Connect with us
alterntif text

Sulsel

Innalillah, Balita Busung Lapar di Maros Meninggal Dunia

Published

on

By

Ilustrasi/Int
alterntif text

Isak tangis pecah tatklah jasad Ferissa, balita berusia 1 tahun dua bulan itu tiba di rumah duka Kompleks Griya Mitra Maros. Ferisa menghembuskan nafas terkahirnya setelah menjalani perawatan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salewangan Maros lantaran diduga menderita gizi buruk, Kamis (3/3) sekira pukul 08.00 Wita.

Bungsu dari enam bersaudara ini sebelumnya ditemukan dalam kondisi memperihatinkan, oleh salah seorang tetangganya bernama Sitti Rabiul Awal, Senin lalu. Sitti sebelumnya membeberkan, kalau Ferissa bersama dua saudaranya ditinggal dalam kondisi kelaparan. Meski begitu, nenek dan cucunya memilih untuk tetap tinggal di dalam rumah kontrakan. Adapun ibu balita malang ini pergi tanpa menyimpan makanan dan hanya meninggalkan uang Rp10 ribu. Saudara almarhum pun terpaksa menjual beberapa buku miliknya untuk membeli mie instan, karena uang yang ditinggal oleh sang ibu sudah habis.

Sementara Risnawati (46), ibu dari balita malang ini tak kuasa menahan tangis di depan jenazah anak bungsunya yang telah terbujur kaku. Sejak ia ditinggal kawin oleh suaminya, Latif (36) yang bekerja sebagai tukang las sekitar tujuh bulan lalu, Risnawati pun terpaksa membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan enam orang anak, ditambah ibunya yang sudah rentah.

“Tidak ada kodong niat ku mau telantarkan anak ku. Terpaksa saya tinggalkan untuk carikan ki uang. Suami ku juga sudah kawin lagi dengan wanita lain. Dia tidak pernah mi kasih biaya ke kami,” ucap Risnawati meratap di depan jenazah putrinya.

Tak hanya keluarga almarhum, cerita pilu Risnawati sontak membuat para tetangganya yang memenuhi rumah duka ikut meneteskan air mata hingga suasana penuh keharuan.

“Kalau ada yang memanggil saya mencuci baju atau mencuci piring, yah itulah pekerjaan saya. Rata-rata saya hanya dapat Rp20 ribu perhari,” tuturnya lagi.

Air mata perempuan berkulit coklat kehitaman ini terus membanjiri pipinya. Ia mengaku pernikahannya dengan Latif yang telah dikaruniai tujuh orang anak selama tujuh tahun berjalan harmonis. Namun tak tahu mengapa belakangan suaminya itu tega meninggalkan dirinya.

Risnawati yang mencoba menyembunyikan perasaannya, mengaku rela jika ada pihak yang mau mengadopsi anak-anaknya. Ia merasa sudah tidak sanggup menutupi kebutuhan anak-anaknya, apatah lagi tiga orang diataranya sudah masuk usia sekolah. Bahkan, salah seorang anaknya yang pernah duduk dibangku kelas enam, harus berhenti lantaran kondisi ekonomi dan keluarganya yang tidak memungkinkan.

“Saya ikhlaskan anak saya diadopsi oleh orang lain. Tapi sebelumnya, berikan mereka (anak-anaknya) pilihan, apakah masih tetap ingin bersama ibunya atau tidak,” lanjutnya.

Kepala Bidang Penanganan Sosial Dinas Sosial Maros, Nur Ani yang datang melayat ke rumah duka ikut larut dalam suasana haru. Dia ikut memendikan jasad balita malang itu sebelum dimakamkan di pemakaman umum Caddika, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. “Ini sudah persoalan kemanusiaan, saya pribadi sangat sedih melihat kondisi mereka,” ucap Nur Ani.

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending

Copyright © 2015 makassartoday.com. All Right Reserved.