Korban Penembakan Barukang Mengadu Ke Komnas HAM - Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Hukum & Kriminal

Korban Penembakan Barukang Mengadu ke Komnas HAM

Published

on

Makassartoday.com, Makassar – Korban penembakan oknum polisi yang terjadi di Jalan Barukang, Kota Makassar, 30 Agustus 2020 lalu, mengajukan permohonan investigasi ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

PBH Advokasi LBH Makassar, Salman Azis, mewakili tim kuasa hukum korban mengatakan, langkah permohonan investigasi ke Komnas HAM dilakukan pihaknya lantaran adanya dugaan pelanggaran HAM atas penggunaan senjata api secara melawan hukum dan sewenang-wenang oleh terduga pelaku, oknum Anggota Polsek Ujung Tanah berinial Us.

“Kami mendampingi korban dan pihak keluarga ke Komnas HAM agar dilakukan investigasi secara mendalam. Indikasi pelanggaran HAM dalam kasus ini dikuatkan bukti-bukti yang kami temukan, baik rekaman CCTV hingga selonsong peluru yang telah didapatkan,” jelas Salman Azis kepada MakassarToday.com, Rabu (25/11/2020).

Baca Juga : Kronologi Penembakan Tiga Warga di Barukang Versi Polisi

Dalam kesempatan itu, pihaknya juga meminta Komnas HAM untuk mendesak Kapolri, memberikan atensi pada kasus tersebut agar segera naik ke tingkat penyidikan.

“Kami meminta Komnas HAM untuk terlibat dalam olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang akan segera dilakukan oleh Pihak Polda Sulsel, mengingat terduga pelaku/terlapor adalah anggota Kepolisian, maka sangat penting untuk Komnas HAM melakukan investigasi yang akan melahirkan sebuah rekomendasi dan mendesak Kapolri untuk memproses dengan cepat kasus yang diajukan oleh korban demi terlaksananya penegakan hukum dan Reformasi Kepolisian untuk keadilan,” pintanya.

Baca Juga : Dua Korban Ikut Diperiksa, Belum Ada Tersangka Kasus Penembakan di Barukang?

Salman menambahkan, oknum anggota Kepolisian yang menjadi terduga pelaku penembakan diduga kuat telah melanggar prinsip Necessitas, Proporsionalitas dan Reasonable, penggunaan senjata api berdasarkan Peraturan Kapolri (PERKAP) No.1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian serta Perkap No. 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyeleggaraan Tugas Polri.

“Oknum tersebut melepaskan tembakan secara bertubi-tubi di pemukiman padat penduduk bahkan mengarah datar ke kerumunan warga yang berada di lokasi pada saat itu,” sambungnya.

Berdasarkan Perkap Nomor 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan Dalam Tindak Kepolisian, kata Salman, aparat polisi hanya boleh menggunakan instrumen kekerasan berupa senjata tumpul ketika pelaku bertindak agresif yang dalam artian bertindak menyerang aparat polisi, masyarakat, harta benda atau kehormatan kesusilaan.

Sedangkan, penggunaan kekuatan dengan kendali senjata api dilakukan ketika: Tindakan pelaku kejahatan atau tersangka dapat secara segera menimbulkan luka parah atau kematian bagi anggota Polri atau masyarakat; Anggota Polri tidak memiliki alternatif lain yang beralasan dan masuk akal untuk menghentikan tindakan/perbuatan pelaku kejahatan atau tersangka tersebut; Anggota Polri sedang mencegah larinya pelaku kejahatan atau tersangka yang merupakan ancaman segera terhadap jiwa anggota Polri atau masyarakat.

Sekedar diketahui, kasus dugaan penembakan yang dilakukan oleh oknum Anggota Kepolisian Polsek Ujung Tanah di Jalan Barukang, Kota Makassar, mengakibatkan dua orang mengalami luka berat, yakni Ikbal (22) dan Amar Ma’ruf (19). Satu orang lainnya, yaitu Anjasasmara (23) meinggal dunia.

Adapun oknum terduga pelaku berinisal Us, sebelumnya telah dilaporkan ke Poda Sulsel atas dugaan tidandak pidana “menghilangkan nyawa orang lain secara bersama-sama dan/atau kekerasan terhadap orang secara bersama-sama yang mengakibatkan kematian dan luka berat dan/atau membantu melakukan dan/atau turut serta melakukan tindak pidana” sebagaimanan dimaksud dalam ketentuan Pasal 338 KUHPidana subs 170 KUHPidana jo 351 jo Pasal 55 jo Pasal 56 KUHPidana.

(Riel/*)

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending