Connect with us
alterntif text

Internasional

Hari Kesehatan Mental Sedunia, Tema dan Sejarahnya!

Published

on

By

alterntif text

Makassartoday.com, Makassar – Hari Kesehatan Mental Sedunia atau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) diperingati setiap tahunnya pada tanggal 10 Oktober, untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa.

HKJS tahun 2022 ini merupakan peringatan yang ke-28 mengusung tema ”Make Mental Health and Well Being for all a Global Priority‘ atau ”Jadikan kesehatan mental untuk semua sebagai prioritas global”.

Peringatan HKJS merupakan salah satu momentum untuk mengkampanyekan bahwa semua orang berhak mendapatkan layanan kesehatan jiwa yang berkualitas dan perlunya upaya bersama berbagai pihak untuk mencegah dan mengendalikan masalah kesehatan jiwa.
Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2022

Pulih Bersama Generasi Sehat Jiwa
Salam Sehat Jiwa dan Salam CERIA:

Cerdas intelektual emosional dan spiritual,

Empati dalam berkomunikasi  efektif

Rajin beribadah sesuai agama dan keyakinan

Interaksi yang bermanfaat bagi kehidupan, A Asah, asih, asuh tumbuh kembang dalam keluarga dan masyarakat.

Dikutip dari WFMH Global, negara-negara berpenghasilan tinggi memiliki laporan bahwa lebih dari 75 persen penduduknya yang mengidap depresi tidak menerima perawatan yang memadai. Dengan angka yang sama pula, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak memberikan pengobatan sama sekali kepada pengidap gangguan mental.

WHO sendiri telah mengonfirmasi pandemi COVID-19 telah menciptakan krisis global untuk kesehatan mental, memicu tekanan jangka pendek dan jangka panjang, serta merusak kesehatan mental jutaan orang.

Sekretaris Jenderal PBB mengatakan bahwa, tanpa tindakan tegas, dampak krisis tersebut dapat berlangsung jauh lebih lama daripada pandemi itu sendiri. Hal ini pun mendesak pemerintah untuk bertindak memperbaiki ketidaksetaraan mencolok yang diekspos oleh pandemi, termasuk akses ke pelayanan kesehatan jiwa.

Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun harus peduli tentang hal tersebut, baik untuk diri sendiri maupun orang di sekitarnya. Daripada mendiskriminasi orang-orang dengan sebutan ‘gila’, sebaiknya masyarakat lakukan hal positif untuk memajukan kesehatan mental dan jiwa.

Sejarah Hari Kesehatan Mental Sedunia

Dikutip dari NationalToday, sejak masalah kesehatan mental muncul di berbagai negara, WFMH tahu bahwa mereka perlu bertindak dalam skala global untuk menyelesaikan krisis tersebut. Maka dari itu, Hari Kesehatan Mental Sedunia dibentuk pada 1992 melalui itikad baik WFMH yang dipimpin oleh wakil sekretaris jenderal saat itu bernama Richard Hunter.

Tujuannya utama mereka adalah mengadvokasi dan mensosialisasikan tentang kesehatan mental secara keseluruhan. Kampanye ini dimulai dari siaran televisi yang berlangsung selama dua jam di seluruh dunia saat tiga tahun pertama peresmiannya. Siaran tersebut berisi penayangan pesan-pesan secara visual yang bersifat kemanusiaan untuk memberikan penjelasan betapa pentingnya menjaga kesehatan mental manusia.

Hasil yang mereka harapkan pun terjadi. Sebanyak 27 negara mengirimkan laporan umpan balik setelah adanya penayangan tersebut dan dibantu dengan kampanye nasional di Australia dan Inggris. Untuk melanjutkan momentum ini, anggota dewan WFMH di seluruh dunia pun mengatur rangkaian acara lain karena popularitasnya kian meningkat di antara departemen pemerintah, organisasi, dan warga sipil.

Mulai 1995 dan seterusnya, Pan American Health Organization (PAHO) mengatur penerjemahan materi perencanaan kesehatan mental ke dalam bahasa Spanyol, Prancis, Rusia, India, Jepang, Cina, dan Arab agar makin banyak populasi dunia yang mengerti tentang pesan WFMH. Akibatnya, warga sipil mulai paham mengenai persepsi kesehatan mental dan menjadikannya identik dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

(BS)

alterntif text
BAGIKAN:
Advertisement
Comments

Trending

Copyright © 2015 makassartoday.com. All Right Reserved.