Dialog Terbuka Yayasan Assyirbani Bahas Gerakan Radikalisme | Makassar Today
Connect with us
alterntif text

CITIZEN REPORT

Dialog Terbuka Yayasan Assyirbani Bahas Gerakan Radikalisme

Published

on

Makassartoday.com, Cirebon – Yayasan Assyirbani melaksanakan Dialog Terbuka dengan tema “Bersatu Mendukung Kepemimpinan dan Kebijakan Nasional untuk Antisipasi Gerakan Radikal”, yang berlangsung, di Gedung NU, Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Sumber, Kab. Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/11/2019).

Kegiatan menghadirkan beberapa narasunber, yakni Letkol Laut (P) Agung Nugroho SE, M.Tr Hanla (Danlanal Cirebon), Mustaqim Asteja (Sejarawan dan budayawan dari Keraton Kesepuhan Cirebon), DR. KH Wawan Arwani MA (Pimpinan Ponpes Buntet), Drs. H. Imron Rosyadi MA (Bupati Kab. Cirebon).

Sementara peserta Dialog Terbuka ini dihadiri 50 orang dari elemen masyarakat, antara lain ASN, mahasiswa, pemuda, perwakilan ormas, organisasi karang taruna, Ketua DPRD Kab. Cirebon. Dialog tersebut dibuka secara resmi oleh KH Aziz Hakim Syaerozi selaku ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cirebon pada pukul 10.30 WIB – 13.45 WlB.

KH Aziz Hakim Syaerozi dalam sambutannya mengatakan bahwa NU mempunyai komitmen untuk mendukung pemerintahan yang sah serta politik NU adalah politik kebangsaan. Dinamika politik ketidakpuasan beberapa pihak di NU tidak masuk dalam siapa yang menjabat dan duduk di pemerintahan.

“Yang perlu diwaspadai adalah Cirebon daerah yang potensi transit dan singgah dan menghimpun warga warga yang berpotensi untuk menjadi gerakan radikal oleh karenanya perlu kehati hatian dalam menyikapinya walaupun Cirebon sudah mengedepankan plurasime dan perbedaan,” ungkapnya pada saat sambutan.

alterntif text

Sementara Mustaqim Asteja (Sejarawan dan budayawan dari Keraton Kesepuhan Cirebon), mengatakan semua masyarakat harus mendukung pemimpin nasional karena demokrasi telah dilaksanakan dan telah terpilih kepemimpinan nasional. Adanya kepemimpinan nasional hasil dari para leluhur sehingga negara Indonesia menjadi negara merdeka, ketika Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Mustaqim Asteja menceritakan, awal negara Indonesia merdeka sudah muncul bibit – bibit paham radikalisme dengan adanya orang Sunda yang ingin merdeka dengan mendirikan negara Pasundan pimpinan Surya Legawa dengan membuat negara boneka NICA.

Lanjut Mustaqim, bahwa mereka ingin melakukan apel di Alun alun Cirebon namun dari kalangan kraton Cirebon langsung menolak. Peran masyarakat Cirebon dalam berjuang untuk NKRI sangat tinggi, karena Cirebon sangat mendukung kepemimpinan nasional dari zaman dahulu sampai saat ini.

Sejak proklamasi kemerdekaan sampai dengan era globalisasi dengan berkembangnya dunia internet maka masalah yang ada misalnya KKN, masalah kemiskinan, kebodohan, narkoba, separatis, teroris adalah permasalahan serius yang harus diwaspadai. Saat ini yang harus dilakukan adalah memperkuat pemahaman sejarah berdirinya bangsa Indonesa dengan mengorbankan jiwa dan raga.

“Untuk itu, para pemimpin harus bisa menunjukan tauladan kepada masyarakat, bisa menegakan hukum secara adil dan tanpa pandang bulu. Bisa menanamkan pendidikan karakter agar mereka semua menghargai jasa para pahlawan yang berjuang di negara kita. Semua elemen bangsa Indonesia harus memiliki kemauan dan tekad tindakan nyata diataranya adalah radikalisme. Semua tindakan harus didasarkan dengan Pancasila dan UUD 1945,” jelasnya. (Tina)

BAGIKAN:
Comments

Trending