Makassartoday.com, Maros — Seekor lumba-lumba ditemukan tersesat di kawasan mangrove Pantai Kuti-Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, pada Selasa (2/2/2026) pagi.
Peristiwa langka ini sontak menggerakkan warga untuk melakukan evakuasi darurat. Dengan gotong royong, warga menyelamatkan satwa laut (Lumba-lumba) yang terperangkap di antara akar-akar mangrove yang rimbun.
Tubuhnya berkilau basah diterpa sinar matahari pagi, napasnya terengah dengan ritme yang mencerminkan kegelisahan satwa laut yang berada di habitat yang tidak semestinya.
Warga yang berdatangan segera bergotong royong menggunakan peralatan seadanya. Dengan hati-hati, mereka mengarahkan lumba-lumba menuju perairan yang lebih dalam. Setelah beberapa saat, upaya kolektif itu berhasil, dan mamalia laut tersebut akhirnya dapat kembali berenang bebas ke habitatnya.
Mengapa Lumba-Lumba Bisa Tersesat?
Menurut pengamatan awal, lumba-lumba jarang memasuki kawasan mangrove, kecuali sedang mengalami disorientasi. Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab adalah perubahan pola arus, fluktuasi suhu atau salinitas, hingga gangguan akustik akibat kebisingan mesin kapal yang memecah sistem navigasi sonar alami mereka.
Kejadian ini memantik renungan di tengah masyarakat, yaitu perubahan kecil pada ekosistem laut dapat menjadi indikasi ketidakseimbangan yang lebih besar.
Pesan Moral dari Peristiwa Alam
Achmad Yusran menyoroti aspek ekologis dan budaya dari kejadian tersebut. Ia mengutip filosofi kuno masyarakat Sulawesi tentang makna “yang tersesat” sebagai tanda bahwa harmoni alam tengah goyah.
“Apakah ini hanya kebetulan, atau panggilan bagi kita untuk menjernihkan kembali hubungan dengan laut?” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya pelestarian ekosistem pesisir dan pengendalian aktivitas manusia yang dapat mengganggu kehidupan laut.
Makna Ekologis dan Kebudayaan Lokal
Secara ilmiah, lumba-lumba mengandalkan sonar untuk membaca lingkungan. Kebisingan kapal atau gangguan ekosistem dapat mengacaukan orientasi mereka, memaksa satwa-satwa ini memasuki zona yang tidak aman.
Dalam pandangan budaya lokal, mangrove bukan sekadar benteng ekologi, tetapi juga ruang simbolik yang dianggap menyimpan pesan alam.
Akar-akar bakau yang memeluk lumpur seakan merekam perubahan yang terjadi di laut, perubahan yang kerap lebih cepat daripada kemampuan makhluk di dalamnya untuk beradaptasi.
Peringatan Sunyi dari Alam
Usai evakuasi, hamparan mangrove kembali hening, namun meninggalkan pesan kuat: setiap makhluk yang tersesat membawa cerita tentang keseimbangan ekosistem yang tengah diuji.
Peristiwa di Kuti-Caddi menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan laut bukan sekadar keterhubungan geografis, melainkan juga moral dan ekologis.
Di tengah pesatnya aktivitas pesisir, panggilan alam ini mengajak masyarakat untuk lebih peduli, menjaga, dan merawat ruang hidup yang kita bagi dengan makhluk lainnya.
Lumba-lumba tersesat di kawasan seperti Pantai Kuti-Caddi, Maros, Sulawesi Selatan, sering disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan antropogenik.
Penyebab Utama Spesifik Maros
Kasus sebelumnya di Maros (2021) menunjukkan lumba-lumba terbawa arus pasang masuk ke sungai atau empang melalui muara, lalu terjebak karena jarak jauh dari laut (sekitar 5 km).
Warga menduga mamalia itu mengejar mangsa saat pasang, lompat dari aliran sungai ke tambak, atau mengalami disorientasi di perairan dangkal dekat mangrove. Luka gores dari akar bakau juga ditemukan, memperburuk kondisi mereka.
Faktor Ekologis Umum
Navigasi akustik lumba-lumba terganggu oleh fluktuasi suhu, salinitas, arus kuat, atau kebisingan kapal yang memecah gema sonar mereka.
Aktivitas manusia seperti polusi, pengembangan pantai, dan noise dari perahu memperburuknya, sementara perubahan iklim meningkatkan risiko dengan mengubah pola arus dan habitat. Kesalahan navigasi kelompok, sakit, atau predator juga berkontribusi.
(**)
