Warga Jalan Rajawali Merasa Dikucilkan, Sebut Pasien Positif Corona Hoax - Makassar Today
Connect with us
alterntif text

NEWS

Warga Jalan Rajawali Merasa Dikucilkan, Sebut Pasien Positif Corona Hoax

Published

on

Makassartoday.com, Makassar – Sebuah video menayangkan seorang ibu yang mengaku sebagai warga Jalan Rajawali, Kelurahan Panambungan, Kecamatan Mariso, kota Makassar, Sulsel, viral di media sosial, Selasa (24/3/2020).

Ibu tersebut mengaku bernama Hj Suriati, warga Kelurahan Panambungan, RW 08, RT 02. Dalam videonya Hj Suriati berbicara tentang maraknya pemberitaan salah seorang warga di tempatnya yang disebut telah terjangkit Covid-19 atau virus Corona.

Pemberitaan itu diakuinya berdampak pada kehidupan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. Akibat banyak berita yang beredar, Hj Suriati merasa jika lingkungannya saat ini dikucilkan oleh warga luar.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saya haji Suriati, tinggal di Kelurahan Panambungan, RW 08, RT 02, dengan ini saya menginfokan kepada semua pengguna media sosial jangan selalu berbuat hoax, berkata hoax, sehingga dampaknya kepada orang di Rajawali sangat besar. Tidak nurasakanna ji karena bukan kau yang tinggal, kita dikucilkan bahwa banyak sekali mi yang meninggal di Jalan Rajawai padahal tidak ada. Itu yang mati juga (pasien 285) belum positif Corona, karena hasilnya dari Siloam bilang jantung, na kenapa langsung heboh bilang Corona,” keluh Hj Suriati dalam video yang beredar.

Dia juga menyebut bahwa pemandi jenazah almarhumah sejauh ini dalam kendaan sehat. Ia bahkan menantang orang-orang yang menyebut warga Jalan Rajawali banyak yang terjangkit untuk datang melihat langsung kondisi mereka.

Hj Suriati juga menekankan bahwa hidup mati seseorang yang tentukan
adalah Tuhan dan mereka yang menyebar hoax terkait meninggalnya banyak warga di Jalan Rajawali hanya ingin mencari sensasi saja.

“Memangnya kau yang tentukan hidup matinya orang. Piti-piti, moko terkenal kau punya facebook, hoax selalu bicara yang bukan-bukan sampai menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan ke Surabaya, Balikpapan, ke NTB,” keluhnya dengan nada tinggi.

Menurutnya, meninggalnya seorang warga di Jalan Rajawali murni karena sakit akibat faktor cuaca, dimana jemaah umrah merasakan perbedaan cuaca setelah pulang ke tanah air.

“Baru satu orang mati karena pulang umrah. Saya juga pernah umrah sama persis penyakit ku kena infulensa karena pergantian cuaca dari dingin ke panas, tapi tidak mati ja. Kebetulan mungkin ajalnya,” sebutnya.

Sepeti diketahui sebelumnya Gubernur Sulael, Nurdin Abdullah mengumumkan adanya dua warga Sulsel yang dinyatakan positif Covid-19.

Satu diantaranya, pasien nomor 285 berjenis kelamin perempuan meninggal dunia pada 15 Maret setelah menjalani perawatan di RS Siloam Makassar. Namun hasil tes pasien dinyatakan positif itu baru diumumkan gubernur empat hari setelah almarhum meninggal dunia.

“Saya jelaskan Covid-285 (almarhumah), bahwa beliau baru kembali dari ibadah umrah. Seminggu kemudian mengalami diare dan batuk, mereka dirawat di RS Siloam, dengan keluhan demam dan sesak. Dan ketika dilaksanakan foto torax menunjukkan ada penyakit di parupar-parunya,” jelas Nurdin Abdullah di kediamanya, Perdos Unhas Jalan Perintis Kemerdekaan, kota Makassar, Kamis (19/3/2020) malam.

alterntif text

Almarhun disebut terjangkit virus Corona setelah meninggal dunia, dimana saat itu sampel dan hasil tes-nya baru diambil.

“Pasien ini meninggal dunia di tanggal 15 Maret. Kita belum tahu yang bersangkutan positif Corona. Baru tadi kami menerima hasil bahwa almarhum meninggal dunia akibat Corona,” jelasnya.

Dalam pengumuman itu, Nurdin Abdullah sama sekali tidak menyebut nama dan identitas pasien yang dimaksud. Namun sehari setelahnya, pihak Tripika Kecamatan Mariso tiba-tiba melakukan sterilisasi di kediman seorang di Jalan Rajawali.

Sterilisasi itu melibatkan tim penyemprot disinfektan (cairan pembasmi kuman bakteri dan virus) dari PMI Cabang Makassar.

Camat Mariso, Harun Rani kepada wartawam mengatakan sterilisasi itu dilakukan pasca meninggalnya salah satu warganya yanh dinyatakan positif terindikasi virus Corona.

Bahkan Harun mengaku sempat datang melayat ke rumah duka, meski saar itu pihaknya belum mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium penyebab meninggalnya almarhum.

“Saat meninggal kita semua berada di sekitar situ. Bahkan saya pergi melayat,” kata dia saat dihubungi lewat via telpon, Jumat (20/3/2020).

Harun mengaku telah meminta warga sekitar untuk tetap berada di rumah. Hal itu untuk menghindari kontak langsung, sekaligus memutus mata rantai virus Corona.

Selain itu, dia juga mengaku telah menyampaikan kepada warga luar agar tidak masuk untuk sementara waktu dan melakukan kontak langsung di sekitar kediaman pasien yang meninggal tersebut.

“Tadi juga pihak PMI dan Damkar Makassar sudah melakukan penyemprotan itu rumah, tempat di semayamkan (almarhum). Ada isolasi, kita informasikan karna warga diluar tidak tahu. Ada yang kita informasikan bahwa ada yang positif,” bebernya.

Saat ditanyakan soal pemeriksaan massal kepada warga yang berhubungan dan melakukan kontak langsung dengan almarhumah, Harun mengatakan tak ada pemeriksaan.

“Kita suruh sterilkan badan. Saya belum ada gejala itu,” tutupnya.

(Erianto/Isak)

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending