Lima Amanat Perjuangan dari Habib Rizieq ke Peserta Reuni Akbar 212 | Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Nasional

Lima Amanat Perjuangan dari Habib Rizieq ke Peserta Reuni Akbar 212

Published

on

Makassartoday.com, Jakarta – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menyampaikan Lima Amanat Perjuangan kepada para peserta Reuni Akbar 212. Rizieq menjelaskan, amanat pertama adalah menjaga tradisi Reuni 212 dengan segala keindahannya.

“Sebab reuni ini momentum yang teramat penting bagi umat Islam Indonesia khususnya, bahkan semua rakyat Indonesia. Kita harus jaga keindahannya, ketertibannya,” ujar Rizieq lewat video yang diputar pada acara Reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2019).

Yang kedua, lanjut Rizieq, jangan pernah putus asa dalam perjuangan penegakan keadilan. Jika seribu kali kita jatuh, ujar Habib, maka seribu satu kali kita harus siap bangkit kembali dalam menegakkan keadilan.

Sedangkan, amanat ketiga adalah percaya dan yakin dengan janji Allah. Menurutnya, jangan sampai satu kegagalan dalam langkah perjuangan memupuskan harapan kita untuk meraih kemenangan.

“Allah menegaskan bahwa jalan untuk meraih rido Allah sangat banyak. Tidak ada alasan bagi kita untuk putus asa,” tuturnya.

Amanat keempat yang dipaparkan adalah teruslah berjuang dengan keikhlasan dan kebersamaan. Sebab, pertolongan Alah ada dalam keikhlasan dan kebersamaan.

alterntif text

Amanat terakhir dari HRS untuk peserta reuni adalah jangan berhenti membela bangsa, agama, dan negara. Saat ini, lanjutnya, telah terjadi peristiwa penodaan agama. Dimana, ada seseorang yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Ayahnya.

“Dia merasa Ayahnya lebih baik dari Rasulullah SAW, ada lagi orang yang gambarkan kehidupan masa kecil Nabi dengan masa kecil yang dekil, kumal kotor, tidak terurus. Dan ada juga orang secara terang-terangan menyebut bahwa terorisme itu punya agama dan agama terorisme itu adalah Islam. Semua ini merupakan penodaan agama,” tukasnya.

“Jangan berhenti, teruslah kita berjuang. Sebagaimana kita ketahui, bahwa di Indonesia telah terjadi penodaan agama. Ada yang membandingkan Nabi dengan ayahnya. Ada juga orang yang membandingkan kehidupan Nabi dengan masa kecil yang dekil, kotor, dan tak terurus,” pungkasnya.

“Ada yang membandingkan Nabi Muhammad dengan ayahnya. Yang menghina agama Islam, maka hukumannya adalah hukuman mati, setelah pelakunya diminta bertaubat. Ini dalam konteks hukum agama,” tandasnya.

(Sumber : Kronologi)

BAGIKAN:
Comments

Trending