LBH Minta Hakim Berani Bebaskan Ijul, Tersangka Pembakaran Ambulans NasDem   - Makassar Today
Connect with us
alterntif text

Hukum & Kriminal

LBH Minta Hakim Berani Bebaskan Ijul, Tersangka Pembakaran Ambulans NasDem  

Published

on

Makassartoday.com, Makassar – Sidang praperadilan satu tersangka kasus pembakaran ambulans NasDem kota Makassar akan memasuki tahap pembacaan putusan.

Pembacaan putusan itu dijadwalkan pada pukul 09.30 Wita di Ruang Sidang Utama Harifin A. Tumpa, Pengadialan Kota Makassar, Rabu (2/12/2020), besok.

Praperadilan ini melibatkan tersangka atas nama Suprianto alias Ijul sebagai pemohon dan Kapolrestabes Makassar sebagai tergugat.

Kuasa Hukum Ijul, Edy Kurniawan Wahid mengatakan, berdasarkan fakta hukum yang terungkap selama persidangan, Kapolrestabes Makassar telah bertindak secara sewenang-wenang. Dalam artian telah melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Pertama, Kapolrestabes Makassar menetapkan Ijul sebagai tersangka, melakukan penangkapan dan penahanan hanya berdasarkan 1 (satu) alat bukti yang sah menurut pasal 184 ayat 1 KUHAP, yaitu bukti keterangan saksi,” ujar Edy melalui siaran persnya, Selasa (1/12/2020).

Di sisi lain, kata Edy, pihak kepolisian gagal membuktikan adanya alat bukti lain (selain keterangan saksi), seperti keterangan ahli dan bukti surat sebagai syarat penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan;  

“Kedua, Kapolrestabes Makassar tidak pernah memeriksa Ijul sebagai calon tersangka, akan tetapi langsung ditetapkan sebagai tersangka kemudian melakukan penangkapan dan penahanan,” jelas Wakil Direktur LBH Makassar itu.

Edy menilai bahwa tindakan kepolisian tidak memenuhi ketentuan atau norma bahwa penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan itu harus berdasarkan minimal 2 alat bukti sesuai Pasal 184 ayat 1 KUHAP dan dilakukan pula pemeriksaan calon tersangkanya, sebagaimana dinyatakan dalam Putusan MK No. 21/PUU-XII/2014 tanggal 28 April 2015. Pasal 184 ayat.

Menurut Edy, bahwa syarat minimum dua alat bukti dan pemeriksaan calon tersangka dilakukan demi transparansi dan perlindungan hak asasi pemohon sebelum ditetapkan sebagai .

“Tersangka telah dapat memberi keterangan secara seimbang demi menghindari adanya tindakan sewenang-wenang oleh termohon terutama dalam menentukan bukti permulaan, bukti permulaan yang cukup dan bukti yang cukup,” pungkasnya.  

Untuk itu, tambah Edy, terbetik keyakinan yang sangat dalam bahwa Hakim dalam perkara ini telah mendapatkan keyakinan mengenai adanya tindakan sewenang-wenang pihak kepolisian.  

“Oleh karenanya, Hakim yang mengadili perkara ini haruslah menyatakan bahwa surat penetapan tersangka, surat perintah penangkapan dan surat perintah penahanan terhadap Ijul, adalah tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan selanjutnya memerintahkan kepada Kapolrestabes Makassar untuk segera membebaskan Ijul dari status sebagai tersangka dan tahanan,” tutup Edy.  

Hingga berita ini diturunkan, Kasubag Humas Polrestabes Makassar, Kompol Supriady Idrus belum merespon upaya konfirmasi Makassartoday.com.

Sekedar diketahui, Ijul ditangkap oleh nggota Kepolisian Polrestabes Makassar sekitar pukul 21.00 Wita di Kantor YLBHI-LBH Makassar dengan sangkaan terlibat secara bersama-sama dalam aksi pembakaran mobil ambulans milik Partai Nasdem di Jalan AP Pettarani (depan kantor Partai NasDem), pada 22 Oktober 2020 sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 170 dan 187 KUHP.

Ijul ditangkap atas dasar pengakuan seorang yang bernama Alim dan bukti pentujuk berdasarkan informasi dari pihak kepolisian yang datang di sekretariat FMN Makassar beralamat di Jalan Tidung III pada 23 Oktober 2020 sekitar pukul 04.20 Wita, saat akan melakukan upaya penangkapan paksa namun berhasil digagalkan oleh kawan-kawan FMN Makassar yang juga pada saat itu bersikeras untuk tidak melepaskan Ijul karena Pihak Kepolisian yang berjumlah sekitar 20 orang tidak menunjukkan surat tugas dan perintah penangkapan.

(Haeril)

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending