Polisi Dalami Peran RP Terkait 5 Tersangka Kasus Sengketa Pilcaleg Sulsel | Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Hukum & Kriminal

Polisi Dalami Peran RP Terkait 5 Tersangka Kasus Sengketa Pilcaleg Sulsel

Published

on

Makassartoday.com, Makasaar – Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Sulsel menetapkan lima orang tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana Pemilihan Calon Legislatif (Pilcaleg) tingkat Provinsi Sulsel untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Makassar B, Selasa (2/6/2019).

Kelima orang yang ditetapkan sebagai tersangka masing-masing, Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Biringkanaya berinisal A, Ketua PPK Kecamatan Panakukang berinisal U, Panitia Pemungutan Suara dari Kelurahan Panaikang inisal F serta Operator KPU Kecamatan Biringkanaya dan PPS di Kecamatan Panakukang, berinisial R dan I.

Kabid Humas Polda Sulsel mengatakan, kelima tersangka diduga kuat melakukan upaya penggelembungan suara untuk menguntungkan salah satu caleg tertentu.

Dalam kasus ini, Caleg Sulsel Dapil Makassar B dari Partai Golkar, Rahman Pina (RP) ikut diperiksa sebagai saksi.

Dijelaskan bahwa ada indikasi pengelembungan suara melalui DAA1 yang tidak sesuai dengan C1 dari TPS di dua Kecamatan di Makassar, yakni Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Panakukang.

“Ada lima yang ditetapkan sebagai tersangka. Kelimanya diduga melakukan penggelembungan suara. Kemarin juga ada pemeriksaan terhadap caleg yang diduga terkait dalam kasus ini,” kata Dicky saat diwawancara wartawan, Selasa (2/7/2019).

Baca juga : Rahman Pina Diperiksa Terkait Sengketa Pilcaleg 2019

Dicky mengatakan, pihaknya sejauh ini masih mendalami peran RP atas lima orang tersangka tersebut.

“Nanti kita lihat sejauh mana perkembangannya dari pihak penyidik,” ujar Dicky.

Dicky menjelaskan, peran para tersangka ini masing-masing, inisal A dan U diduga lalai pelaksanaan penghitungan perolehan suara pemilu sehingga penetapan suara tidak sesuai antara C1 dari TPS dengab DAA1 yang dikeluarkan oleh PPK.

Sementara tersangka F dan R karena meminta kepada pengimput untuk mengubah suara caleg dengan imbalan.

“Kalau tersangka R itu diduga mengubah suara dari inputan dan mendapatkan upah berupa uang sementara tersangka I mengubah suara yang ada dalam inputan,” jelas Dicky. (Askay Khan)

BAGIKAN:
Comments

Trending