Makassartoday.com, Tel Aviv – Kondisi keamanan di Tel Aviv dan wilayah sekitarnya dilaporkan sangat tegang pada Senin (2/3/2026). Hal ini terjadi setelah gelombang serangan rudal balistik dari Iran menghantam pusat kota selama akhir pekan, yang memicu kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa.
Menurut laporan dari layanan darurat Israel, Magen David Adom (MDA), seorang wanita dilaporkan tewas di wilayah Tel Aviv akibat luka-luka dari serangan rudal Iran pada Sabtu malam. Selain itu, setidaknya 20 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk seorang pria berusia 40 tahun yang berada dalam kondisi kritis akibat terkena serpihan rudal (shrapnel).
Beberapa ledakan besar dilaporkan terdengar di Tel Aviv dan Yerusalem pada Minggu malam hingga Senin dini hari. Foto-foto satelit dan laporan lapangan dari kantor berita Xinhua menunjukkan petugas penyelamat masih bekerja di lokasi-lokasi ledakan untuk memadamkan api dan mengevakuasi warga dari gedung-gedung yang rusak.
Ketegangan ini berdampak langsung pada operasional publik dan diplomatik:
Bandara Ben Gurion Ditutup: Seluruh penerbangan komersial dan charter dari dan menuju Bandara Internasional Ben Gurion telah dihentikan hingga waktu yang belum ditentukan. Maskapai internasional seperti KLM dan Delta telah membatalkan seluruh jadwal penerbangan mereka ke Tel Aviv setidaknya hingga akhir Maret 2026.
Kedutaan Besar AS Tutup: Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem dan kantor konsuler di Tel Aviv resmi ditutup pada Senin, 2 Maret 2026. Pihak Kedutaan menginstruksikan seluruh staf pemerintah dan warga negara AS untuk tetap berada di tempat perlindungan (shelter-in-place).
Konteks Regional: Serangan Balasan
Eskalasi ini merupakan bagian dari konflik terbuka yang lebih luas. Militer Israel menyatakan telah meluncurkan serangan udara “skala besar” ke jantung kota Teheran pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan Iran. Sementara itu, di perbatasan utara, sirene peringatan juga terus berbunyi akibat proyektil yang diluncurkan dari arah Lebanon.
Pemerintah dari berbagai negara, termasuk Singapura, Belanda, dan Australia, telah menaikkan status peringatan perjalanan ke level tertinggi (“Do Not Travel”). Warga di Tel Aviv diinstruksikan untuk segera menuju ruang pelindung (bomb shelter) saat mendengar sirene “Red Alert”.
Warga juga diminta memantau aplikasi peringatan dini dari Home Front Command serta menghindari kerumunan dan area dengan kehadiran polisi yang padat.

