Connect with us
alterntif text

Politik

Pengamat Dorong Konsensus di Musda Demokrat Sulsel

Published

on

By

alterntif text

Makassartoday.com, Makassar – Dinamika politik jelang Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sulsel, menjadi perhatian pengamat.

Dua kandidat ketua, yakni Ni’matullah (Ulla) dan Ilham Arif Sirajuddin (IAS) sama-sama meraih dukungan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) sebagai syarat usulan dan penetapan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Persaingan ketat antar kedua kandidat itu juga tergambar dari berbagai manuver yang muncul jelang Musda. Salah satunya isu penolakan Laporan Pertanggungjawaban (LPj), Ulla sebagai incumbent.

Direktur Nurani Strategic Consulting, Nurmal Idrus mengatakan, politik konsensus menjadi winwin solution dalam menghadapi dinamika politik di Musda Demokrat Sulsel.

“Tidak boleh ada yang merasa terkalahkan, di politik tidak boleh ada dukungan yang berkurang atau mencederai. Tujuan utama partai yaitu memenangkan banyak dukungan. DPP harus melihat apa yang sudah diperoleh Ulla dan IAS. Terlalu berisiko kalau salah satu diantaranya dimatikan,” terang Nurmal, Selasa (21/12/2021).

Murmal melihat dua kandidat Ketua Demokrat Sulsel sama-sama miliki kelebihan dan kekurangan. Dari pengamatannya, Ulla selama ini dikenal loyal kepada partai, sementara IAS memiliki elektoral dengan pengalaman mengikuti kontestasi pilkada.

“Tergantung DPP nantinya mau melihat calon seperti apa. Kalau AHY ingin stabilitas maka pilihannya ke calon yang loyal terhadap partai. Tapi kalau pertimbangannya menang di Pemilu 2024, maka yang bisa memberi harapan yang punya elektoral,” sebutnya.

Meski begitu, Nurmal tetap menekankan agar manover politik dua kubu kandidat di Musda Demokrat Sulsel, tetap disikapi dengan konsensus.

“Kita harap tidak sampai timbul perpecehan dan DPP bisa merangkul semuanya,” kunci Nurmal, mantan Ketua KPU Makassar itu.

Sementera Pengamat Politik dan Pemerintahan, Dr. Firdaus Muhammad mengatakan, kedua kandidat baik Ulla dan IAS punya tradrecord yang sama pernah memimpin DPD Demokrat Sulsel.

“Keduanya pernah memimpin Demokrat Sulsel. Kalau pak IAS punya pengalaman pilkada, sedangkan pak Ulla politisi aktif di DPRD Sulsel dan berhasil mempertahankan kursi Demokrat,” kata Firdaus yang juga Dosen Komunikasi Politik UIN Alauddin Makassar itu.

Terkait peluang keduanya, Firdaus mengatakan hal itu tergantung manuver kedua kandidat untuk mempengaruhi dukungan DPC.

Lebih jauh Firdaus mengatakan, penetapan Ketua DPD saat ini masih di bawah pengaruh mantan Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurutnya, SBY mengetahui secara detail kontribusi dua kandidat Ketua DPD Demokrat Sulsel tersebut.

“Waktu KLB, pak Ulla pernah pasang badan, sedangkan pak IAS punya prospek maju di pilgub. Tapi saya kira ada pertimbangan lain. SBY juga tahu kontribusi kedunya,” kata Firdaus.

Disinggung soal kader mbalelo ke Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat beberapa waktu lalu, Firdaus menilai dapat disikapi melalui penguatan kaderisasi.

“Orang yang terlibat KLB dianggap kader cacat, tapi jangan deliminir, jangan sampai diabaikan, karena bisa menggembosi partai. Kaderisasi sebagai langkah penguatan bagi mereka yang mbalelo kemarin,” kata Firdaus.

Firdaus juga berharap, kader-kader muda di luar dari dua kandidat dapat menjadi pilihan alternatif dalam Musda Demokrat Sulsel.

“Bukan soal berapa banyak suara mereka, tapi kader-kader muda juga butuh diberi ruang agar proses kaderisasi di Demokrat benar-benar berjalan,” harapnya.

(rl/*)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending

Copyright © 2015 makassartoday.com. All Right Reserved.