Makassartoday.com, Singapura – Pemerintah Singapura melalui Badan Penyakit Menular (CDA) mengumumkan akan melonggarkan sejumlah langkah kesehatan masyarakat terkait virus Nipah mulai hari ini, Senin 23 Februari 2026. Keputusan ini diambil menyusul tidak adanya laporan kasus infeksi tersebut di wilayah Singapura hingga saat ini.
Dalam pernyataan resminya pada Jumat (20/2) lalu, CDA menyebutkan bahwa situasi wabah virus Nipah di negara tetangga seperti India dan Bangladesh telah menunjukkan tren stabil.
“Situasi infeksi virus Nipah di Benggala Barat, India, telah stabil tanpa adanya laporan kasus baru. Begitu juga di Bangladesh, di mana tidak terdeteksi adanya transmisi virus dari manusia ke manusia,” tulis pernyataan CDA sebagaimana dikutip dari The Straits Times.
Seiring dengan pelonggaran ini, otoritas Singapura akan menghentikan prosedur pemeriksaan suhu tubuh di bandara dan pelabuhan bagi penumpang yang datang dari wilayah terdampak. Selain itu, penyebaran brosur anjuran kesehatan khusus virus Nipah di titik-titik masuk negara juga akan dihentikan.
Meski demikian, CDA menegaskan bahwa pihaknya tetap berada dalam posisi waspada tinggi. Singapura akan kembali ke tingkat pengawasan dasar (baseline surveillance) guna memastikan deteksi dini jika risiko kembali muncul.
“Virus Nipah akan tetap masuk dalam cakupan deklarasi kesehatan SG Arrival dan Maritime Declaration of Health. Wisatawan yang datang tetap diwajibkan menyatakan jika mereka baru saja mengunjungi area terdampak melalui kartu kedatangan mereka,” tambah badan tersebut.
Sementara itu, Kementerian Tenaga Kerja (MOM) Singapura tetap akan mempertahankan langkah pengawasan di pusat-pusat penampungan bagi pekerja migran yang baru tiba. Para pekerja terus diingatkan untuk menjaga kebersihan diri dan segera mencari bantuan medis jika merasa tidak enak badan.
Sebagai informasi, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, atau melalui makanan yang terkontaminasi dan kontak langsung antarmanusia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, dan hingga saat ini belum memiliki vaksin yang disetujui.
CDA menyatakan akan terus memantau situasi global secara ketat dan siap untuk menyesuaikan kembali kebijakan kesehatan masyarakat jika terdapat informasi baru yang menunjukkan peningkatan risiko bagi Singapura.

