Tiga Mahasiswa Ditangkap Saat Ikut Aksi Protes Nelayan Kodingareng - Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Hukum & Kriminal

Tiga Mahasiswa Ditangkap Saat Ikut Aksi Protes Nelayan Kodingareng

Published

on

Makassartoday.com, Makassar – Riuh nelayan Pulau Kodingareng, Kecamatan Sakarrang, Kota Makassar kembali terdengar. Dimana hari ini, Sabtu (12/9/2020) sekitar pukul 09.40 Wita, ada sebelas orang kembali ditangkap oleh Direktorat Polairud Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) saat menggelar aksi unjuk rasa menolak penambangan pasir laut oleh PT Boskalis di sekitar perairan wilayah tangkap mereka.

Dari sebelas orang yang ditangkap diketahui tiga orang diantaranya adalah anggota Pers Mahasiswa Makassar dan satu orang aktivis mahasiswa.

Koordinator Aliansi Masyarakat Selamatkan Pesisir, Ahmad saat dikonfirmasi menjelaskan kronologi kejadian. Sekitar pukul 07.00 WITA masyarakat di pulau Kodingareng kembali mengetahui kalau kapal Kapal Queen of Nederlands milik PT. Boskalis kembali menambang.

“Meliha kapal kembali beroperasi, masyarakat berumusyawarah untuk melaksanakan aksi di depan Boskalis (Kapal Queen of Nederlands) dalam rangka menghentikan aksi tambang pasirnya,” terang Ahmad.

Akan tetapi, setelah massa aksi hendak pulang, Ahmad menyebut tiba-tiba datang dua Sekoci (Speedboat) Polairud Polda Sulsel dan merusak tiga kapal nelayal digunaka. Dua Lepa-Lepa dan satu kapal jenis Jolloro (kapal tradisional).

“Saat hendak kembali menjalankan kapal, Polisi melepaskan tiga kali tembakan. Tak berselang lama, Polisi menarik paksa nelayan dan mahasiswa yang berada di kapal nelayan. Penangkapan ini terjadi sekitar 09.40 WITA. Kapal mereka hendak pulang akan sandar di Gusung (Kodingareng), tiba-tiba mereka dihadang oleh dua Sekoci Polairud,” tuturnya.

Saat ini, ia bersama kuasa hukum nelayan berada di sekitar kantor Polairud Polda Sulsel untuk mendampingi 11 orang ini. Akan tetapi, Ahmad menyebut pihak kepolisian tidak memberikan akses pada mereka.

alterntif text

“Kami saat ini berada di Polairud Polda Sulsel akan tetapi mereka mengaggap 11 orang ini hanya diperiksa sebagai saksi, padahal tidak ada yang terjadi waktu aksi tapi tiba-tiba mereka ditangkap dan di bawa,” ujar Ahmad.

“Kami bersama LBH Makassar mau melakukan pendampingan hukum tapi tidak diberi akses oleh pihak Polairud dengan alasan intruksi dari pimpinan mereka tidak memperbolehkan masuk di wilayah Polairud meskipun pendamping hukum,” tambahanya.

Sementara, Kadiv Tanah dan Lingkungan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar Edy mengatakan hingga saat ini, ketiga jurnalis tersebut masih ditahan di kantor Dit Polairud Polda Sulsel. Kepala Dit Polairud juga menghalang-halangi akses bantuan hukum.

Atas kejadian tersebut, Ady menilai parat dari Polairud Polda Sulsel telah melakukan tindakan penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang terhadap jurnalis pers mahasiswa yang sedang melakukan kerja jurnalistik.

“Di samping itu, juga melanggar pasal 28F UUD 1945 berkaitan dengan hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan memberikan informasi dengan menggunakan media apa saja yang ada, hak yang juga dikuatkan oleh Pasal 14 ayat (2) Undang-undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,” tutur Edy.

Terpisah, Direktur Direktorat Polairud Polda Sulsel, Kombes Pol Heri Wiyanto yang dikonfirmasi ikut membenarkan adanya penangkapan tersebut. Adapun dasar penagkapan yang dilakukan pihaknya disebut dengan alasan pengrusakan.

“Melakukan pelemparan bom molotov dan pengrusakan kapal penyedot pasir dengan melakukan pemotongan kabel listrik peneumatic nya mas ti TKP taka copong lokasi pengambilan pasir laut,” jawab Kombes Pol Heri Wiyanto melalui pesan WhatsApp.

Adapun nama-nama yang ditangkap yakni Asrul, Andi Saputra, Irwan, Mustakin, Nasar, Rijal. Sementara 3 orang mahasiswa yang ditangkap : Hendra (UKPM Unhas) Ramma (FMN) , Masyur (UPPM UMI, Muh. Raihan (UPPM UMI).

(Isak Pasa’buan)

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending