Kondisi Tutupan Karang di Kepulauan Spermonde dalam Ancaman Besar | Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Sulsel

Kondisi Tutupan Karang di Kepulauan Spermonde dalam Ancaman Besar

Published

on

Makassartoday.com, Makassar – Kerusakan ekosistem bawah laut di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan (Sulsel) disebut terus bertambah parah danp emerintah harus segera turun tangan untuk mencegah kerusakan itu.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh tim MSDC (Marine Science Diving Club) Universitas Hasanuddin (Unhas), terhadap terumbu karang (reef check) secara berkala setiap tahunnya memperlihatkan tren penurunan tutupan karang hidup di sejumlah pulau.

Dimana dari data terbaru MSDC tahun 2018, menunjukkan tutupan karang hidup Pulau Barrang Lompo tercatat 40% (kategori sedang), Pulau Barrang Caddi sebesar 38% (kategori sedang), dan Pulau Samalona sebesar 30% (kategori buruk).

Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun menunjukkan indeks kesehatan terumbu karang yang rendah di Spermonde dengan rentang nilai antara 1-3.

“Hasil pengamatan yang kami lakukan di tiga pulau selama sembilan tahun terakhir memperlihatkan kondisi tutupan karang di kepulauan Spermonde dalam ancaman besar,” kata Muhammad Irfandi Arief, Ketua MSDC Unhas, dalam kegiatan diskusi yang bertajuk, “Selamatkan Spermonde, Selamatkan Laut Indonesia,” di Jalan Topas Raya, Makassar, Kamis (14/11/2019).

alterntif text

Sementara Muhammad Al Amin, Direktur Walhi Sulsel mengatakan, total nilai manfaat ekonomi ekosistem terumbu karang di perairan Spermonde berdasarkan beberapa penelitian berkisar dari 30 jutaan hingga 1 miliar per hektar per tahun.

Bila ekosistem Spermonde rusak parah, kerugian bukan hanya akan dialami oleh nelayan atau pelaku usaha perikanan. Pemerintah daerah juga bisa kehilangan potensi pemasukan dari sektor pariwisata.

“Pasalnya, Spermonde menjadi salah satu ikon Sulawesi Selatan dan menawarkan keindahan bahari yang luar biasa bagi wisatawan domestik dan mancanegara,” kata Al Amin.

Lanjut, Al Amin meyebut penyelamatan Spermonde bisa menjadi titik awal dari tindakan serius untuk memulihkan dan menjaga ekosistem dan ruang laut nasional.

Sementara pembicara terakhir dari Tim Pembela Lautan (Ocean Defender) Greenpeace Indonesia juga sudah melakukan pemantauan dan mengambil dokumentasi bawah laut di Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, dan Kodingareng Keke, awal September lalu.

Kerusakan terumbu karang karena pengambilan ikan dengan bom dan bius jelas terlihat. Pemulihan terumbu karang karena aktivitas ilegal dan merusak sulit dilakukan dalam waktu cepat.

“Pengawasan, pendekatan sosial kemasyarakatan dan penegakkan hukum oleh pihak berwenang terhadap kegiatan penangkapan ikan harus dilakukan secara intensif,” ucap Afdillah, Jurukampanye Laut Greenpeace Indonesia. (Isak Pasabuan)

BAGIKAN:
Comments

Trending