Makassartoday.com, Makassar – Memasuki bulan suci Ramadan, Kota Makassar bertransformasi menjadi surga kuliner bagi para pemburu takjil dan penikmat makanan khas daerah. Berbagai sudut kota mulai dipadati warga yang melakukan tradisi ngabuburit sembari mencari hidangan berbuka puasa yang menggugah selera.
Pemerintah dan warga setempat menyajikan panduan lengkap mengenai pusat kuliner musiman dan pilihan hidangan tradisional yang populer selama bulan suci ini. Hal ini menjadi peta jalan kuliner bagi siapa pun yang ingin menikmati kekayaan cita rasa lokal di tengah suasana religius kota.
Titik Utama Perburuan Takjil
Beberapa lokasi ikonik menjadi sorotan utama warga lokal dalam berburu camilan berbuka:
Pasar Jalan Mappanyukki: Dikenal sebagai pusat takjil legendaris paling ramai di Makassar yang menyuguhkan ribuan jenis kue tradisional dan minuman segar.
Karebosi Ramadan Fair 2026: Berlokasi di Lapangan Karebosi, tempat ini diprediksi menjadi magnet besar dengan kehadiran hingga 150 UMKM kuliner.
Pantai Losari: Menawarkan pengalaman menikmati Pisang Epe sembari menunggu waktu Magrib dengan pemandangan laut yang mempesona.
Pasar Cidu (Jl. Tinumbu): Destinasi favorit bagi pemburu street food dengan harga yang lebih terjangkau atau ramah di kantong.
Pilihan untuk Milenial dan Keluarga
Bagi kalangan milenial yang mencari suasana lebih tertata dan modern, Pasar Ramadan Gedung Mulo di Jalan Jend. Sudirman menjadi pilihan utama. Selain area duduk yang nyaman, lokasi ini juga menghadirkan hiburan live music untuk menemani waktu berbuka.
Menu Ikonik yang Wajib Dicicipi
Ramadan di Makassar tidak lengkap tanpa deretan menu khas yang menduduki “kasta tertinggi” kuliner lokal:
Kudapan Manis: Es Pisang Ijo dan Es Pallu Butung tetap menjadi primadona hidangan segar.
Gorengan Khas: Jalangkote yang renyah dengan saus pedas-asam khas Makassar.
Hidangan Berat: Coto Makassar, Konro Bakar dengan bumbu kacang, serta Pallubasa yang gurih dengan taburan kelapa sangrai.
Dengan beragamnya pilihan lokasi dan kekayaan cita rasa ini, Ramadan di Makassar bukan sekadar menjalankan ibadah, melainkan juga menjadi perayaan budaya kuliner yang mempererat kebersamaan antarwarga.

