IMIKI Harap Caleg Muda Tak Sekedar Pelengkap Kuota Maksimal | Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Politik

IMIKI Harap Caleg Muda Tak Sekedar Pelengkap Kuota Maksimal

Published

on

Makassartoday.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) Cabang Makassar membahas peluang pemuda menjadi calon anggota legislatif (Caleg).

Diskusi yang dilaksanakan di Warkop Press Corner, Jalan Pengayoman, Kamis (9/8/2018) mengusung tema “Pemuda Mencalonkan diri sebagai Wakil Rakyat”.

Ketua IMIKI Cabang Makassar, Muhammad Ilham mengatakan, agar diskusi lebih bervariatif dan memiliki beberapa sudut pandang, pihaknya menghasirkan beberapa pembicara seperti Arqam Azikin yang dikenal sebagai analisis politik, dosen komunikasi UIN Alauddin, Jalaluddin Basyir dan Gunawan Songki mewakili perspektif mahasiswa dan pemuda.

Kata Ilham, mayoritas calon anggota legislatif saat ini adalah anak muda. Namun, mereka yang bertarung mengalami persoalan yang sama yaitu rendahnya dukungan financial.

Bukanlah sebuah perjuangan yang mudah, bertarung diarena politik yang didominasi politisi-politisi senior dan berduit, ditambah lagi persoalan pemikiran masyarakat yang cenderung materialistis, apatis dan opurtunis, membuat pertarungan menjadi tidak seimban.

“Memposisikan Caleg muda berfinancial rendah sangat dirugikan. Walaupun saat ini peraturan/UU yang mengatur tentang proses pemilu sudah mulai berpihak pada penyeimbangan kekuatan. Namun, realitas di lapangan, pelanggaran-pelanggaran yang menguntungkan caleg berduit masih terus terjadi,” jelasnya.

Seorang pemuda yang menjadi calon legislatif, bukanlah sekedar menjadi pelengkap kuota maksimal, tapi merebut satu kursi parlemen sebagai keterwakilan pemuda.

Pemuda dianggap masih bersih dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi terhadap rakyat.

Walau secara materi modal yang dimiliki tidak sebanding dengan caleg-caleg yang pernah merasakan menang dalam pemilu. Namun, modal social yang dimiliki pemuda tidaklah kalah dibandingkan dengan incumbent.

Sementara itu, Arqam Azikin mengatakan, banyak anak muda jadi caleg menjadi angin segar pesta demokrasi, baik politik lokal maupun nasional.

“Pemuda jadi Caleg menjadi trend positif bagi pesta demokrasi kita, baik ditingkat kabupaten dan kota , maupun provinsi serta nasional,” jelasnya dihadapan peserta diskusi.

Namun, kata Arqam, sebagai catatan pemuda yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Mereka harus punya bekal pengetahuan yang cukup dan mumpuni, minimal terkait ilmu-ilmu pemerintahan.

“Selain itu, syarat lain bagi pemuda yang menjadi Caleg harus punya bekal dan amunisi cukup, jika terpilih mereka bisa melakukan perbaikan tatanan dan praktek bernegara kita selama ini,” tambahnya.

Bagi Arqam, selain persiapan matang dari figur yang diusung, partai politik juga diharuskan menjalankan pendidikan di internal partai maupun eksternal.

“Calon yang diusung harus cerdas, punya analisis dan pemecahan masalah ketika duduk di parlemen,” pungkasnya.

Dosen Komunikasi UIN Alauddin, Jalaluddin Basyir mengaku, dari kaca mata akademisi dirinya memandang banyaknya anak muda jadi sebagai ajang pembaruan tokoh politik.

“Kehadiran pemuda dikancah politik tentunya membawa kabar baik bagi kita. Selain sebagai pembaharu tokoh politik, mereka diwajibkan untuk mempunyai kreativitas saat menjalankan tugas sebagai legislator nantinya,” terangnya.

“Saat ini, kita tidak hanya menunggu sosok baru saja menjadi wakil rakyat di parlemen, pemuda juga melainkan juga praktek politik real dan menyentuh masyarakat secara umum. Sebab tugas anggota DPRD sebagai tangan, mata dan lidah rakyat,” ungkapnya.

Rakyat saat ini, tambah Jalaluddin, bukan lagi pemilih yang bisa dibeli dan sogok.

“Pemilih sudah cerdas, tak bisa dibeli lagi dengan uang. Pemilih akan melihat siapa yang punya potensi lebih untuk mewakili aspirasi mereka di parlemen nantinya. Sehingga, caleg muda ini harus punya terobosan baru dalam menjalankan tugas-tugas politik nantinya,” tuturnya.

Sementara itu, Gunawan Songki menyebut banyaknya pemuda jadi Caleg merupakan gerakan positif, namun punya beberapa catatan.

“Minimal mereka punya pengalaman berjuang secara politik. Tanpa pengalaman tersebut, mereka bisa apa jika duduk di parlemen. Setidaknya, mereka pernah ikut dalam kampanye-kampanye anti penggusuran, anti korupsi atau membela rakyat miskin kota yang terbebani dengan berbagai permasalahan,” jelas Nawan sapaan akrabnya. (*)

BAGIKAN:
Advertisement
alterntif text
Comments

Trending