Makassartoday.com, Makassar – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, kawasan Pecinan di Kota Makassar, khususnya di sekitar Jalan Sulawesi dan Pasar Bacan, mulai bersolek. Aroma hio yang khas berpadu dengan wangi manis legit dari berbagai penganan tradisional yang mulai membanjiri lapak pedagang. Namun, di balik kemeriahan visual tersebut, Imlek di Makassar menyimpan kedalaman makna yang jauh melampaui sekadar perayaan penanggalan.
Lebih dari Ritual: Perayaan Musim Semi dan Etika
Budayawan Tionghoa Sulawesi Selatan sekaligus pencetus Jappa Jokka Cap Go Meh, Moehammad David Aritanto, menjelaskan bahwa pada dasarnya Imlek bukanlah perayaan ritual agama semata. Sejarah mencatat Imlek sebagai perayaan syukur atas panen raya yang melimpah di musim semi pada zaman Tiongkok kuno.
“Imlek adalah bahasa suku Hokkian, bukan Mandarin. Istilah ini populer di Indonesia karena mayoritas perantau berasal dari suku Hokkian,” ungkapnya.
David menambahkan bahwa bagi pengikut Khong Hu Cu, momen ini menjadi ritual syukuran untuk menghormati ajaran tentang kearifan lokal, bakti kepada orang tua, dan keharmonisan bermasyarakat.
Simbolisme di Atas Meja Makan
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Makassar, doa dan harapan diwujudkan melalui sajian kuliner yang sarat akan pesan simbolis:
Kuliner dan Makna Filosofis
- Kue Keranjang (Nian Gao)
Terbuat dari ketan (simbol perekat persaudaraan) dan gula (harapan hidup manis). Bentuk bulatnya melambangkan keutuhan rumah tangga. - Mie Panjang Umur (Siu Mie)
Disajikan tanpa dipotong sebagai simbol harapan umur panjang yang tidak terputus. - Ikan Bandeng Utuh
Dalam bahasa Mandarin, ikan (Yu) terdengar seperti kata “surplus”. Menyajikan ikan utuh melambangkan awal dan akhir tahun yang baik. - Jeruk Mandarin
Warna oranye cerah identik dengan emas, melambangkan kekayaan dan keberuntungan (Ji). - Lapis Legit
Simbol rezeki dan hoki yang datang berlapis-lapis di tahun yang baru.
Akulturasi dan Refleksi Budaya
Kehadiran ikan bandeng jumbo dari Pasar Paotere sebagai hidangan utama menunjukkan akulturasi yang indah antara tradisi Tionghoa dengan kekayaan lokal Makassar. Makanan bukan sekadar nutrisi, melainkan medium komunikasi spiritual dan sosial.
Melalui deretan hidangan ini, warga Tionghoa di Makassar merawat warisan leluhur sembari menyisipkan doa-doa baik untuk keluarga dan kota tercinta. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa di balik lezatnya kuliner, tersimpan rasa syukur dan harapan yang tak pernah putus.
Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakan! Gong Xi Fa Cai.

