By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Makassar TodayMakassar TodayMakassar Today
  • NEWS
    • Metro
    • Sulawesi Selatan
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • BISNIS
    • Finance
    • Saham
    • Macro Ekonomi
    • Forex
  • HIBURAN
    • Film
    • Musik
    • Selebriti
  • LIFESTYLE
    • Health
    • Recipes
    • Travel
    • Fashion
  • OLAHRAGA
  • TEKNO
  • CITIZEN JURNALIS
  • OPINI
Reading: Aroma Busuk dari Samping Ruang Kelas SD Inpres Perumnas
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Makassar TodayMakassar Today
Font ResizerAa
  • NEWS
  • BISNIS
  • HIBURAN
  • LIFESTYLE
  • OLAHRAGA
  • TEKNO
  • CITIZEN JURNALIS
  • OPINI
Cari Berita
  • NEWS
    • Metro
    • Sulawesi Selatan
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • BISNIS
    • Finance
    • Saham
    • Macro Ekonomi
    • Forex
  • HIBURAN
    • Film
    • Musik
    • Selebriti
  • LIFESTYLE
    • Health
    • Recipes
    • Travel
    • Fashion
  • OLAHRAGA
  • TEKNO
  • CITIZEN JURNALIS
  • OPINI
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Makassar Today > Blog > Sulsel > Aroma Busuk dari Samping Ruang Kelas SD Inpres Perumnas
Sulsel

Aroma Busuk dari Samping Ruang Kelas SD Inpres Perumnas

admin
admin
Share
4 Min Read
Tumpukan sampah di samping SD Inpres Perumnas II./Foto:Ist
SHARE

Makassartoday.com, Makassar – Terdengar suara lirih Bu Emi, salah satu guru kelas di SD Inpres Perumnas II, Jalan Bonto Dg Ngirate , Komplek Inpres Perumnas di Rappocini, mencoba memimpin doa, pada Rabu (19/11/2025), pagi.

Namun, suaranya tenggelam oleh gelombang protes spontan yang meledak dari mulut-muridnya.

“Botto’na!!!”

Teriak pertama itu, dengan intonasi tinggi dan khas dialek Makassar yang ceplas-ceplos, memecah konsentrasi. Sebelum Bu Emi bereaksi, teriak kedua, ketiga, dan seterusnya menyusul bak rantai reaksi. “Botto’na, iyye!”

Periklanan
Ad imageAd image

Jendela kelas yang menghadap langsung ke tumpukan sampah di sisi sekolah, bagai panggung terbuka bagi aroma yang tak tertahankan.

Bau busuk yang menusuk hidung, asam, dan pekat itu merayap masuk, mengisi setiap sudut ruang kelas di kompleks Perumnas Rappocini itu. Ia bukan lagi sekadar bau, tapi sudah menjadi “soal rasa” sebuah ujian nyata terhadap kesabaran dan ketahanan hidung.

Bu Emi hanya bisa terdiam, tangannya terkulai. Jurus-jurus andalannya dengan wejangan-wejangan tentang pentingnya belajar rontber di hadapan “serangan” aroma yang nyata dan massal ini.

Dia tak berdaya. Bagaimana mungkin melawan musuh yang tak kasat mata, tapi begitu perkasa menguasai atmosfer yang sumbernya dari onggokan sampah dari ujung pasar lorong yang bersebelahan dengan dinding gedung sekolah? Inilah potret buram di balik tembok-tembok sekolah yang rapi.

Sebuah ironi bahwa tempat menimba ilmu justru berbatasan langsung dengan sumber polusi. Kelas yang seharusnya menjadi ruang imajinasi dan eksplorasi, hari-harinya berubah menjadi ruang pertahanan terhadap aroma busuk.

Dan di tengah situasi itu, protes anak-anak itu justru jujur, spontan, dan kental identitas. “Botto’na” bukan sekadar kata. Itu adalah ekspresi kultural, sebuah penolakan yang diwariskan oleh leluhur mereka, orang Bugis-Makassar, untuk menggambarkan sesuatu yang sudah sangat tidak mengenakkan. Teriakan itu adalah sensor alami mereka, bahasa lokal yang lebih efektif daripada ribuan kata-kata protes resmi.

Momen ini lebih dari sekadar gangguan. Ini adalah dokumen hidup tentang bagaimana lingkungan yang tidak sehat membajak proses belajar. Tentang bagaimana guru, pahlawan tanpa tanda jasa, harus berhadapan dengan masalah yang akar penyebabnya ada di luar kendali pedagogis mereka.

Lalu, apa artinya memajukan pendidikan nasional jika sekolah-sekolah kita masih dikepung oleh “soal rasa” semacam ini? Ketika anak-anak lebih dulu belajar menahan bau sebelum menyerap pelajaran?

Menyikapi hal itu Ketua Forum Komunitas Hijau, Achmad Yusran mengatakan. permasalahan bau busuk yang melanda lingkungan SD Inpres Perumnas II, adalah cermin kegagalan bersama dalam menjaga lingkungan yang sehat untuk anak-anak kita.

“Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar yang nyaman, penuh inspirasi, dan bebas dari polusi.

Teriakan spontan ‘Botto’na’ dari para siswa, adalah panggilan mendesak yang mesti kita dengar sebagai alarm nyata,”jelas Yusran saat meninjau langsung onggokan sampah samping SD Inpres Perumnas II, Rabu (19/11/2025).

Forum Komunitas Hijau bertekad mengawal dan mendorong semua pihak terkait agar segera mengambil langkah konkrit dalam mengelola sampah dan memperbaiki kualitas udara di sekitar sekolah.

“Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga masa depan bangsa yang bermula dari udara bersih yang mereka hirup setiap hari di ruang belajar.

Fenomena yang terjadi di SD Inpres Perumnas II, bukan sekadar persoalan bau atau kenyamanan sesaat. Ini cerminan nyata dari kegagalan kita dalam menjaga lingkungan dan memberikan ruang yang sehat untuk tumbuh kembang anak-anak,”katanya.

Menurut Yusran, teriakan ‘Botto’na’ dari anak-anak itu adalah alarm bagi kita semua, pemerintah daerah, warga, dan semua pemangku kepentingan untuk segera bertindak serius mengatasi sampah dan sumber polusi yang merusak kualitas pendidikan.

“Intinya kami berkomitmen untuk mengawal penyelesaian masalah ini hingga tuntas, mendorong pelibatan masyarakat dan pemerintah agar lingkungan belajar menjadi bersih, sehat, dan layak huni. Karena masa depan bangsa berawal dari udara yang mereka hirup setiap hari di kelas.”Yusran memungkasi.

(**)

You Might Also Like

Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Syahrial, Korban Jatuh dari Tebing Selayar

BMKG: Puncak Musim Hujan di Sulsel Berlalu, Kini Memasuki Masa Pancaroba

Prakiraan Cuaca Lengkap Sulawesi Selatan untuk Senin 2 Maret 2026

Semarak Ramadan di Sungguminasa, WASILAH 95 Padukan Reuni dan Kajian Keislaman

Jauh-Jauh Hari! Menhub Dudy Kumpulkan Stakeholder di Makassar, Matangkan Skenario Mudik Lebaran 2026

admin November 19, 2025 November 19, 2025
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Previous Article Basarnas Siaga SAR Khusus Selama Libur Nataru 2025-2026
Next Article Basarnas Tutup Operasi Pencarian Seorang Kakek di Hutan Panyikkokang
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Periklanan
Ad imageAd image

Sosial Media Kami

13.4k Followers Like
1.7k Followers Follow
182 Subscribers Subscribe

Berita Terbaru

KPK Ungkap Modus ‘Perusahaan Ibu’ di Balik Korupsi Bupati Pekalongan
Nasional Maret 5, 2026
Lupa Mandi Wajib Hingga Imsak, Apakah Puasa Tetap Sah? Simak Penjelasan Hadisnya
Religi Maret 5, 2026
Jadwal Buka Puasa Makassar Hari Ini, Kamis 5 Maret 2026: Cek Waktu Maghrib dan Isya
Religi Maret 5, 2026
Setahun Kepemimpinan MULIA, 8.854 Tenaga Honorer Makassar Diangkat Jadi PPPK
Metro Maret 5, 2026
Makassar TodayMakassar Today
Follow US
© Makassartoday 2023.
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?