Makassartoday.com, San Francisco – Dunia baru saja menyaksikan sebuah tonggak sejarah finansial yang mencengangkan. Elon Musk, maestro di balik Tesla dan SpaceX, resmi dinobatkan sebagai manusia pertama dalam sejarah dengan kekayaan menembus 852 miliar dollar AS atau setara dengan Rp14.387 triliun. Namun, di balik gunung harta tersebut, Musk justru melempar pernyataan yang memicu perdebatan global: ia tidak bahagia.
Lonjakan kekayaan Musk yang fantastis ini tidak terjadi begitu saja. Berdasarkan laporan Forbes dan Bloomberg awal Februari 2026, nilai kekayaan Musk meroket setelah merger strategis antara perusahaan kedirgantaraannya, SpaceX, dengan startup kecerdasan buatan miliknya, xAI.
Langkah ini menciptakan entitas teknologi baru dengan valuasi yang memecahkan rekor, memperkokoh posisi Musk sebagai orang terkaya di bumi, jauh melampaui para pesaingnya di Silicon Valley.
Meski secara kertas ia bisa membeli hampir apa saja di planet ini, Musk mengungkapkan sisi melankolisnya melalui platform media sosial X (sebelumnya Twitter). Dalam sebuah unggahan yang kini telah dilihat lebih dari 60 juta kali, ia menuliskan kalimat singkat namun sarat makna.
“Siapa pun yang mengatakan ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan’ benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan,” tulis Musk sembari menyematkan emoji wajah sedih.
Pernyataan ini segera memicu gelombang reaksi dari netizen. Sebagian besar memberikan simpati atas tekanan mental yang mungkin ia hadapi dalam memimpin berbagai perusahaan revolusioner, sementara yang lain menanggapinya dengan sinisme, menyarankan Musk untuk mencoba “berbagi kekayaan” sebagai terapi kebahagiaan.
Mengapa Kekayaan Tak Cukup?
Para analis perilaku dan psikolog ekonomi mencatat bahwa fenomena yang dialami Musk bukanlah hal baru di kalangan elit dunia. Beberapa faktor yang disinyalir menjadi penyebab ketidakbahagiaan Musk antara lain:
Tekanan Inovasi: Ambisinya untuk mengkolonisasi Mars dan mengubah Tesla menjadi perusahaan robotik sepenuhnya memberikan beban kerja yang ekstrem.
Kesepian di Puncak: Hubungan pribadi yang kompleks dan pengawasan publik yang tak henti-hentinya menciptakan isolasi sosial.
Paradoks Adaptasi Hedonik: Di mana pencapaian materi yang luar biasa lama-kelamaan kehilangan efek “bahagia”-nya bagi sang pemilik.
Meski mengaku tak bahagia, Musk tampaknya belum akan mengendurkan langkahnya. Dengan paket kompensasi Tesla yang baru saja disetujui pemegang saham, harta pria berusia 54 tahun ini diprediksi akan terus membengkak, terlepas dari apakah itu akan membawa senyum di wajahnya atau tidak.
(bs)

