
Comments

Hukum & Kriminal

Diduga Sekap Karyawati, Polisi Ciduk Pria di Maccini Gusung

Published

on

By

Makassartoday.com – Tim Resmob Polsek Makassar berhasil mengamankan I alias P (23), atas laporan kasus dugaan penyekapan dan percobaan pemerkosaan seorang karyawati berinisal DI (22), Rabu (18/7/2018).

Korban sebelumnya tak diketahui keberadaannya selama tiga hari, setelah diantar oleh pelaku menuju tempat kerjanya. Korban kemudian melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian setelah berhasil kabur dari rumah pelaku di Kelurahan Maccini Gusung, Kecmatan Makassar.

Dihadapan polisi korban mengaku diajak ke rumah korban dan disajikan makanan mie instan yang diduga telah dicampur obat tidur. Usai menyantap mi instan tersebut, korban mengaku kantuk, lalu tak sadarkan diri.

Korban terkejut, setelah bangun melihat pakaiannya berbeda dengan yang sebelumnya dikenakan. Korban hendak berteriak meminta tolong, namun pelaku disebut menyumpal mulut dan mengikat tangan korban.

Sementara pelaku dalam pemeriksaannya membantah tuduhan korban. Pelaku mengaku bahwa korban berinisiatif sendiri tinggal di rumahnya, meski sudah diminta oleh pelaku untuk pulang.

“Pelaku membantah tudingan penyekapan serta percobaan pemerkosaan terhadap korban. Pelaku mengaku bahwa selama tiga hari itu dirinya menyuruh korban pulang, namun korban sendiri yang tidak mau pulang,” kata Kepala Unit Reksrim Polsek Makassar, Iptu Heriyanto yang mengutip pengakuan pelaku.

Meski begitu, kasus ini tetap ditindaklanjuti pihaknya dengan menyerahkan pelaku ke Penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Makassar.

“Nanti kita tunggu hasil visum korban dari penyelidikan Unit PPA,” kuncinya. (Askay Khan)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Hukum & Kriminal

Hina Agama di Medsos, Remaja di Mariso Nyaris Diamuk Massa

Published

on

By

Makassartoday.com – Kasus ujaran kebencian melalui akun media sosial (medsos) kembali terjadi. Kali ini pelakunya adalah seorang remaja berusia 15 tahun berinisial DBS yang bermukim di Jl Tekukur, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Sulsel.

Akibat ulahnya menulis kalimat bernada penghinaan terhadap agama Islam melalui akun Facebook miliknya, DBS nyaris jadi bulan-bulanan warga.

Warga yang kesal mendatangi kediaman DBS, Selasa (17/7/2018) sekitar pukul 20.30 WITA. Beruntung aparat kepolisian cepat tiba mengamankan lokasi dan mengevakuasi pelaku dari kepungan massa.

Kabid Humas, Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani yang dikonfirmasi mengaku telah menerima kabar tersebut.

“Yang bersangkutan mengakui menulis kalimat bernada penghinaan di akun focebooknya, hngga salah seorang warga di Jl Barukang bernama Haslan Hamid (31) melapor atas perbuatannya itu. Tulisan pelaku menyebar luas ke media sosial, hingga membuat warga marah dan mengepung rumah pelaku,” jelas Dicky, Rabu (18/7/2018).

Saat ini, pelaku DBS masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Mariso, setelah sebelumnya diamankan di Mapolrestabes Makassar. (Askay Khan)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya

Hukum & Kriminal

Warga Pampang Tewas Bersimbah Darah di Dalam Rumah

Published

on

By

Makassartoday.com – Warga Jl Pampang I, Lr 2, Kelurahan Pampang, Kecamatan Panakkukang digegerkan dengan penemuan mayat perempuan paruh baya, Selasa (17/7/2018) sekitar pukul 20.00 Wita.

Korban diketahui bernama Dempa Dg Bollo (55) ditemukan tak bernyawa dalam kondisi bersimbah darah di dalam rumah, Jl Pampang 1 Lr 2 No 31.

Pria yang diketahui sebagai wirausaha tersebut, diduga kuat menjadi korban pembunuhan, dimana ditemukan sejumlah luka menganga di bagian tubuh korban.

Korban pertama kali ditemukan oleh lelaki Sanneng Dg Liwang, yang tak lain adalah ponakannya sendiri.

Saksi menyebutkan, sejak dua hari korban tak pernah datang lagi ke rumahnya. Hal itu membuat saski curiga hingga mendatangi umah korban yang tak jauh dari rumahnya.

“Setiap malam korban datang ke rumah, tapi dua hari ini tidak ada kabar. Saya kemudian ke rumah korban sekitar jam 8 malam, tapi pagar rumah korban tergembok,” beber Sanneng.

Saksi kemudian memaksa masuk ke dalam dengan cara memanjat pagar dan kemudian menemukan pintu rumah dalam kondisi tidak terkunci.

“Saya masuk ke dalam rumah saat itu kondisinya gelap gulita, baru pintu rumah tidak terkunci. Disitulah saya temukan almrahum tergeletak di lantai penuh darah. Saya panik dan langsung memanggil Serang (saudara korban,red),” bebernya lagi.

Saat inu pihak kepolisian masih melakukan olah TKP untuk mencari pembunuhan korban. Polisi juga menerima informasi dari tokoh setempat yang mengaku terjadi tiga kali aksi pencurian di korban. (Askay Khan)

BAGIKAN:
Baca Selengkapnya