Connect with us
alterntif text
alterntif text
alterntif text

Ramadan

Ghibah di Bulan Ramadan, Bagaimana Hukumnya?

Published

on

By

alterntif text

Makassartoday.com, Makassar – Ghibah di bulan Ramadan, bisa membatalkan ibadah puasa yang sedang dijalani atau tidak, ya? Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di benak kita.

Tak dimungkiri, sebagai makhluk sosial, kita tentu kerap berbagi cerita dengan orang-orang di sekitar. Di antara cerita-cerita yang kita ungkapkan, bisa saja secara sengaja atau tidak, kita membicarakan orang lain.

Menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain dikenal dengan sebutan ghibah. Di bulan Ramadan, kadang kala kita terjebak di situasi ‘ghibah’ seperti ini yang sulit untuk dihindari. Namun, apakah puasa kita akan batal? Bagaimana hukumnya melakukan ghibah di bulan ramadan?

Hukum Ghibah di Bulan Ramadan

Ketika berpuasa, kita tidak hanya diperintahkan untuk menahan lapar dan haus. Selain daripada itu, umat Islam juga diharuskan untuk bisa menahan hawa nafsunya, yaitu menahan diri dari hal-hal yang dapat mencederai nilai ibadah puasa yang dijalani.

Advertisement

Salah satunya adalah menjaga lisan dari perkataan yang dapat mengumbar aib seseorang. Ya, ghibah atau bergunjing tentang keburukan orang lain adalah tindakan yang tercela. Ghibah tentu saja tidak dibenarkan di dalam Islam.  Baik itu dalam keadaan sedang berpuasa maupun tidak, ghibah tetap tidak diperbolehkan.

Sering kali karena sudah menjadi kebiasaan, ghibah dilakukan dengan tidak sengaja. Kita pun merasa cukup sulit untuk menghindarinya. Lalu, apakah ghibah dapat membatalkan puasa?
Dikutip dari laman NU Online, Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam Kitab Busyrol Karim mengatakan sebagai berikut.

“Dusta dan ghibah semestinya dijauhi terutama oleh mereka yang sedang berpuasa, meskipun menjauhi dua sifat tercela itu pada substansinya memang wajib. Sekalipun keduanya terpaksa dibolehkan untuk kepentingan mendamaikan pihak bertikai atau kepentingan bercerita terkait penganiayaan yang dilakukan seseorang, maka orang yang berpuasa sebaiknya menghindari dua jalan tadi.”

Sama seperti berdusta, ghibah merupakan perbuatan yang dapat merusak nilai pahala puasa. Hal ini juga disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

“Orang yang tidak menjauhi perkataan dusta dan mengamalkan dustanya, maka tidak ada hajat bagi Allah untuk menilai puasanya di mana ia bersusah payah seharian menjauhi makanan dan minuman.”

Advertisement

Jadi, sudah sangat jelas meskipun ghibah di bulan Ramadan tidak membatalkan puasa, tetapi ibadah puasa yang kita jalani akan menjadi sia-sia. Sehingga sangat disayangkan, kita sudah menahan haus dan lapar seharian, tetapi puasa yang kita laksanakan tidak memiliki nilai di mata Allah SWT karena kita yang tidak bisa menahan diri untuk berghibah.

Allah SWT sangat melarang umat Islam untuk melakukan perbuatan tercela seperti ghibah. Bahkan, membicarakan keburukan orang lain diibaratkan dengan memakan bangkai saudara sendiri.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 12:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya:

“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Advertisement

Ole karena itu, alangkah baiknya kita menghindari ghibah, apalagi ketika sedang berpuasa seperti saat ini.

(BS)

BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending